
WISUDA Universitas Islam Bandung (Unisba) pada Sabtu–Minggu (21–22/8/2026) menjadi momen membahagiakan bagi para lulusan. Namun, di balik prosesi wisuda tersebut, tersimpan kisah perjuangan dan pencapaian yang berbeda dari setiap mahasiswa.
Tiga lulusan Unisba mencatat prestasi yang cukup menonjol. Meisya Febriana meraih Yudisium Pujian dengan IPK tertinggi di Unisba, yakni 3,98. Muhammad Farhan Faiz Mubarok menjadi wisudawan tercepat setelah menyelesaikan studi dalam waktu 3 tahun, 4 bulan, 21 hari. Sementara Najwa Zahra Tunnisa tercatat sebagai wisudawan termuda dengan usia 20 tahun 10 bulan 21 hari.
Menariknya, ketiga prestasi tersebut bukanlah target yang sejak awal mereka tetapkan. Ketiganya justru sampai pada pencapaian itu melalui cara dan proses yang berbeda.
Meisya Febriana, Raih IPK 3,98 Tanpa Mengejar Predikat Tertinggi
Bagi Meisya Febriana, menjadi lulusan dengan IPK tertinggi di Unisba merupakan sebuah kejutan. Sejak awal kuliah, mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unisba tersebut tidak pernah menargetkan diri untuk menjadi mahasiswa dengan nilai terbaik.
Setelah menjalani studi selama tiga tahun enam bulan, Meisya dinyatakan lulus pada 31 Maret 2026 dengan predikat Yudisium Pujian dan IPK 3,98.
Perempuan kelahiran Bandung, 7 Februari 2004, itu mengaku kaget sekaligus bangga ketika mengetahui pencapaiannya. Menurutnya, IPK tinggi tersebut lebih merupakan buah dari proses belajar yang ia jalani secara konsisten.
“Sebetulnya saat tahu ternyata dapat IPK tertinggi, pertama-tama merasa kaget dan sekaligus merasa bangga juga sama diri sendiri,” ujar Meisya.
Selama kuliah, Meisya memilih untuk fokus belajar dan menyelesaikan berbagai kewajiban akademiknya.
“Saya tipe yang belajar dulu aja, ngelakuin dulu aja. Enggak harus banget jadi yang tertinggi,” katanya.
Selain aktif dalam perkuliahan, Meisya juga terlibat dalam kegiatan penelitian bersama sejumlah dosen Fikom Unisba. Dari kegiatan tersebut, ia memperoleh pengalaman berdiskusi, bekerja dalam tim, sekaligus memahami lebih jauh materi perkuliahan yang berhubungan dengan penelitian.
Kesibukannya tidak hanya berlangsung di lingkungan kampus. Sejak November 2023, Meisya mengembangkan usaha kecil bernama Mianis yang bergerak di bidang homemade chocolate.
Usaha tersebut bermula dari kegemarannya memasak dan kebiasaan membawa bekal buatan sendiri ke kampus. Respons positif teman-temannya kemudian mendorong Meisya menjadikan hobinya sebagai peluang usaha.
Ia juga pernah menjalani magang di DPRD Jawa Barat pada divisi Hubungan Masyarakat, Protokoler & Publikasi. Pengalaman tersebut turut menumbuhkan ketertarikannya terhadap dunia graphic design, yang kemudian ia kembangkan melalui berbagai karya visual, termasuk untuk mendukung bisnisnya.
Sejumlah prestasi juga berhasil diraih Meisya. Di antaranya The University Best Presenter and Best Article – SPeSIA Unisba 2026 serta Juara 2 Poster Design Competition dalam Parade Riset Komunikasi Unisba.
Meisya juga tercatat sebagai Research Contributor dalam artikel jurnal “Konstruksi Nasionalisme Generasi Z di Era Media Digital dalam Membangun Ketahanan Informasional” yang diterbitkan dalam Jurnal Riset Manajemen Komunikasi pada 2024.
Menurut Meisya, keberhasilan akademik tidak selalu membutuhkan pola belajar yang rumit. Hal terpenting adalah hadir di kelas dan benar-benar mengikuti proses pembelajaran.
“Hadir di kelas. Tidak hanya hadir saja, tapi hadir dan betul-betul duduk untuk mencari ilmu dari pembelajaran-pembelajaran di kelas,” katanya.
