
Oleh: Ridhazia
ZOMBIE Scrolling menjadi istilah baru untuk menggambarkan dampak kecanduan ponsel secara berlebihan.
Kata zombie dilekatkan pada pengguna gadget karena efek buruknya sudah menjadi horor yang menakutkan.
Selain menjadi gangguan psikologis yang kompulsif dan masalah neurologis akibat kesulitan fokus, dan perasaan terputus secara emosional.
Separuh Hidup
Manusia yang terjebak Zombie Scrolling hampir dipastikan menimpa seseorang karena separuh waktu hidup dihabiskan untuk scrolling.
Tindakan melampaui batas itu yang pada gilirannya bisa memangsa manusia secara agresif. Terjebak momen yang tidak nyaman, canggung secara sosial, hingga kesepian dan membosankan.
Bayangkan saja, setiap hari, setiap jam, setiap detik dimana saja, kapan saja menghabiskan waktu scrolling dan melupakan kegiatan lain.
Sebuah penelitian menduga rata-rata setiap orang menghabiskan separuh waktu hidupnya untuk scrolling — jika disambungkan — melebihi 200 meteran sehari.
Angka itu yang diperkirakan melebihi Monas di Jalan Medan Merdeka Jakarta setinggi 132 433 kaki atau patung Liberty di Amerika Serikat setinggi 300 kaki.
Gangguan Kompulsif.
Zombie Scrolling dikatagorikan sebagai gangguan perilaku kompulsif yang paling agresif sepanjang zaman manusia moderen.
Dikelompokkan menjadi perilaku kompulsif ketika seseorang mengalami gangguan anxeietas (kecemasan) dimana kebiasaan berpikir dan tindakan tidak dapat lagi dikendalikan. Bahkan ia dipaksa untuk terus-menerus mengulang tindakan tertentu tanpa disadari.
Ibarat tikus di laboratorium, yang terus-menerus menarik tuas dengan harapan menerima hadiah yang muncul secara tak terduga.
Manusia pun demikian. Terus menerus menggulir mencari pengalaman baru melalui komunikasi daring yang akan memicu pelepasan dopamin yang menyenangkan. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati Bandung, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial pulitik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.





