Feature

Dari Gagal OPSI hingga Korea, Riset Kanker Antar Nizar Meraih Beasiswa 3M Unisba

27views

KEGAGALAN  tidak selalu menjadi akhir dari sebuah perjuangan. Bagi Nizar Nurzaman Gunawan, mahasiswa baru Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (Unisba), pengalaman tidak lolos final Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) justru menjadi pemantik semangat untuk terus mengembangkan kemampuan risetnya.

Dari pengalaman tersebut, Nizar melangkah lebih jauh. Penelitian mengenai potensi senyawa biologis untuk kanker payudara membawanya tampil dalam ajang Korea Science and Engineering Fair (KSEF) 2025 di Korea Selatan. Prestasi itu kemudian turut mengantarkannya memperoleh Beasiswa Mujahid, Mujtahid, dan Mujaddid (3M) Unisba kategori riset.

Beasiswa 3M Unisba merupakan bagian dari komitmen universitas dalam membentuk generasi yang memiliki karakter Islami, berdaya saing global, serta mampu memberikan kontribusi bagi perkembangan masyarakat. Nilai Mujahid mencerminkan semangat perjuangan, Mujtahid menggambarkan kemampuan intelektual, sedangkan Mujaddid merepresentasikan semangat pembaruan.

Ketiga nilai tersebut menjadi landasan dalam mendorong lahirnya generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian untuk menghadirkan perubahan melalui ilmu dan karya.

Ketertarikan Nizar terhadap dunia penelitian mulai tumbuh ketika dirinya masih bersekolah di SMA Al Muttaqin Kota Tasikmalaya. Pada masa itu, ia berkesempatan mengikuti Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI).

Meskipun belum berhasil melaju ke babak final, pengalaman tersebut tidak membuatnya berhenti. Sebaliknya, Nizar menjadikan proses itu sebagai bahan evaluasi sekaligus kesempatan untuk terus mengasah kemampuan penelitian.

Peluang berikutnya hadir ketika ia memperoleh informasi mengenai KSEF 2025, kompetisi penelitian bertaraf internasional yang diselenggarakan di Korea Selatan. Dengan bekal pengalaman dari OPSI dan pembinaan yang diperoleh di sekolah, Nizar bersama seorang rekannya kembali mempersiapkan penelitian untuk mengikuti ajang tersebut.

Dari kegagalan itu mulai tumbuh semangat dan jiwa kompetisi saya untuk terus berprestasi,” ujar Nizar.

Semangat tersebut membawanya mengembangkan penelitian berjudul “Potential Secondary Metabolites of The Fungus Trichoderma sp. As A Biological Agent Candidate for Breast Cancer: In Vitro and In Silico Approach”.

Penelitian itu mengkaji potensi metabolit sekunder yang dihasilkan jamur Trichoderma sp. sebagai kandidat agen biologis untuk kanker payudara. Salah satu hal menarik dari penelitian tersebut adalah objek jamur yang dapat ditemukan di lingkungan sekitar, termasuk pada area pepohonan pisang.

Dalam penelitiannya, Nizar dan tim menggunakan dua pendekatan, yaitu in vitro dan in silico. Pendekatan in vitro memanfaatkan Artemia salina atau brine shrimp untuk menguji toksisitas senyawa yang diteliti.

Sementara itu, pendekatan in silico dilakukan melalui analisis farmakokinetik dan molecular docking. Analisis tersebut digunakan untuk mengamati kemungkinan interaksi senyawa dengan target protein yang berkaitan dengan kanker payudara.

Riset Masih Berada pada Tahap Pengembangan

Capaian penelitian yang dirintis sejak SMA menjadi salah satu faktor yang mendukung Nizar memperoleh Beasiswa 3M Unisba kategori riset. Beasiswa tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan akademiknya saat melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran Unisba.

Namun, Nizar menegaskan bahwa penelitian yang dilakukan belum sampai pada tahap menghasilkan obat yang dapat digunakan untuk pengobatan manusia. Riset tersebut masih membutuhkan pengembangan dan kajian lebih lanjut.

Masih perlu waktu untuk dikembangkan sehingga nantinya bisa menjadi kandidat obat yang efektif untuk mengurangi pertumbuhan kanker payudara,” katanya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa perjalanan menuju penemuan kandidat obat masih panjang. Penelitian yang dilakukan Nizar merupakan bagian dari proses ilmiah yang membutuhkan pengujian, pengembangan, dan penelitian lanjutan.