Farhan Faiz Mubarok, Wisudawan Tercepat dengan Masa Studi 3 Tahun 4 Bulan
Jika Meisya meraih prestasi melalui capaian akademik, Muhammad Farhan Faiz Mubarok mencatatkan prestasi dari sisi kecepatan menyelesaikan pendidikan.
Lulusan Fikom Unisba tersebut menjadi Wisudawan Tercepat Unisba setelah menuntaskan studi dalam waktu 3 tahun, 4 bulan, 21 hari.
Farhan dinyatakan lulus pada 22 Januari 2026 dengan IPK 3,91 dan predikat Pujian. Pemuda kelahiran Sukabumi, 1 Desember 2004, yang kini berdomisili di Majalaya, Kabupaten Bandung, tersebut ternyata tidak pernah secara khusus memasang target untuk menjadi wisudawan tercepat.
Keputusannya menyelesaikan studi lebih cepat berawal dari pertimbangan praktis. Farhan ingin mengurangi biaya UKT dengan memperpendek masa kuliah. Karena itu, ia mengatur penyelesaian skripsinya agar dapat dituntaskan dalam waktu sekitar enam bulan.
“Sebenarnya dari awal saya tidak menargetkan untuk menjadi wisudawan tercepat. Namun, karena ingin memangkas biaya UKT juga, akhirnya saya mengatur agar proses skripsi bisa dipercepat menjadi sekitar enam bulan,” ungkapnya.
Skripsi Farhan membahas strategi komunikasi interpersonal tour guide dalam meningkatkan kepuasan wisatawan. Penelitian tersebut dimulai dari Seminar Proposal pada November dan kemudian diselesaikan hingga sidang skripsi pada Januari.
Walaupun menyelesaikan kuliah dalam waktu relatif singkat, aktivitas Farhan tidak hanya berkutat pada kegiatan akademik. Ia aktif sebagai Asisten Laboratorium Radio Fikom Unisba, pengisi siaran radio, sekaligus MC berbagai kegiatan seminar kampus.
Pengalaman jurnalistik juga diperolehnya ketika menjalani magang sebagai reporter di Radio Elshinta 89,3 FM Bandung selama dua bulan pada September–Oktober 2024.
Dalam bidang penelitian, Farhan bersama timnya, Bobis dan Firgifa, berhasil meraih Best Research Award dalam Parade Riset Fikom Unisba 2025.
Ia juga mengikuti seluruh rangkaian Pendidikan Agama Islam (PAI) 1–7 serta Pesantren di Unisba. Menurut Farhan, kegiatan tersebut memberikan bekal spiritual sekaligus memperkuat nilai-nilai keislaman selama menjalani pendidikan.
Dukungan keluarga, teman-teman, dan dosen pembimbing Dr. Oji Kurniadi, Drs., M.Si., turut menjadi bagian penting dalam perjalanan Farhan menyelesaikan studinya.
Setelah lulus, Farhan berencana memasuki dunia kerja terlebih dahulu untuk memperkaya pengalaman dan portofolio sebelum melanjutkan pendidikan ke jenjang magister.
“Semoga pencapaian ini bisa memberikan motivasi dan inspirasi bagi adik-adik tingkat di Unisba agar bisa menjalani kuliah dengan baik dan lulus tepat waktu,” tutup Farhan.
Najwa Zahra Tunnisa, Wisudawan Termuda Unisba di Usia 20 Tahun
Sementara itu, kisah berbeda datang dari Najwa Zahra Tunnisa. Lulusan Fakultas Kedokteran Unisba tersebut berhasil menjadi wisudawan termuda setelah menyelesaikan pendidikan Sarjana Kedokteran pada usia 20 tahun 10 bulan 21 hari.
Perempuan asal Bekasi ini memang telah menjalani pendidikan formal lebih cepat dibandingkan kebanyakan anak seusianya. Najwa bahkan sudah memasuki sekolah dasar pada usia lima tahun.
Menurutnya, perjalanan pendidikan tersebut bukan karena mengikuti program akselerasi. Sejak awal, ia memang menjalani pendidikan lebih cepat.
“Awalnya orang tua bilang coba saja ikut dulu. Kalau tidak naik kelas juga tidak apa-apa. Tapi ternyata naik-naik, bisa lanjut,” cerita Najwa.
