Oleh Farhan Helmy ( President Dilans Indonesia)
Saya berharap, dan tentunya para aktivis dan relawan DILANS Indonesia kepada calon Walikota Bandung 2025-2030 menyelesaikan banyak persoalan kongkrit carut-marut secara serius dan penuh komitmen. Urusan Kota Bandung bertumpuk, waktu tidak banyak hanya lima tahun. Dengan segudang persoalan, kalaupun harus memilih intervensi karena keterbatasan sumberdaya, maka seharusnya yang dipilih berdampak, inklusif, berkelanjutan dan menjadi fondasi untuk mentransformasikan perubahan sistemik dan melembaga.
KARENA ITU, kenapa saya dan kawan-kawan yang tergabung dalam Inisiatif multi-fihak Sumur Bandung Inclusive District Platform (#SBIDP) antusias mendorong intervensi berbasis kawasan. Integrasi program berbasis kawasan sekaligus bisa mengukur efektifitas dan keleterlibatan warga dan pemangku kepentingan.
Urusan data, peta, sampah, bencana, PKL, parkir, konflik penguasaan tanah (mafia), transportasi, diantara banyak isu kongkrit yang tidak serius diselesaikan sehingga menjadi laten. Didalamnya soal aksesibilitas bagi penyandang disabilitas dan lansia (DILANS).
SBIDP, hanya 1 diantara diantara 30 Kecamatan yang memiliki karakteristik persoalan kota yang secara umum sama, Tetapi, memiliki arti penting yang strategis dalam mewujudkan kawasan yang bisa diklaim nantinya sebagai kawasan inklim. Letaknya di ring-1, dengan Balai Kota dan jejak sejarah Asia-Afrika yang perjuangannya masih relevan dalam mengangkat derajat negara-negara yang beragam. Bandung tidak punya kawasan itu, yang layak dijadikan contoh.
Dari video yang saya potret , dari salah satu spot yang saya rekam kemarin. Bisa ditelusuri dari Balaikota menuju Rumah Dinas Gubernuran.
Tidak nampak ada pemerintahan dari pagi hingga sore, semua bahagia mengacak-acak ruang dan membiarkan kekacauan yang belum dituntaskan hingga kini. Saya mengamatinya dalam 5(tahun) ini diatas kursi roda, setidaknya sebulan sekali.
Itu catatan ringan, harapan saya pada para Calon Walikota pasangan Dhani-Haru, Dandan-Arif, Farhan-Erwin, dan Arfi-Yena. Mudah-mudahan 100 hari saat terpilih adalah salah satu “quick win” komitmennya.*** Penulis aktivis Disabiltas dan Lansia, tinggal di Kota Bandung





