
Oleh Muhammad Subhan
SEHABIS lomba, ia mengabarkan kepada saya bahwa ia belum berhasil meraih posisi puncak, dan hanya meraih juara harapan dua. Ia datang dengan wajah lesu, meminta maaf karena belum memberikan hasil terbaik.
“Sudah, jangan sedih, kamu sudah juara kok,” ujar saya memberikan semangat. Namun, kesedihan belum lepas dari air mukanya.
“Tapi saya hanya bisa segini, mengecewakan sekali,” katanya lagi dengan wajah menunduk.
“Itu hanya hasil, dan prosesmu selama ini sudah menunjukkan kamu sang juara,” kataku lagi sambil menampar pelan pundaknya.
Ia diam, mencoba memikirkan kata-kata saya yang selama ini mendampingi proses latihannya.
Selama belajar, ia menampilkan kesungguhan. Semua bacaan yang saya berikan ia baca tuntas, dan apa yang saya minta untuk ditulis, ia kerjakan dengan sungguh-sungguh.
Memang, kali itu ia baru pertama kali mengikuti lomba. Ia belum punya pengalaman sebelumnya. Target sekolahnya juara pertama, harapannya juga demikian, dan saya pun menyimpan harapan yang sama. Namun, sebagai pelatih yang telah lama bergelut dalam berbagai pelatihan, saya memahami bahwa kemenangan bukan semata-mata soal hasil akhir.
“Sekali lagi saya katakan, kamu tetap juara meski harapan dua. Kamu membawa pulang hadiah, bukan?” kataku lagi.
“Iya sih, tapi…,” jawabnya terputus.
“Sudah, jangan sedih. Kita latihan lagi lebih keras ya?” kata saya menyemangatinya. Ia mengangguk pelan.
Yang perlu ia pahami, posisi harapan tetaplah juara. Itu berarti berada di antara yang terbaik; enam besar dalam sebuah kompetisi. Tidak semua peserta mampu sampai di titik itu.
Pemuncak memang urutan satu, dua, dan tiga. Sementara juara harapan mengisi posisi berikutnya: harapan satu, dua, dan tiga. Dalam lomba berjenjang, memang hanya peringkat tertinggi yang melaju ke tahap berikutnya. Namun, itu tidak berarti yang lain telah gagal sepenuhnya.
Nilai dalam lomba kerap bersifat relatif. Bukan sekedar soal karya yang buruk atau baik, tapi juga soal sudut pandang dan selera juri. Juri yang berkompeten akan menilai dari berbagai aspek secara objektif. Meski demikian, tidak dapat dimungkiri bahwa dalam praktiknya selalu ada kemungkinan subjektivitas yang ikut bermain.
Pentingnya peran panitia dalam memilih juri yang profesional dan berintegritas. Sebab, kualitas penilaian sangat ditentukan oleh siapa yang menilai. Meski pada akhirnya, keputusan juri tetap bersifat final dan menjadi hak prerogatif mereka.
Juara harapan satu, dua, dan tiga adalah pemenang. Mereka pulang dengan kepala tegak. Mereka telah menyisihkan puluhan, bahkan ratusan peserta lainnya. Itu bukan hal kecil.
Dalam setiap perlombaan, yang paling dibutuhkan adalah sikap berjiwa besar. Lomba bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang untuk terus belajar dan bertumbuh. Petarung sejati tidak berhenti di satu arena. Ia akan terus melangkah, mengembangkan diri, dan menantang batas kemampuannya.
Terlebih lagi, mereka yang telah meraih juara pertama meski tidak boleh lekas berpuas diri. Sebab, setiap kedalaman memiliki tantangan yang berbeda. Tanpa latihan yang lebih keras, kemenangan hari ini bisa berubah menjadi kekalahan di hari esok.
Jiwa besar menuntun seseorang untuk menerima hasil dengan lapang dada. Ia tidak larut dalam kekecewaan, tapi menjadikan bahan bakar untuk melangkah lebih jauh. Petarung sejati akan belajar lebih kuat dari setiap proses. Ia tidak hanya melihat podium, tapi juga perjalanan panjang yang membawanya ke sana.
Di balik itu semua, diperlukan dukungan yang kuat; sekolah yang memberi ruang, guru pendamping yang sabar, serta pelatih yang tak lelah membimbing. Keberhasilan seorang peserta tidak pernah berdiri sendiri. Ia adalah hasil dari kerja bersama.
Hasil terbaik bukan semata piala atau peringkat. Hasil terbaik adalah perubahan sikap, peningkatan kemampuan, dan keberanian untuk terus mencoba. Satu kompetisi boleh saja terlewatkan, tapi masih banyak gelanggang lain yang terbuka. Dunia tidak berhenti pada satu kehancuran.
Saya pun pernah berada di titik itu. Saat pertama kali mengirim naskah ke media massa, hampir semuanya ditolak. Namun, dari persetujuan itu saya belajar. Saya menulis lagi, mengirim lagi, dan terus mencoba lagi. Dari sekian banyak yang dikirim, satu-dua akhirnya dimuat juga.
Begitu pula ketika mengikuti lomba kepenulisan. Puluhan kali gagal, bahkan untuk sekedar masuk posisi harapan pun tidak. Namun, saya tidak berhenti. Saya terus mencoba, terus belajar, hingga akhirnya suatu ketika, saya berdiri di panggung sebagai salah satu yang terbaik.
Dari sanalah saya memahami bahwa kompetisi bukan sekadar soal menang atau kalah. Kompetisi adalah ruang belajar yang luas, tempat kita ditempa, diuji, dan dibentuk. Anda pasti ingat kata Tan Malaka: “Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk.”
Proses benturan demi benturan itulah yang pada akhirnya akan membentuk seseorang pribadi menjadi tangguh dan berpantang menyerah, apalagi menyurutkan langkah.
Dan kepada siswa itu, juga kepada siapa pun yang sedang berjuang, saya ingin mengatakan, jangan pernah berhenti. Karena sering kali, kemenangan sejati datang setelah kita berkali-kali merasa gagal.
Piala yang paling berkilau tidak dipajang di lemari kaca sekolah, sebaliknya tertanam di dalam dada berupa mentalitas yang tak kunjung datang padam. Kekalahan hari ini hanyalah jeda sejenak untuk mengambil napas, mengoreksi baris kalimat, dan mempertajam pena sebelum kembali turun ke medan laga yang lebih besar.
Teruslah menulis dan teruslah melangkah. Ingatlah bahwa sejarah tidak mencatat mereka yang berhenti karena kecewa, namun mereka yang bangkit dengan luka yang telah menjadi mutiara.
Di gelanggang berikutnya, dunia akan melihat bahwa kamu bukan lagi sekedar peserta lomba, melainkan seorang pemenang yang lahir dari rahim kesabaran. Karena kesabaran itu, kamu telah menjadi sang juara. ** Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, pendiri Sekolah Menulis elipsis
Editor : Rianto Muradi





