DisabilitasOpini

YOGJA AKU DATANG KEMBALI

Di era 80/90 an, saya sering melakukannya semasa aktif di kemahasiswaan, juga ssetelah bergabung dengan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) semasa Prof. Emil Salim dan setelahnya. 

416views

Oleh Farhan Helmy

MISI-– untuk memenuhi undangan untuk menghadiri pertemuan yang difasilitasi Prakarsa dan Ohana Indonesia saya sanggupi. Ini kali pertama saya melakukan perjalanan jauh lewat darat, lebih dari 500 km ditempuh selama 6.5 jam. Dua hari pertemuan ini dalam rangka penulisan laporan CRPD versi masyarakat sipil dan dialog tentang pajak dan bea cukai yang dihadiri Bung Yustinus Prastowo, staf khusus Kemenkeu. Yang terakhir gerakan lincah kawan-kawan ini dalam merespon carut marut bea cukai dan kepabeanan yang viral akhir-akhir ini.

Di era 80/90 an, saya sering melakukannya semasa aktif di kemahasiswaan, juga ssetelah bergabung dengan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) semasa Prof. Emil Salim dan setelahnya.

Saya memanfaatkan waktu luang untuk merangkai kembali berbagai jaringan terutama dalam tugas yang saya emban saat ini sebagai Presiden DILANS Indonesia. Salah satunya berkunjung ke OHANA Indonesia untuk melihat sekaligus menjajagi kemungkinan untuk membuat bengkel serupa agar kursi roda terjangkau oleh setiap warga difabel dan lansia (DILANS) yang membutuhkannya.

Program ini keren. Insha Allah dalam tempo yang tak terlampau lama ada di Bandung dan di berbagai wilayah dimana DILANS akan beroperasi. Selain kursi roda baru, barang ini juga menampung kursi roda bekas yang kemudian diperbaharui (refurbish).

Konon ada sekitar 6 juta orang Indonesia  yang membutuhkan kursi roda (Tempo, 2023). Belum sepenuhnya menjadi perhatian dan komitmen negara saat ini walaupun kita meratifikasi konvensi PBB untuk penyandang disabilitas (CRPD) dan menurunkannya kedalam UU 8/2016.

Jumlah 23 juta warga difabel saat ini tidak memberikan inspirasi kampus dan lembaga penelitian untuk melakukan penelitian yang serius dan mandiri untuk mendorong industri alat bantu (assistive technology).

Yogja dari dulu memang lain. Selain para aktivisnya telaten dalam menggeluti isu dan pikiran yang diyakininya, selalu ada ruang reflektif dan kritis dalam merespon berbagai dinamika ekonomi politik tanah air sejak dulu. Mungkin karena jaraknya yang jauh dari Jakarta serta orientasi dan keberpihakan sebagian intelektualnya pada kepentingan publik. **Penulis President Dilans Indonesia, bertempat tinggal di Bandung

Leave a Response