Feature

Sahabat PEKA Unisba dan MTsN 2 Bandung Bangun Kepedulian Kesehatan Mental Remaja melalui Metode 3L

17views

MASA  remaja awal, khususnya pada rentang usia 12–15 tahun atau jenjang SMP/MTs, merupakan periode penting dalam proses perkembangan individu. Pada fase ini, perubahan fisik akibat pubertas, dinamika emosi, serta pencarian identitas diri menjadi bagian dari perjalanan yang harus dihadapi remaja. Tidak jarang, berbagai perubahan tersebut memunculkan tantangan psikologis yang membutuhkan perhatian.

Tantangan itu semakin beragam seiring berkembangnya teknologi digital. Intensitas penggunaan media sosial dan paparan informasi yang tidak terbatas dapat memicu overthinking, tekanan akademik, persoalan pertemanan, hingga ketidakstabilan emosional di kalangan remaja.

Dalam menghadapi berbagai persoalan tersebut, teman sebaya (peers) sering kali menjadi tempat yang paling nyaman bagi remaja untuk mencurahkan perasaan dan berbagi pengalaman. Mereka cenderung lebih terbuka bercerita kepada teman dibandingkan kepada orang tua maupun guru. Namun, kedekatan hubungan pertemanan belum selalu dibarengi kemampuan memberikan dukungan psikologis secara tepat.

Kurangnya pemahaman mengenai cara mendengarkan dan merespons cerita teman dapat menimbulkan persoalan baru. Niat membantu terkadang justru diwujudkan melalui sikap menghakimi (judging), pemberian nasihat yang kurang sesuai, bahkan keinginan mengambil alih seluruh persoalan teman. Jika tidak disertai pemahaman yang memadai, kondisi tersebut dapat berdampak terhadap kesehatan emosional kedua belah pihak.

Merespons kondisi tersebut, pengurus OSIS MTs Negeri 2 Kota Bandung menggagas kegiatan psikoedukasi melalui kolaborasi dengan Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung (Unisba). Program bertajuk “Sahabat PEKA” (Be a Friend. Be a Support) ini melibatkan siswa pengurus OSIS dan MPK sebagai agent of change atau agen perubahan dalam menumbuhkan budaya sekolah yang peduli terhadap kesehatan mental.

Metode 3L: Bekal Sederhana Menjadi Sahabat yang Peduli

Dalam program Sahabat PEKA, siswa tidak diarahkan untuk mengambil peran sebagai psikolog maupun konselor profesional. Mereka justru dibekali kemampuan dasar untuk menjadi tutor sebaya yang mampu memberikan dukungan awal sekaligus menghubungkan teman yang membutuhkan pertolongan dengan pihak sekolah atau tenaga ahli.

Pendekatan yang diperkenalkan adalah metode 3L, yakni Look, Listen, Link, yang diadaptasi dari prinsip dasar Psychological First Aid (PFA) atau pertolongan pertama psikologis.

Look (Mengamati) merupakan langkah awal untuk membangun kepekaan terhadap kondisi teman sebaya. Melalui tahap ini, siswa belajar memperhatikan perubahan perilaku dan emosi orang-orang di sekitarnya. Misalnya, teman yang biasanya ceria mendadak sering terlihat murung, mulai menghindari pergaulan, kehilangan ketertarikan terhadap hobi yang disukai, atau memperlihatkan tanda-tanda tekanan psikologis yang berat.

Berikutnya, Listen (Mendengarkan) mengajarkan pentingnya memberikan perhatian dan empati ketika seorang teman ingin menyampaikan persoalannya. Mendengarkan bukan hanya memahami kata-kata yang diucapkan, tetapi juga menciptakan suasana aman agar teman merasa dihargai dan diterima.

Pada tahap ini, tutor sebaya dilatih untuk hadir secara utuh, menjaga kerahasiaan cerita, serta menghindari sikap menghakimi (non-judging). Mereka juga memahami bahwa membantu teman bukan berarti harus mampu menyembuhkan atau menyelesaikan seluruh persoalan yang dihadapi. Terkadang, kesediaan mendengarkan dan memahami perasaan seseorang sudah menjadi bentuk dukungan yang berarti.

