Adin Bondar : Perlunya Reward Pustakawan, Pegiat Literasi di “Zaman Now”
Perlunya Reward Pustakawan, Pegiat Literasi di "Zaman Now"
JAKARTA, BANDUNGPOS–Tidak dapat dielakkan lagi era teknologi informasi yang terus berkembang pesat, peran perpustakaan sebagai penyedia akses informasi mengalami transformasi yang signifikan. Jika dulunya perpustakaan merupakan tempat fisik di mana orang dapat mengakses buku dan referensi lainnya, namun di zaman sekarang perpustakaan tidak perlu lagi hadir di ruang-ruang fisik dengan adanya perpustakaan digital.
Begitulah perbincangan dengan Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, Perpustakaan Nasional RI, Dr.Adin Bondar, M.Si. dengan Tokoh Literasi Nasional asal Sulawesi Selatan, Bachtiar Adnan Kusuma di Perpustakaan Nasional RI, Jl.Salemba Raya, Jakarta Pusat.
Lebih lanjut, Adin Bondar menguraikan bahwa pustakawan harus didorong dalam gerakan sosial nasional dengan memanfaatkan platform media sosial. Nah, sekarang kata Adin Bondar, sebagai pustakawan profesional, memiliki peran yang sangat strategis terutama dalam mencerdaskan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, peran perpustakaan memiliki peran yang lebih luas daripada profesi guru. Misalnya, kata Adin Bondar, peran perpustakaan tidak hanya mendorong masyarakat agar cerdas melalui jalur pendidikan formal, namun pustakawan juga memerhatikan kualitas masyarakat Indonesia melalui pendekatan non formal dengan prinsip pendidikan sepanjang hayat.
“Kita dapat memberikan penghargaan kepada pustakawan melalui tunjangan fungsional yang lebih sejahtera. Dan, khusus untuk penghargaan bagi penggerak literasi diberikan Penghargaan Tertinggi Nugra Jasadharma Pustaloka Perpustakaan Nasional RI. “Kami menggalang penghargaan NJDP tertinggi yang diberikan kepada Bapak Presiden”, kata Adin Bondar.
“Mengapa disebut penghargaan tertinggi? Tanya Bachtiar Adnan Kusuma kepada Adin Bondar? “
“Kalau penghargaan Nugra Jasadharma Pustaloka disebut penghargaan tertinggi karena adanya apresiasi Pemerintah Pusat terhadap tokoh-tokoh masyarakat yang memiliki konstribusi besar pada negara di bidang literasi. Selain dilandasi atas amanat Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 pada pasal 49 pemerintah berkewajiban memberikan penghargaan kepada masyarakat yang telah mengabdi dan memberikan konstribusi terhadap peningkatan minat membaca di Indonesia. “kata Adin. Penghargaan tertinggi ini juga diberikan kepada masyarakat sebagai bentuk keterlibatan pemerintah pusat yang memberikan apresiasi tinggi kepada masyarakat atas perannya ikut serta serta memajukan pembangunan ekosistem literasi di Indonesia, tegas Adin Bondar.
“Jadi, dengan adanya hal-hal baru ini, bisa kita narasikan bahwa pustakawan kita yang jumlahnya 5.588 orang yang tersebar di seluruh Indonesia itu memang harus didorong menjadi gerakan sosial nasional,” ucap Adin Bondar.
Gagasan Adin itu disambut baik, Bachtiar Adnan Kusuma dengan antusias. Bachtiar Adnan Kusuma yang dikenal penulis yang telah melahirkan ratusan buku ini mendukung pemikiran Adin Bondar. Alasannya, kata BAK selain karena memang situasi perkembangan teknologi informasi telah mengubah gaya hidup manusia saat ini, juga termasuk gaya dalam mengakses buku dan perpustakaan.
“Idenya Mas Adin Bondar, sangat cemerlang dan telah dieksplor secara luas dalam bukunya “Literasi Berawal Dari Diksi, Berakhir pada Aksi”, bahwa Gerakan literasi harus menjadi gerakan nasional,” kata Bachtiar menimpali.
Adin Bondar menambahkan bahwa penting melibatkan platform media sosial dalam Gerakan literasi nasional, selain jangkauannya lebih cepat dan luas, juga biayanya lebih murah. Kehadiran instrumen media sosial penggunanya makin berkembang banyak. Begitu pula dengan kanal YouTube dengan fitur podcast serta platform Instagram sehingga tidak perlu lagi menggunakan (air time) Stasiun TV untuk melakukan branding program.
“Nah, harapan kita di perpustakaan itu termasuk taman bacaan, perpustakaan desa dan komunitas baca oleh Dinas Perpustakaan Kabupaten Kota dan provinsi itu memanfaatkan medsos untuk mempromosikan. Karena betul-betul harus ada branding, dan cara meningkatkan branding itu harus di media sosial,” tegas Adin Bondar.
Bachtiar Adnan Kusuma, selaras dengan gagasan-gagasan Adin Bondar. Menurutnya, dengan kemajuan teknologi, konsep perpustakaan telah berkembang menjadi lebih luas. Saat ini, perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai penyimpan buku, tetapi juga sebagai pusat informasi digital yang menyediakan akses ke berbagai sumber informasi elektronik seperti e-book, jurnal online, database, dan sumber daya digital lainnya. **( RM/BNN)





