DisabilitasOpini

Sains dan Pengetahuan Dilans yang Harus Dibuka

Sains dan Pengetahuan Dilans yang Harus Dibuka

439views

Oleh Farhan Helmy ( President Dilans Indonesia)

TIDAK– bisa dipungkiri ilmu pengetahuan dan pengetahuan penyandang disabilitas dan lanjut usia (#DILANS) belum sepenuhnya berkembang dan sporadis di berbagai perguruan tinggi dan berbagai lembaga penelitian. Mungkin situasi ini tidak mengherankan kalau pada akhirnya berbagai kebijakan dan intervensi program pengembangan tidak sepenuhnya dapat menjawab secara efektif berbagai permasalahan yang dihadapi. Apalagi kalau keberpihakan yang menyeluruh tidak tampak dalam pengembangannya, termasuk keterlibatan dalam setiap proses pengambilan keputusan.

Data adalah salah satunya. Sering mengemuka dalam perbincangan, namun tidak terselesaikan secara tuntas dengan berbagai alasan. Sumberdaya yang terbatas salah satunya. Namun empat sumber data yang ada yang selalu dipakai dalam pengambilan kebijakan: SUSENAS/Supas (BPS), Data Terpadu Kesejahteraan Sosial/ DTKS (Kemensos), Kemiskinan Ekstrim (Kemenko PMK) dan Regsosek (Bappenas) belum sepenuhnya memenuhi panduan yang disarankan Washington Group on Statistik Disabilitas. Jadi jumlah penyandang disabilitas yang didata tidak akurat dan tidak menggambarkan semua ragam disabilitas.

Upaya yang menyeluruh dalam membenahi data adalah salah satu yang saat ini dikembangkan DILANS Indonesia dengan mengajak berbagai lembaga penelitian dan perguruan tinggi. Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika ITB salah satu yang berpartisipasi dalam pengembangan model pemetaan partisipatif berbasis geospasial, termasuk kajian aksesibilitas, audit dan verifikasi infrastruktur. Penelitian dilakukan di Kecamatan Sumur Bandung, kawasan di ring-1 Kota Bandung, yang dijadikan areal kolaboratif multi-fihak berbasis komunitas “Platform Kabupaten Inklusif Sumur Bandung (SBIDP)”.

Salah satu pencapaian penting lainnya, selain melibatkan penyandang disabilitas, mahasiswa dilibatkan dalam proyek penelitian Capstone. Siang ini apa yang dihasilkan dalam suatu sidang yang melibatkan para pembimbing, termasuk Farhan Helmy, Presiden DILANS Indonesia. sebagai pembimbing eksternalnya.

Dari data yang solid akan melahirkan pengetahuan yang utuh. Ditopang ilmu pengetahuan yang komprehensif diharapkan akan muncul berbagai inovasi dalam pengembangan teknologi asistif (asistif technology), dan intervensi yang efektif lainnya. ** Penulis dari  #indonesiainklusif #ecosocrights #sains4DILANS bertempat tinggalmdi Bandung)

Leave a Response