Sementara itu, Link (Menghubungkan) menjadi tahapan penting untuk memastikan teman yang mengalami masalah memperoleh bantuan dari pihak yang tepat. Dalam proses ini, tutor sebaya juga belajar mengenali batas kemampuan diri (boundaries) agar tidak memikul beban psikologis yang berada di luar kapasitasnya.

Apabila menemukan persoalan serius, seperti perundungan yang berlangsung berulang, indikasi self-harm, atau adanya keinginan untuk menyakiti diri sendiri, tutor sebaya tidak boleh merasa harus menyelesaikannya seorang diri. Mereka perlu segera menghubungkan teman tersebut dengan orang dewasa yang dapat dipercaya di lingkungan sekolah, seperti Guru Bimbingan dan Konseling (BK) atau wali kelas.

Melalui tahapan tersebut, metode 3L menanamkan pemahaman bahwa kepedulian terhadap kesehatan mental tidak cukup hanya dengan menunjukkan rasa simpati. Diperlukan pula kemampuan mengenali situasi, mendengarkan secara empatik, dan mengetahui kapan seseorang membutuhkan bantuan lebih lanjut.

Kolaborasi Unisba dan Sekolah Perkuat Upaya Pencegahan Masalah Psikologis

Kehadiran program psikoedukasi tutor sebaya Sahabat PEKA menjadi salah satu upaya memperkuat ekosistem pendidikan yang memperhatikan kesehatan mental siswa. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah menengah ini sekaligus membuka ruang bagi keterlibatan aktif siswa dalam membangun lingkungan pertemanan yang lebih suportif.

Gilang Fitri Ayuni, M.Psi., Psikolog, selaku Guru BK MTsN 2 Kota Bandung, mengungkapkan bahwa keterbatasan rasio jumlah guru BK dengan siswa menjadikan dukungan dari lingkungan teman sebaya semakin dibutuhkan dalam proses pendampingan.

Dalam konteks tersebut, tutor sebaya Sahabat PEKA diharapkan dapat membantu mengenali lebih awal berbagai persoalan psikologis yang dialami siswa. Dengan deteksi dini, persoalan yang muncul di lingkungan sekolah diharapkan dapat memperoleh perhatian sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih berat.

Pentingnya kesinambungan program edukasi psikologi juga menjadi perhatian Kepala MTs Negeri 2 Kota Bandung, Drs. Tendi Setiadi, M.MPd. Ia menyoroti perlunya keberlanjutan kegiatan semacam ini agar pemahaman mengenai psikologi dan kesehatan mental dapat semakin berkembang di lingkungan pendidikan.

Sinergi antara universitas dan sekolah menengah melalui program yang melibatkan siswa dinilai tidak hanya bermanfaat dalam membangun lingkungan sekolah yang sehat secara mental. Lebih dari itu, kolaborasi tersebut turut menjadi sarana edukasi bagi masyarakat tentang pentingnya mengenalkan pemahaman psikologi sejak usia dini.

Program Sahabat PEKA memberikan gambaran bahwa membangun budaya peduli kesehatan mental dapat dimulai dari lingkungan terdekat, bahkan melalui interaksi sederhana di ruang kelas. Kesediaan memperhatikan perubahan perilaku teman, mendengarkan ceritanya tanpa menghakimi, serta membantu menghubungkannya dengan pihak yang tepat merupakan langkah penting dalam menciptakan lingkungan yang saling mendukung.

Dengan pembekalan metode Look, Listen, Link, remaja diharapkan tidak hanya menjadi teman yang hadir ketika dibutuhkan, tetapi juga mampu menunjukkan kepedulian secara bijak dan bertanggung jawab. Semangat “Be a Friend. Be a Support” menjadi landasan untuk mewujudkan sekolah yang tidak hanya memperhatikan pencapaian akademik, tetapi juga memberikan ruang bagi tumbuhnya kesejahteraan psikologis setiap siswa.

(Fahman Najwan Mahija, Najmi Muflih Siregar, Naufal Hazza Abhista, Aena Nur Safitri, Nurazizah Dwi Rahmayani, dan Fauzi Abyan Purbadi: Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung)***

Leave a Response