
Oleh: Kin Sanubary
DI TENGAH dominasi film horor serius, hadir sebuah sajian segar yang menggabungkan teror dan tawa dalam satu layar: “Setannya Cuan”, film horor-komedi yang siap menggoda rasa takut sekaligus mengocok perut penonton.
Film Setannya Cuan, yang sebelumnya dikenal dengan judul Djoerig Salawe, hadir sebagai angin segar di tengah dominasi film horor serius tanah air. Rumah produksi Radepa Black dan Atlas Pixcel resmi mengumumkan perubahan judul tersebut sebagai bentuk penyempurnaan visi kreatif: menghadirkan horor yang bukan hanya menegangkan, tetapi juga menghibur dan membebaskan tawa.
Ide cerita film ini berangkat dari fenomena nyata di masyarakat, ketika tekanan ekonomi mendorong sebagian orang mencari jalan pintas yang tak masuk akal. Film ini terinspirasi dari kisah obsesif terhadap angka keberuntungan atau praktik klenik demi mengubah nasib secara instan.
“Di balik komedinya, kami ingin menampilkan potret jujur tentang bagaimana ‘cuan’ bisa mengubah perilaku manusia hingga bersinggungan dengan dunia gaib,” ujar Robby Hilman Maulana, Produser Eksekutif sekaligus penggagas cerita.
Menertawakan Ketakutan, Merayakan Kehidupan
Mengangkat inspirasi dari mitos angka keberuntungan “salawe” (dua puluh lima), film ini memotret realitas sosial dengan sudut pandang jenaka.
“Kami ingin mengembalikan sensasi menonton horor yang guyub, penonton bisa menjerit kaget, lalu detik berikutnya tertawa bersama,” tutur Avesina Soebli, produser yang berkolaborasi dengan Aris Muda. “Ini surat cinta kami untuk penonton yang merindukan hiburan jujur, dekat dengan keseharian, dan sangat Indonesia.”
Mengapa “Setannya Cuan”?
Judul baru dipilih untuk menggambarkan realitas modern: masyarakat yang terjepit di antara tradisi mistis dan tuntutan ekonomi. Dalam film ini, setan bukan sekadar sosok penakut, melainkan bagian dari “ekosistem” ambisi manusia.
“Kadang isi dompet kosong jauh lebih horor daripada penampakan di rumah angker,” kata sutradara Sahrul Gibran, yang menggarap film bersama Jay Sukmo.
Antusiasme Penonton & Kota Asal Cerita
Film ini telah diputar secara terbatas melalui acara nobar khusus di Karawang, Cikampek, dan Subang. Gelak tawa penonton menjadi respons paling jujur atas film ini. Kota berikutnya adalah Bandung, yang sekaligus menjadi latar kisah. Menurut Robby Hilman, cerita film ini terinspirasi dari peristiwa di kampung halamannya di Cicalengka pada era 1980-an.
Segera Hadir di Bioskop
Setannya Cuan dijadwalkan tayang serentak pada 5 Maret 2026 di jaringan bioskop seluruh Indonesia. Film ini diharapkan menjadi pelepas rindu penggemar horor-komedi klasik sekaligus alternatif segar di tengah tren horor serius. Rilisnya yang bertepatan dengan bulan Ramadan juga diharapkan menghadirkan pengalaman hiburan kolektif, tertawa bersama di ruang gelap bioskop.
Film ini dibintangi oleh Nadine Alexandra, Joe P Project, Fico Fachriza, Dimas Andrean, Anyun Cadel, Candil, Ben Kasyafani, Mega Carefansa, Gabriella Desta, Mongol Stres, Aming, dan Budi Dalton. Film ini juga menjadi penghormatan in memoriam bagi komika almarhum Babe Cabita, yang kehadirannya meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh tim produksi.
Lebih dari sekadar hiburan, “Setannya Cuan” adalah ajakan untuk menertawakan ketakutan, merayakan kebersamaan, dan menyadari bahwa kadang yang paling menyeramkan bukanlah setan, melainkan ambisi manusia sendiri.*
* Kin Sanubary, kolektor, pendiri dan pengelola Rumah Media Lawas, penerima Penghargaan PWI Jawa Barat 2023 kategori pelestari media massa nasional, bermukim di Kabupaten Subang, Jawa Barat.





