Pendidikan

Rahasia Pendekatan Roots: Cara Baru Mengubah Pendidikan Untuk Meraih  Puncak

Rahasia Pendekatan Roots: Cara Baru Mengubah Pendidikan Untuk Meraih  Puncak

602views

Pendekatan “akar” dalam pengelolaan pendidikan mengedepankan penguatan fondasi dasar untuk membangun tata kelola yang berkelanjutan, adaptif, dan lebih relevan bagi masyarakat setempat. Sebagai pendekatan yang diterapkan pada nilai-nilai lokal dan keterlibatan masyarakat, akar tekanan pentingnya kolaborasi antara sekolah, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya untuk membangun sistem pendidikan yang tidak hanya mengutamakan standar akademis tetapi juga mampu menjawab kebutuhan sosial-ekonomi lokal. Menurut ahli pendidikan Michael Fullan dalam “The Six Secrets of Change”, “perubahan yang signifikan dalam pendidikan hanya akan terjadi bila pendekatannya menyatu dengan karakter.

Oleh : Entang Rukman S.Pd

PENDEKATAN – “roots” dalam pendidikan dihapuskan pada gagasan bahwa sekolah bukan hanya sebagai tempat belajar formal, tetapi juga sebagai pusat komunitas yang memperkuat hubungan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat. Pendekatan ini bertujuan mengembangkan pendidikan yang relevan dengan konteks lokal, memperkuat partisipasi masyarakat, dan mendayagunakan sumber daya lokal. Seiring berjalannya waktu, pendekatan root telah berkembang menjadi salah satu cara untuk menghadapi tantangan pendidikan di berbagai belahan dunia.

Awal Mula Pendekatan Roots

Gagasan pendidikan berbasis komunitas telah muncul sejak awal abad ke-20, ketika para reformis pendidikan mulai menyadari bahwa sekolah harus memainkan peran yang lebih besar dalam masyarakat. John Dewey, seorang filsuf pendidikan terkemuka dari Amerika Serikat, adalah salah satu tokoh awal yang mempengaruhi pendekatan ini. Dalam bukunya “Democracy and Education” (1916), Dewey menyarankan agar pendidikan menjadi proses yang aktif dan sosial, yang melibatkan siswa dalam pengalaman nyata yang relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka. Dewey percaya bahwa sekolah harus berperan sebagai miniatur dari masyarakat yang lebih besar dan membantu siswa mengembangkan keterampilan untuk berkontribusi dalam kehidupan sosial.

Perkembangan Lebih Lanjut di Era 1960-an dan 1970-an:

Pada tahun 1960-an hingga 1970-an, pendekatan root semakin berkembang sebagai respon terhadap kebutuhan untuk meningkatkan relevansi pendidikan di daerah-daerah terpencil dan miskin. Di Amerika Serikat, gerakan community schooling mulai tumbuh dengan tujuan agar sekolah menjadi pusat bagi berbagai aktivitas sosial dan komunitas. Program-program ini melibatkan orang tua, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan dalam proses pendidikan untuk memastikan bahwa sekolah tidak beroperasi secara terlindungi dari kehidupan masyarakat.

Pada periode yang sama, Paulo Freire, seorang pendidik dan filsuf asal Brasil, juga memperkenalkan pendekatan pendidikan yang sangat sejalan dengan prinsip akar. Dalam bukunya “Pedagogy of the Oppressed” (1968), Freire menekankan pentingnya pendidikan sebagai proses pemberdayaan, di mana masyarakat terlibat langsung dalam menentukan arah pendidikan. Bagi Freire, pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan dari guru ke siswa, tetapi proses transparansi yang melibatkan dialog dan keterlibatan komunitas. Konsepnya tentang dialogis pendidikan dan kesadaran kritis menjadi fondasi penting dalam pendekatan akar.