Keinginan Nizar menekuni dunia kedokteran tidak lahir tanpa alasan. Pemuda yang berasal dari Kecamatan Cikatomas, Kabupaten Tasikmalaya, itu tumbuh dengan melihat tantangan akses pelayanan kesehatan yang masih dihadapi sebagian masyarakat di daerahnya.

Bagi sejumlah warga, memperoleh layanan kesehatan yang lebih baik terkadang membutuhkan perjalanan cukup jauh. Pengalaman tersebut perlahan membentuk keinginan Nizar untuk menjadi dokter dan ikut berkontribusi dalam menjawab persoalan kesehatan masyarakat.

Ketika menentukan pilihan perguruan tinggi, Nizar memilih Unisba. Selain mempertimbangkan reputasi Fakultas Kedokteran, ia juga melihat kiprah alumni FK Unisba yang telah bekerja di berbagai daerah dan memperoleh penilaian positif dari masyarakat.

Kini, pengalaman riset internasional yang diraihnya semasa sekolah ingin terus dikembangkan di lingkungan kampus. Nizar menargetkan dapat menyelesaikan pendidikan kedokteran tepat waktu dengan pencapaian akademik yang optimal.

Beasiswa 3M dan Harapan Meringankan Beban Keluarga

Menjalani pendidikan di Fakultas Kedokteran tentu memiliki tantangan tersendiri, salah satunya berkaitan dengan biaya pendidikan. Dalam konteks tersebut, Beasiswa 3M Unisba memiliki makna penting bagi Nizar dan keluarganya.

Selain membantu meringankan beban orang tua, beasiswa tersebut juga menjadi ruang bagi Nizar untuk melanjutkan pengembangan prestasi, khususnya di bidang penelitian.

Meski demikian, Nizar memandang beasiswa bukan hanya sebagai dukungan pembiayaan pendidikan. Ia ingin menjadikan kesempatan tersebut sebagai dorongan untuk mengembangkan karya dan membagikan pengalaman kepada orang lain.

Saya ingin prestasi yang saya punya bisa dikembangkan dan dipublikasikan, sehingga bisa memberikan motivasi bagi orang lain untuk mengikuti jejak saya.

Nizar berharap Unisba terus membuka ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan melalui penelitian, organisasi, dan berbagai kompetisi. Di lingkungan kampus, ia telah diarahkan untuk melanjutkan aktivitas melalui BEM Fakultas Kedokteran sekaligus mengembangkan potensi penelitian lewat Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).

Ke depan, Nizar berencana melanjutkan penelitian yang pernah dikerjakannya, termasuk mengeksplorasi kemungkinan pengembangan kandidat obat. Selain bidang kanker payudara, ia juga memiliki ketertarikan terhadap penelitian di bidang saraf dan berbagai persoalan kesehatan yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat.

Baginya, dunia kedokteran tidak hanya berkaitan dengan tindakan pengobatan. Ilmu pengetahuan dan penelitian juga memiliki peran dalam mencari solusi atas berbagai tantangan kesehatan.

Perjalanan Nizar memperlihatkan bahwa prestasi dapat tumbuh dari pengalaman yang tidak selalu berjalan sesuai harapan. Kegagalan di OPSI justru menjadi salah satu tahapan yang membawanya menuju kompetisi penelitian internasional di Korea Selatan.

Karena itu, Nizar mengajak para pelajar dan mahasiswa yang memiliki potensi, tetapi masih merasa terbatas oleh keadaan, untuk berani mencoba dan tidak mudah menyerah.

Percayalah bahwa segala sesuatu itu pasti ada jalannya. Mau kita jatuh sekalipun, tentu pasti ada titik terangnya.

Pesan tersebut menjadi refleksi dari perjalanan yang telah dilaluinya. Bagi Nizar, potensi perlu diperjuangkan dan kesempatan harus diupayakan. Kegagalan tidak selalu menutup jalan, melainkan dapat menjadi awal menuju pengalaman dan pencapaian yang lebih besar.

Dari Cikatomas menuju Fakultas Kedokteran Unisba, Nizar membawa tekad untuk terus belajar, meneliti, dan mengembangkan diri. Ia berharap kelak dapat menjadi dokter yang tidak hanya berperan dalam mengobati pasien, tetapi juga menghadirkan solusi kesehatan melalui ilmu pengetahuan dan penelitian.(ask)***

Leave a Response