Belajar Pancasila Kini “Hidup” Lewat Smartphone, Inovasi AR Perkuat Karakter Kebinekaan Pelajar

BANDUNG, BandungPos —
Di tengah derasnya arus digitalisasi dan dinamika sosial yang kian kompleks, dunia pendidikan Indonesia menghadapi tantangan yang tidak ringan. Fenomena intoleransi, polarisasi sosial, hingga rendahnya empati terhadap perbedaan masih sesekali muncul dalam interaksi generasi muda. Di saat yang sama, kemampuan berpikir kritis pelajar Indonesia juga menjadi sorotan berbagai laporan internasional.
Dari kegelisahan itulah, sebuah inovasi pembelajaran berbasis Augmented Reality (AR) lahir dari ruang akademik. Restu Adi Nugraha resmi meraih gelar doktor dalam bidang Pendidikan Umum dan Karakter melalui disertasi berjudul “Penguatan Karakter Kebinekaan Global Pelajar Indonesia melalui Penggunaan Augmented Reality Berbasis Project Citizen.”
Bagi Restu, persoalan pendidikan karakter tidak cukup dijawab dengan penambahan materi atau regulasi baru. Secara normatif, arah kebijakan pendidikan nasional sebenarnya sudah jelas. Pendidikan Pancasila diposisikan sebagai pondasi pembentukan identitas nasional sekaligus kesiapan menghadapi dunia global. Pemerintah pun menargetkan terwujudnya Profil Lulusan
Pembelajaran Mendalam, termasuk dimensi kewargaan yang menuntut siswa mampu berpikir global, menghargai keberagaman, dan terlibat aktif dalam penyelesaian persoalan nyata.
“Fondasi kebijakan kita sudah sangat kuat. Tantangannya adalah bagaimana membuat nilai itu benar-benar dialami oleh peserta didik, bukan hanya dihafalkan,” ujar Restu dalam pemaparannya.
Buku yang Tak Lagi Diam
Melalui model yang dikembangkannya, pembelajaran Pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan tidak lagi berhenti pada teks dan hafalan konsep. Buku pelajaran yang sebelumnya statis kini dapat “hidup” ketika dipindai menggunakan smartphone.
Saat kamera ponsel diarahkan ke halaman tertentu, muncul video isu global, avatar pemandu pembelajaran, hingga fitur diskusi berbasis chatbot. Siswa diajak menganalisis persoalan seperti keberagaman budaya, konflik sosial, atau isu lingkungan. Mereka mengumpulkan data, mendiskusikan alternatif solusi kebijakan, lalu menyusunnya dalam bentuk portofolio aksi yang dipresentasikan melalui showcase kelas.
Model ini memadukan tiga elemen utama: Global Citizenship Education (GCED), pendekatan aksi kewargaan Project Citizen, dan teknologi AR yang mudah diakses. Berbeda dengan teknologi imersif berbiaya tinggi seperti virtual reality atau perangkat metaverse, inovasi ini cukup memanfaatkan smartphone yang sudah dimiliki mayoritas siswa. Dengan kata lain, pendekatan ini tidak hanya inovatif, tetapi juga realistis dan mudah direplikasi di berbagai sekolah.
“Peserta didik kita adalah digital native. Tantangannya bukan lagi soal akses teknologi, tetapi bagaimana teknologi itu diarahkan untuk memperkuat karakter, bukan sekadar hiburan,” jelasnya.
Dari Hafalan ke Pemikiran Kritis
Salah satu persoalan yang disoroti dalam penelitian ini adalah masih dominannya kemampuan berpikir tingkat rendah (Lower Order Thinking Skills/LOTS) di kalangan pelajar. Pembelajaran yang terlalu berorientasi pada hafalan membuat siswa kurang terbiasa menganalisis, merefleksikan, dan memecahkan masalah nyata.
Melalui integrasi AR dan pendekatan proyek kewargaan, siswa didorong keluar dari pola belajar pasif. Mereka tidak hanya memahami konsep kebinekaan secara teoritis, tetapi juga menguji nilai tersebut dalam diskusi, argumentasi, dan perumusan solusi konkret.
Proses ini perlahan membentuk kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS) yang reflektif dan partisipatif. Siswa belajar berdialog secara rasional, menghargai perbedaan pendapat, serta mengambil keputusan secara etis.
Pembelajaran pun menjadi lebih bermakna karena terkait langsung dengan kehidupan sehari-hari. Nilai toleransi, keadilan, dan tanggung jawab sosial tidak lagi sekadar slogan, melainkan pengalaman belajar yang dialami bersama.
Menjaga Identitas, Menatap Dunia
Restu menegaskan bahwa inovasi ini bukan semata tentang pemanfaatan teknologi. Lebih dari itu, ia melihat AR sebagai jembatan untuk mempertemukan identitas lokal dengan perspektif global.
“Inovasi ini tentang bagaimana kita menyiapkan generasi yang mampu mempertahankan identitas lokalnya, sekaligus berpikir dan bertindak sebagai warga dunia,” tegasnya.
Dalam jangka panjang, model ini diharapkan membentuk disposisi karakter yang lebih stabil. Siswa terbiasa bersikap inklusif, terbuka terhadap keberagaman, dan bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.
Pengembangan selanjutnya juga dirancang melalui kolaborasi dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI), sehingga inovasi ini tidak berhenti pada tataran akademik.
Dengan dukungan ekosistem pendidikan yang lebih luas, model pembelajaran ini diharapkan dapat berkelanjutan dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Disertasi ini diuji oleh tim promotor dan penguji internal, serta menghadirkan penguji luar dari Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) Malaysia yang memberikan perspektif komparatif internasional. Kehadiran penguji luar tersebut memperkuat kontribusi ilmiah sekaligus membuka peluang kerja sama lintas negara dalam pengembangan pendidikan kewarganegaraan.
Di tengah kekhawatiran bahwa teknologi dapat menjauhkan generasi muda dari nilai-nilai kebangsaan, inovasi ini justru menunjukkan sebaliknya. Teknologi, jika diarahkan dengan tepat, dapat menjadi sarana efektif untuk memperdalam pemahaman, memperluas empati, dan memperkuat karakter.
Dari layar kecil di tangan siswa, pembelajaran Pancasila kini tidak lagi terasa jauh atau abstrak. Ia hadir dalam bentuk visual, dialog, dan aksi nyata. Sebuah langkah kecil dari ruang kelas, namun berpotensi besar dalam menyiapkan generasi Indonesia yang inklusif, kritis, dan siap menghadapi dinamika dunia global. (ujn).





