Pendidikan

Menafsir Ulang Semangat Kartini Hari Ini

21views

Oleh Muhammad Subhan

Semua orang mafhum Kartini pelopor emansipasi perempuan di Indonesia. Kartini harum namanya. Kartini adalah Pahlawan Kemerdekaan Nasional atas jasanya memperjuangkan kesetaraan gender dan hak pendidikan.

SAYA selalu terpikir, apa yang terbaru dari sosok RA Kartini setiap kali tanggal 21 April tiba dan orang-orang mengenang hari kelahirannya?

Yang pasti, sudah banyak tulisan tentang Kartini. Dan lagi, apa yang baru diketahui?

Semua orang mafhum Kartini pelopor emansipasi perempuan di Indonesia. Kartini harum namanya. Kartini adalah Pahlawan Kemerdekaan Nasional atas jasanya memperjuangkan kesetaraan gender dan hak pendidikan.

Sebagai pahlawan, ia tidak berjuang mengangkat senjata, tetapi berjuang melalui surat-suratnya yang kemudian dibukukan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Senjata yang digunakannya adalah pena.

Yang diperjuangkan Kartini adalah kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan, terutama dalam bidang pendidikan. Pendidikan di zaman kolonial Belanda, dalam benak Kartini, harus juga dinikmati perempuan.

Kartini tak ingin perempuan hanya berkutat di sumur, dapur, dan kasur. Harus berani lebih dari itu, tanpa menghilangkan kodratnya.

Itu sebabnya tokoh-tokoh emansipasi perempuan layaknya Kartini memperjuangkan tekad yang sama. Rahmah El Yunusiah di Padang Panjang, salah satunya. Ia pendiri Perguruan Diniyyah Puteri, madrasah khusus perempuan. Perempuan harus pintar, punya jiwa kepemimpinan, setidaknya kelak menjadi pendamping hidup para pemimpin sehingga pemikiran-pemikirannya juga menjadi arah kebijakan.

Kartini memang keren dan populer. Tapi tokoh perempuan lain yang tak kalah hebat juga banyak. Sebut saja Dewi Sartika (pendiri Sakola Istri), Rohana Kudus (jurnalis perempuan pertama), Sariamin Ismail atau Selasih atau Selasih Selaguri (novel perempuan pertama), dan Maria Walanda Maramis (pelopor pendidikan perempuan di Minahasa).

Tokoh lainnya termasuk Rasuna Said, Nyai Ahmad Dahlan, serta pejuang fisik seperti Cut Nyak Dien. Indonesia tak kekurangan perempuan hebat.

Di era digital hari ini, di mana kita menempatkan sosok Kartini agar tetap menjadi teladan?

Tentu, jawabannya terus berubah mengikuti zaman.

Kartini hidup di masa ketika akses pendidikan bagi perempuan nyaris tertutup. Hari ini, pintu itu telah terbuka lebar. Perempuan bisa bersekolah setinggi-tingginya, bekerja di berbagai bidang, bahkan memimpin.

Namun, apakah itu berarti perjuangan telah selesai?

Ternyata tidak.

Masalah perempuan hari ini bukan lagi sekadar akses, tetapi juga kompleksitas. Perempuan modern menghadapi tekanan berlapis. Macam-macam tekanannya.

Mulai dari tuntutan karier, tanggung jawab domestik, ekspektasi sosial, hingga standar kecantikan yang dibentuk media.

Di satu sisi, mereka didorong untuk mandiri dan sukses. Di sisi lain, mereka tetap menggunakan peran-peran tradisional yang tidak sepenuhnya berubah.

Di dalamnya semangat Kartini menemukan relevansinya kembali.

Kartini bukan sekedar nama, bukan sekedar peringatan tahunan, melainkan api yang seharusnya terus menyala. Api itu adalah keberanian berpikir, keberanian melawan ketidakadilan, dan keberanian bermimpi melampaui batas zamannya.

Semangat Kartini hari ini bisa dipungut dalam bentuk yang berbeda. Kartini hadir sebagai perempuan yang berani bersuara ketika dipinggirkan, hidup pada ibu yang memperjuangkan pendidikan anak-anaknya di tengah keterbatasan ekonomi, dan tampak pula pada perempuan pekerja yang tetap tegak meski sering diremehkan.

Terlebih lagi, Kartini bersemangat pada gadis-gadis muda yang menolak dikurung oleh stigma dan berani menentukan jalan hidupnya sendiri.

Namun, kita juga tak boleh menutup mata. Masih banyak perempuan yang berada dalam posisi rentan. Kekerasan di rumah tangga, diskriminasi di tempat kerja, hingga ketimpangan akses di daerah terpencil masih menjadi persoalan nyata.

Kemerdekaan belum sepenuhnya dirasakan oleh semua perempuan.

Di titik ini, kita seperti diingatkan kembali bahwa perjuangan belum selesai. Dan tidak akan pernah selesai.

Yang baru dari Kartini bukanlah sosoknya, karena ia telah lama kita kenal. Yang baru adalah bagaimana kita memaknai semangatnya dalam konteks kekinian.

Kartini hari ini bukan hanya mereka yang berpendidikan tinggi atau berkarier cemerlang. Kartini hari ini juga mereka yang bertahan, yang berjuang dalam diam, yang tetap kuat meski dunia tidak selalu berpihak.

Perempuan sering diibaratkan seperti lilin. Ia memberi cahaya, tetapi perlahan habis terbakar. Analoginya terasa puitis, tapi juga getir. Sebab, terlalu sering perempuan diminta berkorban tanpa henti. Untuk anak, keluarga, bahkan masyarakat, sementara dirinya sendiri sering terabaikan.

Padahal, semangat Kartini bukan mengorbankan diri sampai habis, tetapi juga berani memerdekakan diri, berdiri tegak setara, dan memiliki hak untuk bahagia tanpa harus kehilangan diri sendiri.

Jika semangat itu padam, habislah sudah.

Oleh karena itu, merayakan Kartini hendaknya tidak sekadar mengenakan kebaya atau mengunggah kutipan di media sosial. Merayakannya harus menjadi refleksi dengan pertanyaan, sudahkah kita memberi ruang yang adil bagi perempuan? Sudahkah kita mendengar suara mereka? Sudahkah kita memastikan bahwa perempuan tidak lagi menjadi “lilin” yang diam-diam habis terbakar?

Kartini telah menyalakan api itu lebih dari seabad lalu. Tugas kita hari ini adalah menjaganya tetap hidup, di mana saja: rumah, sekolah, tempat kerja, dan dalam cara kita memandang perempuan.

Percayalah kita, bahwa selama api itu menyala, harapan tidak akan pernah padam. **Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, pendiri Sekolah Menulis elipsis

Editor : Rianto Murado

Leave a Response