Perjalanan tersebut kemudian berlanjut hingga perguruan tinggi. Najwa diterima di Fakultas Kedokteran Unisba pada usia 17 tahun sebagai bagian dari angkatan 2022.
Meski usianya lebih muda satu hingga dua tahun dibandingkan sebagian teman seangkatannya, Najwa tidak mengalami kendala berarti dalam beradaptasi.
“Enggak terlalu gimana-gimana, karena jaraknya juga enggak terlalu jauh sama teman-teman yang lain. Beda satu atau dua tahun, jadi masih bisa mengikuti,” ujarnya.
Sebagai mahasiswa kedokteran, Najwa harus menjalani perkuliahan yang cukup padat. Di tengah kesibukan tersebut, ia tetap aktif mengikuti berbagai kegiatan, seperti pesantren, bela negara, dan organisasi mahasiswa.
Najwa bergabung dengan BEM Fakultas Kedokteran sebagai anggota Departemen JAMTIBI (Jami’yyatul Mutt’alimi Thibbil Islam).
Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi Najwa adalah kebersamaan dengan teman-temannya. Padatnya pendidikan kedokteran membuat mereka terbiasa belajar bersama dan saling berbagi, terutama ketika menghadapi ujian.
“FK sendiri kan sangat berat. Jadi kami suka belajar bareng-bareng. Pas tiap ujian kita belajar bareng, sharing semua bareng-bareng,” tuturnya.
Najwa juga mengalami perubahan pola pembelajaran dari sistem daring menuju tatap muka. Ketika pertama masuk kuliah, sebagian besar kegiatan masih dilakukan secara online. Ia baru merasakan suasana perkuliahan tatap muka secara lebih penuh ketika memasuki semester tiga.
Cita-cita menjadi dokter telah dimiliki Najwa sejak kecil. Setelah belum berhasil mendapatkan perguruan tinggi negeri yang menjadi pilihannya, ia kemudian mendaftar ke sejumlah perguruan tinggi swasta di Bandung hingga akhirnya diterima di Unisba.
Kini, setelah menyelesaikan pendidikan Sarjana Kedokteran, Najwa masih harus menjalani tahap profesi sebelum resmi menjadi dokter.
Untuk pilihan spesialisasi, ia belum menentukan bidang tertentu karena ingin mendapatkan pengalaman lebih banyak selama menjalani koas. Namun, Najwa mulai tertarik pada bidang Manajemen Rumah Sakit dan memiliki rencana melanjutkan pendidikan S2 di bidang tersebut.
“Untuk spesialis belum tahu, tapi ada niatan ngambil S2 Manajemen Rumah Sakit,” ujarnya.
Seperti Meisya dan Farhan, predikat sebagai wisudawan termuda juga bukan sesuatu yang sejak awal menjadi target Najwa. Ia hanya menjalani setiap tahap pendidikan dengan sungguh-sungguh hingga akhirnya mencapai pencapaian tersebut.
“Yakin saja untuk terus berusaha. Pasti tiap usaha juga enggak akan mengkhianati hasil kita. Jadi terus saja berjuang,” pesannya.
Kisah Meisya, Farhan, dan Najwa memperlihatkan bahwa prestasi mahasiswa Unisba dapat lahir dari proses yang berbeda-beda.
Meisya meraih IPK tertinggi 3,98 melalui konsistensi dalam mengikuti pembelajaran. Farhan menjadi wisudawan tercepat dengan mengatur waktu studi dan penyelesaian skripsi secara efektif. Sementara Najwa menjadi wisudawan termuda setelah menjalani pendidikan sejak usia lebih dini.
Ketiganya membuktikan bahwa prestasi tidak selalu harus diawali dengan ambisi untuk menjadi yang terbaik, tercepat, ataupun termuda. Konsistensi, kedisiplinan, keberanian memanfaatkan peluang, serta kemauan untuk terus belajar dapat membawa seseorang pada pencapaian yang tidak pernah direncanakan sebelumnya.
Wisuda Unisba bukan sekadar seremoni kelulusan. Di balik setiap gelar dan prestasi, ada perjalanan panjang, kerja keras, dukungan keluarga, pengalaman akademik, serta proses pembentukan diri yang menjadi bekal untuk menghadapi masa depan.(ask)***





