Kolom Sosial Politik

Kalah PENASARAN, Menang KETAGIHAN

466views

 

Oleh Ridhazia

Itulah judi. Mungkin menjadi alasan paling klasik dibalik pernyataan mengapa judi “seusia dengan peradaban manusia”.

Buktinya, meski kerap dianggap sebagai kejahatan, bahkan dilecehkan sebagai ekstase kebahagiaan semu, hingga diancam ke neraka, toh judi tetap saja ada.

Yang berubah hanya mediumnya saja. Sebagaimana judi on line di era internet yang sedang ramai dibincangkan di negeri ini.

Basis spekulasi

Judi itu basisnya spekulasi. Yakni tindakan mengadu nasib. Tebak-tebakan. Atau rugi-rugian.

Probabilitas untuk menang sangat rendah. Atau lebih sering kalah karena resikonya berjudi tidak bisa diperhitungkan secara rasional. Peluang jumlah hasil yang diinginkan dengan jumlah total hasil yang tidak mungkin terjadi.

Perspektif Islam

Dalam ajaran Islam bentuk spekulasi merupakan tindakan yang dilarang karena termasuk kedalam kategori gharar atau maysir.

Secara harfiah, gharar dan maysir mempunya arti yang berbeda-beda. Gharar artinya “ketidak jelasan dalam transaksi” sedangkan maysir adalah “mendapat keuntungan secara instan atau mudah seperti judi”.

Unsur gharar dalam spekulasi yakni ketidak jelasan mengenai apa yang akan terjadi, entah untung atau rugi karena hanya mengandalkan tebak-tebakan tanpa memikirkan risiko kedepannya.

Sedangkan unsur maysir dalam spekulasi antara mendapatkan keuntungan dengan mengandalkan sistem gambling seperti judi yang hanya memikirkan keuntungan diri sendiri tanpa memperdulikan kerugian orang lain.

Adiksi

Judi ternyata berdampak nyata   terhadap  kesehatan mental. Apalagi judi online karena aksesibilitas  dan  popularitas  platform  perjudian  digital lebih luas dan menyebar.

Salah  risiko  judi yang paling nyata dalah  kecanduan karena dirancang  untuk  memberikan  sensasi  dan  kegembiraan  yang  tinggi  karena  ada  efek  zat  adiktif. Mekanisme  seperti  bonus, hadiah dan  hampir  menang  mendorong  pemain  untuk  terus  berjudi  berharap  untuk  mendapatkan  kemenangan  besar yang pada gilirannya justru mengalam gangguan  kecemasan, stres, dan  depresi. *

 * Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati Kota Bandung, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermkim di Vila Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response