Kolom Sosial Politik

“Kutu Loncat”

90views

 

Oleh: Ridhazia

DIBERITAKAN, politisi PPP Dony Ahmad Munir pindah partai. Secara resmi Bupati Sumedang itu menjadi anggota Partai Gerindra.

Padahal akar ideologinya PPP dari moyangnya. Bahkan bibit buitnya pernah menjadi politisi dan wakil rakyat dari partai Islam.

Kutu Loncat

Frasa yang lazim digunakan untuk politisi yang berpindah partai politik disebut “kutu loncat”.

Sebuah metafora tentang serangga kecil yang hidupnya paling primitif. Sebagai hama berbahaya serangga itu tidak pernah puas menyedot darah inangnya, lalu berpindah ke inang lainnya.

Selalu Haus

Dengan kata lain, politisi “kutu loncat” tidak pernah merasa cukup untuk memberi nutrisi ambisinya. Ia seumur hidup haus kekuasaan.

Begitu partai yang ditinggalkannya mulai “mengering” ia berkemas untuk pindah ke partai baru yang menggiurkan.

Kepada publik pendukungnya, seorang politisi “kutu loncat” kerap beralasan kalau tantangan mulai berkurang, atau rutinitas membosankan.

Tidak Laku

Padahal senyatanya partai lama sudah tidak laku lagi. Ia juga sudah lama berniat ingin mempercepat pertumbuhan sayap kariernya untuk menolak disebut parasit yang hanya menumpang lewat.

Dengan kata lain, ia berdalih berpindah partai bukan ia tidak setia, apalagi plin-plan. Dunia terlalu luas untuk diam di satu tempat, dalihnya.

Dengan meloncat, ia berharap mendapatkan perspektif baru di tempat yang berbeda. Melompat adalah strategi, bukan sekadar pelarian karena ia tahu kalau dirinya layak mendapatkan puncak karir tertinggi yang diimpikan. Tapi masih dirahasiakan. *

 * Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djari, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response