KOLOM MEDIA LAWAS

Bandung Lautan Api dan Pasukan Berani Mati dalam Kenangan Film Perjuangan

378views

Oleh: Kin Sanubary

DUA film legendaris Indonesia, Bandung Lautan Api dan Pasukan Berani Mati (1982), bukan sekadar tontonan heroik. Keduanya menjadi pengingat betapa kemerdekaan diraih dengan darah, air mata, dan keberanian tanpa batas. Melalui kisah perjuangan di layar, semangat itu kembali menyala, menembus lintas generasi.

Dalam sejarah perfilman Indonesia, kisah perjuangan kemerdekaan selalu menjadi sumber inspirasi yang tak pernah padam. Layar perak menjadi ruang tempat semangat patriotisme berpadu dengan seni bercerita, menghadirkan kembali detik-detik genting perjuangan bangsa dalam bentuk visual yang menggugah.

Dua film menonjol sebagai pengingat abadi tentang keberanian dan pengorbanan yaitu Bandung Lautan Api dan Pasukan Berani Mati (1982). Keduanya bukan sekadar tontonan, melainkan potret hidup perjuangan bangsa yang meneguhkan makna kemerdekaan.

Bandung Lautan Api, Ketika Kota Menjadi Simbol Pengorbanan

Peristiwa Bandung Lautan Api menjadi salah satu bab penting dalam sejarah Indonesia. Tragedi ini terjadi pada 24 Maret 1946, ketika rakyat dan tentara memutuskan untuk mengosongkan sekaligus membumihanguskan Kota Bandung agar tidak dijadikan markas pasukan Sekutu dan NICA (Belanda).

Sehari sebelumnya, tentara Sekutu di bawah Kolonel McDonald mengeluarkan ultimatum kedua agar Bandung Selatan dikosongkan. Pemerintah melalui Perdana Menteri Sutan Syahrir memilih jalur diplomasi, sedangkan militer di bawah Kolonel A.H. Nasution ingin melawan. Hasilnya, strategi bumi hangus, seluruh kota harus dibumi hanguskan.

Dini hari, api pertama menyala di Gedung Bank Rakyat. Dalam hitungan jam, kawasan Braga, Cicadas, Banceuy, hingga Tegallega dilalap api. Bandung benar-benar menjadi lautan api, simbol pengorbanan rakyat yang rela meninggalkan rumah demi mempertahankan kemerdekaan.

Keesokan harinya, harian Soeara Merdeka memuat tulisan wartawan Atje Bastaman berjudul “Bandoeng Djadi Laoetan Api”, yang kemudian menjadi sebutan resmi peristiwa heroik tersebut.

Dari Lembaran Sejarah ke Layar Lebar

Kisah ini diangkat ke film Bandung Lautan Api, disutradarai oleh Alam Surawidjaja dengan naskah karya Misbach Jusa Biran dan Lukman Madewa.

Film ini menampilkan Dicky Zulkarnaen, Christine Hakim, dan Arman Effendy, dengan paduan adegan perang dan konflik batin tokohnya. Cerita asmara antara Nani, Hidayat, dan Priatna memberi sisi manusiawi di tengah gelora perjuangan.

Lebih dari sekadar film sejarah, Bandung Lautan Api adalah refleksi dari keberanian rakyat yang memilih membakar kotanya sendiri demi harga diri bangsa.

Pasukan Berani Mati Gerilya dan Pengorbanan Tanpa Batas

Film Pasukan Berani Mati, dirilis pada 1982, menghadirkan kisah heroik sekelompok tentara Indonesia dalam revolusi fisik pasca-proklamasi. Disutradarai dan ditulis oleh Imam Tantowi, film ini diproduksi oleh PT Rapi Film dan berdurasi 130 menit.

Dikisahkan, sebuah kota kecil jatuh ke tangan Belanda lewat serangan bom dan kendaraan lapis baja di bawah komando Mayor Otto Van Der Byck.

Pasukan pejuang pimpinan Kapten Bondan (diperankan Dicky Zulkarnaen) memilih bergerilya bersama rakyat. Namun pengkhianatan membuat mereka diserang habis-habisan. Dari sisa pertempuran, enam prajurit membentuk kelompok kecil bernama Pasukan Berani Mati, bertekad menuntut balas atas gugurnya rekan-rekan mereka.

Film ini dibintangi deretan aktor populer era 1980-an seperti Barry Prima, Roy Marten, Eva Arnaz, WD Mochtar, dan Amoroso Katamsi.

Pasukan Berani Mati menjadi film terlaris kelima di Jakarta tahun 1982, dengan penonton mencapai 209.833 orang (data Perfin). Nuansa heroiknya diperkaya musik keroncong populer, meneruskan tradisi penggunaan lagu rakyat dalam film Indonesia sejak era 1930-an.

Melalui Bandung Lautan Api dan Pasukan Berani Mati, kita diajak menyelami kembali semangat juang generasi terdahulu. Kedua film ini bukan hanya hiburan, tetapi juga media ingatan kolektif bangsa, menghidupkan kembali sejarah lewat bahasa gambar dan emosi.

Dari nyala api di Bandung hingga keberanian pasukan kecil di medan perang, keduanya menegaskan pesan yang sama, kemerdekaan bukan hadiah, melainkan hasil dari tekad dan pengorbanan tanpa batas.

Di tengah arus zaman yang terus berubah, film-film semacam ini menjadi pengingat bahwa api semangat kemerdekaan harus terus menyala dalam diri setiap generasi Indonesia.*

  * Kin Sanubary, kolektor, pendiri dan pengelola Rumah Media Lawas, penerima Penghargaan PWI Jawa Barat 2023 kategori pelestari media massa nasional, bermukim di Tanjungwangi Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Leave a Response