Pendekatan Roots di Abad ke-21: Teori dan Praktek:

Pada awal abad ke-21, pendekatan akar mendapat lebih banyak perhatian, terutama dengan berkembangnya teori Asset-Based Community Development (ABCD) yang dipelopori oleh John McKnight dan Jody Kretzmann. ABCD pentingnya melihat komunitas sebagai sumber daya yang kaya akan potensi, bukan sebagai objek bantuan. Dalam konteks pendidikan, ABCD mendorong sekolah untuk menggali kekuatan dan aset lokal, seperti keanggotaan warga, organisasi lokal, dan sumber daya alam, sebagai bagian dari kurikulum dan program pendidikan. Teori ini memperluas pendekatan akar dengan memberikan kerangka yang jelas tentang bagaimana memberdayakan komunitas melalui pendidikan.

Selain itu, pendekatan Appreciative Inquiry, yang dikembangkan oleh David Cooperrider, juga berperan penting dalam memperkuat pendekatan root. Cooperrider mengemukakan bahwa perubahan yang positif dapat dicapai dengan fokus pada kekuatan dan pencapaian suatu komunitas, daripada kelemahannya. Dalam pendidikan, prinsip inkuiri apresiatif mendorong sekolah untuk menghargai nilai-nilai dan keberhasilan yang sudah ada di komunitas, serta memanfaatkan hal-hal positif tersebut untuk memperkuat sistem pendidikan.

Penggunaan Pendekatan Roots di Berbagai Negara:

Pendekatan akar telah diterapkan di berbagai negara, terutama di wilayah yang memiliki tantangan sosial dan ekonomi. Di beberapa negara berkembang, seperti India dan Afrika Selatan, pendekatan ini telah digunakan untuk mengatasi kesenjangan pendidikan di daerah terpencil dan marginal. Komunitas sekolah-sekolah dibangun dengan melibatkan warga setempat, di mana kurikulum disesuaikan dengan kebutuhan lokal, seperti pertanian, teknologi sederhana, atau kerajinan tangan.

Di Finlandia, pendekatan akar juga menjadi salah satu alasan mengapa sistem pendidikan negara tersebut diakui dunia. Sekolah-sekolah di Finlandia bekerja sama dengan komunitas untuk memastikan bahwa pendidikan relevan dan mendukung perkembangan sosial siswa. Sistem ini memungkinkan siswa untuk berinteraksi dengan masyarakat dan belajar melalui pengalaman, yang dinilai lebih efektif daripada pendekatan akademik murni.

Tantangan dan Masa Depan Pendekatan Roots

Meskipun pendekatan root menawarkan banyak manfaat, pelaksanaannya tidak selalu mudah. Salah satu tantangan utama adalah membangun kolaborasi antara sekolah dan komunitas yang beragam, dengan latar belakang ekonomi dan sosial yang berbeda. Selain itu, pendekatan ini memerlukan komitmen yang kuat dari semua pihak, termasuk guru, orang tua, dan pemerintah, serta ketersediaan sumber daya yang memadai.

Ke depan, pendekatan root berpotensi untuk terus berkembang, terutama dengan dukungan teknologi dan akses informasi yang semakin mudah. Teknologi dapat menjadi alat yang efektif untuk memperkuat keterhubungan antara sekolah dan komunitas, misalnya melalui platform digital yang memungkinkan orang tua dan warga untuk berpartisipasi dalam kegiatan sekolah. Dalam menghadapi perubahan global, pendekatan root tetap relevan sebagai metode yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membangun ketahanan, identitas, dan kemandirian sosial.

Sejarah pendekatan akar dalam pendidikan menunjukkan bahwa pendidikan yang efektif harus dihilangkan pada komunitasnya. Sejak ide-ide awal dari John Dewey hingga pengaruh Paulo Freire dan teori-teori modern seperti ABCD dan Appreciative Inquiry, pendekatan ini telah membuktikan bahwa pendidikan yang berkelanjutan adalah pendidikan yang melibatkan semua elemen masyarakat. Pendekatan akar menekankan bahwa sekolah bukan hanya lembaga akademis, tetapi juga agen perubahan sosial yang dapat memperkuat komunitas dan memberdayakan individu untuk berpartisipasi dalam membangun masa depan bersama.**(Penulis Guru Penggerak A-10 Kota Bandung)

Leave a Response