Oleh Kin Sanubary
Majalah Variasari edisi bulan Juli 1970, yaitu terbitan 54 tahun silam, tampil dengan sampul muka seorang penyanyi yang berasal dari Kota Kembang , Annie Rae.
Sebagai penghias sampul Annie Rae penyanyi yang berasal dari Priangan, memiliki wajah yang menawan dan dikenal sebagai penyanyi belia yang namanya sedang menanjak. Dia pendatang baru di blantika musik pop yang cukup beruntung karena bisa melawat dan merekam suaranya di luar negeri yaitu di negara jiran Singapura.
Satu angkatan dengannya melesat pula nama Titiek Sandhora yang mempunyai keistimewaan dan kekhasan tersendiri dengan vokal lantang dan bening serta digemari oleh para remaja maupun orang dewasa. Popularitasnya begitu cepat melesat, dan mensejarah, karena lagu lagu hitsnya.
Di samping bernyanyi sendiri, Titiek pun sering bernyanyi duet dengan seorang penyanyi pria, yaitu Muchsin Alatas penyanyi keturunan Arab, yang kemudian mengantarkan keduanya ke pelaminan. Muchsin termasuk penyanyi pria yang dalam deretan penyanyi pria tergolong yang bernasib baik. Duet Titiek dan Muchsin sungguh serasi dan enak didengar, kerjasama suara mereka sungguh kompak dan berpadu selaras.
Tentu saja karena terlalu sering mereka bernyanyi dan rekaman bersama dalam satu album. Orang bilang di mana ada Titiek di situ ada Muchsin. Inilah yang disangka orang bahwa di antara kedua penyanyi ini ada jalinan asmara.
Dari panggung layar perak, dikabarkan film bertajuk Kubur dalam Kubur diproduksi oleh PT Serenade Film dengan sutradara Turino Djunaidy . Film ini diikutsertakan dalam Festival Film Asia, FFA 1970 yang diselenggarakan di Jakarta.
Kubur dalam Kubur memenangkan penghargaan sebagai ilustrasi musik terbaik untuk film cerita. Patut dicatat bahwa iringan musik dalam film ini diaransemen oleh musikus terkenal, penggesek biola maut, Idris Sardi.
DPFN memproduksi film lakon Nyi Ronggeng dengan tata warna dengan layar lebar – Cinemascope. Pertunjukan perdana (gala premier) film ini berlangsung di Bioskop Star, Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Film ini dibintangi oleh bintang-bintang film tenar seperti Chitra Dewi, Dicky Zulkarnaen dan Sandy Sardi .
Nyi Ronggeng merupakan film besar yang pernah dibuat di Indonesia hasil karya Alam Surawijaya , skenario ditulis oleh Drs. Sjuman Djaya, Wahyu Sihombing dan Alam Surawijaya sendiri. Produser film ini adalah Tatiek Malyati dari Virgo Film yang merupakan istri dari Wahyu Sihombing.
Film ini bercerita tentang rebutan cinta seorang ronggeng cantik yang mengidamkan ketentraman hidup sebagai istri yang mencintai suaminya.
Genre silat yang mengadaptasi serial klasik sudah diproduksi sejak 1970an. Naga Sasra Sabuk Inten ceritera silat klasik karangan S.H. Mintardja. yang sebelumnya menjadi cerita serial di koran Kedaulatan Rakyat Yogyakarta tahun 1966 diangkat ke film.
Diproduksi oleh PT Tidar Film milik aktor Dicky Suprapto, suami bintang film cantik Suzanna. Kisah film ini sangat lekat dan populer di kalangan pecinta komik, novel dan cerita silat. Tidar Film pertama kali memproduksi film “Suzy” yang dibintangi oleh Suzanna.
Dari PT Kartika Bina Prima perusahaan film yang diresmikan di arena Jakarta Fair ’70 memproduksi film Honey Money & DF ’70 (Djakarta Fair ’70) di Stand Tiniz & Partners. Perusahaan film ini dipimpin oleh aktor Soekarno M Noor. Gagasan pembuatan film ini, untuk mendokumentasikan Jakarta Fair agar masyarakat yang tinggal di luar Ibukota Jakarta berkesempatan melihat dan menyaksikan tentang Jakarta Fair, meski hanya lewat film.
Didukung dan dibintangi oleh Connie Sutedja, Mike Widjaja, Ratno Timoer, Ismet Noor dan Tan Tjeng Bok, menampilkan para penyanyi terkenal seperti Titiek Sandhora, Muchsin Alatas, Ellya Khadam dan Si Walang Keke Waldjinah.
Honey Money DF 70 merupakan film semi dokumenter yang disutradarai oleh Misbach Yusa Biran. Kisahnya mencerminkan kehidupan segala lapisan masyarakat ibukota yang dipadukan dengan kegiatan berkaitan dengan Jakarta Fair tahun 1970.
Kabar dari dunia sport menampilkan event, Grand Prix D’Indonesie ’70 berupa duel seru adu balap mobil di Sirkuit Pantai Binaria, Jakarta. Duel meet di Pantai Binaria diselenggarakan akhir Juni 1970.
Benny Hidayat berhasil keluar sebagai juara pertama Grand Prix D’ Indonesie X 100 cc/ 20 laps dan Grand Prix X 125 cc ke atas dalam 40 laps. Pertarungan seru ini dapat terjadi karena kegigihan dan keuletan dan sama-sama menggunakan mesin dari kekuatan superior.
Jago-jago balap Indonesia yang ikut berlaga yaitu Beng Suswanto, Susilo SA (Yamaha TR 2/350 cc) Benny Hidayat dan Hendra Tirtasaputra, Tjetjep Hariyana (Yamaha YAS I/125 cc)
Rubrik Cerita Pendek, yang disukai pembaca di majalah Variasari terbitan Juli 1970 menampilkan kisah Kota Semakin Kelam karya Kelik Diono, Kerudung Putihku karya Windarko Megawijaya , dan Di Jendela Hatimu Aku Menunggu karya Handrawan Nadesul serta Suamiku Abnormal karya NN. Ada juga cerita Iblis Penyebar Maut karya Ching Ping.
Rubrik tetap yang selalu tampil di Majalah Variasari yaitu Numpang Dikit, Bukan Main Kontak Variasari Youth Club (VSYC) Ramalan Bintang Konsultasi & Observasi Humor, Sajak, dan Teka Teki Silang (TTS). *
* Kin Sanubary, kolektor, pendiri dan pengelola Rumah Media Lawas, aktivis pertunjukan seni budaya panggung, musik dan film, bermukim di Tanjungwangi Kabupaten Subang, Jawa Barat.





