Bandung Raya

Tim PkM FK Unisba Tingkatkan Pengetahuan PHBS untuk Tekan Penyebaran Skabies di Ponpes Baitur Rohman

276views

KABUPATEN BANDUNG, bandungpos.id – Upaya nyata dalam mendukung kesehatan masyarakat kembali dilakukan oleh civitas akademika Universitas Islam Bandung (Unisba). Bertempat di GOR Desa Pangauban, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, tim dosen dari Fakultas Kedokteran Unisba menyelenggarakan program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dengan fokus utama pada peningkatan pemahaman dan praktik Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya bidang pengabdian, dengan tujuan mencegah meluasnya penyakit kulit menular skabies di lingkungan Pondok Pesantren Baitur Rohman (12/9).

Tim pengabdi dipimpin oleh Julia Hartati, dr., M.Kes., bersama anggota tim Dr. Deis Hikmawati, dr., SpDV., M.Kes., dan Ismawati, dr., M.Kes. Dengan mengusung tema “Upaya Peningkatan Pengetahuan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk Mencegah Penyebaran Skabies di Pondok Pesantren Baitur Rohman Kecamatan Pacet Kabupaten Bandung”, kegiatan ini terlaksana melalui kerja sama dengan Kepala Desa Pangauban serta pimpinan Pondok Pesantren Baitur Rohman.

Acara resmi dibuka dengan sambutan virtual oleh Dekan Fakultas Kedokteran Unisba, Dr. Santun Bhekti Rahimah, dr., M.Kes., M.MRS., yang menekankan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat. Sementara itu, pihak pesantren juga memberikan sambutan langsung sebagai bentuk dukungan atas terselenggaranya kegiatan yang sangat relevan dengan kondisi santri.

Latar belakang kegiatan ini berangkat dari realita masih tingginya kasus penyakit kulit, khususnya skabies atau kudis, yang banyak menyerang para santri di pesantren. Pondok Pesantren Baitur Rohman di Kampung Cisaat, Desa Pangauban, Kecamatan Pacet, menjadi salah satu lokasi yang terdampak. Minimnya pengetahuan terkait perilaku hidup bersih dan sehat menjadi faktor utama penyebab tingginya penyebaran penyakit tersebut.

Pesantren yang menampung sekitar 75 santri ini menghadapi kendala fasilitas, terutama keterbatasan sarana mandi dan sanitasi. Hanya tersedia dua kamar mandi untuk digunakan bersama oleh seluruh santri putra maupun putri. Kondisi tersebut menjadi pemicu meningkatnya risiko penyakit kulit. Setahun sebelumnya, pihak pesantren telah memperoleh dukungan berupa bantuan perbaikan akses air bersih melalui hibah PkM Unisba. Namun, persoalan mendasar terkait perilaku kebersihan tetap memerlukan perhatian serius.

Melalui PkM kali ini, tim dosen FK Unisba berupaya memberikan solusi yang komprehensif, tidak hanya berupa pemeriksaan kesehatan dan pengobatan, tetapi juga edukasi intensif mengenai PHBS. Edukasi tersebut menyasar para santri sekaligus orang tua mereka, dengan harapan tercipta sinergi dalam menjaga kesehatan anak. PHBS di lingkungan pendidikan dipandang sebagai kunci pencegahan penyakit sekaligus pembiasaan perilaku sehat yang dapat meningkatkan kualitas hidup jangka panjang.

Metode yang digunakan dalam kegiatan ini cukup variatif. Sebelum materi diberikan, para santri mengikuti pretest untuk mengukur pemahaman awal mengenai PHBS dan pengetahuan tentang skabies. Setelah sesi edukasi interaktif, dilakukan posttest untuk menilai peningkatan pemahaman. Selanjutnya, pemeriksaan kesehatan juga dilakukan, di mana santri putra diperiksa oleh dokter laki-laki dan santriwati diperiksa oleh dokter perempuan. Orang tua turut dilibatkan dalam sesi edukasi untuk memperkuat peran keluarga dalam pembentukan perilaku hidup sehat anak.

Menariknya, pendekatan edukasi yang digunakan tidak hanya berbasis medis, tetapi juga dikaitkan dengan ajaran Islam. Para santri diperkenalkan bahwa PHBS merupakan bagian dari upaya menjaga thaharah (kesucian), yang sejalan dengan prinsip syariat Islam berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW. Dengan demikian, penerapan PHBS bukan hanya bernilai kesehatan, tetapi juga ibadah.

Kegiatan ini diikuti oleh 31 santri Pondok Pesantren Baitur Rohman yang aktif berpartisipasi dalam seluruh rangkaian acara. Harapannya, melalui kegiatan ini, pengetahuan dan kesadaran akan pentingnya kebersihan dapat semakin meningkat, sehingga angka kejadian skabies di kalangan santri dapat ditekan secara signifikan.

Pada akhirnya, keberhasilan PkM ini tidak hanya terletak pada transfer ilmu dari akademisi kepada masyarakat, tetapi juga dalam membangun kesadaran kolektif antara santri, orang tua, pengelola pesantren, dan lingkungan sekitar untuk menciptakan perilaku hidup bersih dan sehat yang berkelanjutan.(sani/bnn)

Leave a Response