Bandung Raya

Pengajian Rutin PD Wanita Islam Kabupaten Bandung Perkuat Peran Muslimah Membangun Bangsa di Era Digital

Pimpinan Daerah (PD) Wanita Islam Kabupaten Bandung menggelar pengajian rutin dua bulanan di Masjid Al-Maghfiroh, Hotel Antik, Soreang, Kabupaten Bandung, Selasa (18/8/2026). Kegiatan yang dihadiri sekitar 90 anggota dan pengurus Wanita Islam tersebut mengangkat tema “Wanita dan Kemerdekaan Bangsa”.(foto:WI)
55views

SOREANG, bandungpos.id — Pimpinan Daerah (PD) Wanita Islam Kabupaten Bandung kembali menggelar pengajian rutin dua bulanan sebagai wadah memperkuat ukhuwah Islamiyah sekaligus meningkatkan kapasitas perempuan dalam menghadapi tantangan zaman. Kegiatan yang berlangsung di Masjid Al-Maghfiroh, Hotel Antik, Soreang, Kabupaten Bandung, Selasa (18/8/2026), diikuti sekitar 90 pengurus dan anggota dengan mengangkat tema “Wanita dan Kemerdekaan Bangsa.”

Suasana pengajian berlangsung khidmat. Acara diawali dengan pembukaan, dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Wanita Islam, kemudian pembacaan ayat suci Al-Qur’an sebagai penguat semangat spiritual para peserta.

Ketua PD Wanita Islam Kabupaten Bandung, Hj. Mimin Aminah, S.Ag., M.Pd., menyampaikan bahwa peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia harus menjadi momentum bagi perempuan untuk menguatkan kembali komitmen dalam mengisi kemerdekaan melalui pengabdian di lingkungan keluarga, masyarakat, dan bangsa.

Menurutnya, perjuangan perempuan masa kini tidak lagi diwujudkan melalui perlawanan fisik seperti para pahlawan terdahulu. Tantangan yang dihadapi kini lebih kompleks, mulai dari membangun keluarga yang harmonis, mendidik generasi berkarakter, meningkatkan kualitas sumber daya perempuan, hingga menghadapi perubahan sosial dan percepatan perkembangan teknologi digital.

“Wanita Islam harus terus hadir sebagai organisasi yang memberi manfaat bagi masyarakat. Pengajian rutin bukan sekadar tempat bersilaturahmi dan memperdalam ilmu agama, tetapi juga menjadi sarana saling menguatkan serta meningkatkan kompetensi perempuan agar mampu memberikan kontribusi terbaik bagi keluarga, masyarakat, agama, dan bangsa,” ujar Mimin.

Ia juga mengajak seluruh pengurus dan anggota untuk terus menjaga kekompakan organisasi serta memperluas manfaat kegiatan hingga menyentuh masyarakat secara langsung. Menurutnya, semangat kemerdekaan harus diwujudkan melalui pendidikan, karya nyata, kepedulian sosial, serta pembinaan generasi yang beriman dan berakhlak mulia.

Muslimah Masa Kini Memiliki Medan Perjuangan yang Berbeda

Materi utama pengajian disampaikan oleh Dr. Hj. Kiki Zakiah, M.Si. dengan tema “Wanita (Muslimah) dan Kemerdekaan Bangsa: Dari Perjuangan di Medan Perang hingga Perjuangan Mendidik Generasi.”

Dalam pemaparannya, Kiki menjelaskan bahwa makna kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai bebas dari penjajahan bangsa lain, tetapi juga sebagai perjuangan membebaskan masyarakat dari kebodohan, kemerosotan moral, putus sekolah, serta berbagai ancaman yang berkembang di era digital.

Ia menghadirkan sosok Cut Nyak Dhien sebagai teladan perempuan pejuang yang tetap tegar dalam berbagai keterbatasan. Menurutnya, nilai perjuangan tersebut tetap relevan bagi perempuan Indonesia saat ini, meskipun medan perjuangannya telah berubah.

“Jika dahulu perjuangan dilakukan di medan perang, sekarang perjuangan perempuan berlangsung di rumah, sekolah, majelis taklim, organisasi kemasyarakatan, hingga ruang digital yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Kiki menambahkan bahwa Islam memberikan peran yang sangat besar kepada perempuan dalam membangun peradaban. Berdasarkan QS. At-Taubah ayat 71, laki-laki dan perempuan yang beriman memiliki tanggung jawab bersama untuk saling menolong, mengajak kepada kebajikan, serta mencegah kemungkaran.

Oleh karena itu, perempuan yang mendidik anak dengan baik, guru yang menjalankan amanah, pelaku usaha yang jujur, maupun pengurus organisasi yang mengabdi kepada masyarakat sesungguhnya sedang berkontribusi dalam membangun bangsa.

Literasi Digital Menjadi Kunci Pendampingan Anak

Dalam materinya, Kiki juga menyoroti pentingnya kesiapan keluarga menghadapi era digital. Ia menilai bahwa salah satu tantangan terbesar saat ini adalah mendampingi anak-anak agar mampu menggunakan teknologi secara sehat dan bertanggung jawab.

Berbagai persoalan seperti kecanduan media sosial, penyebaran hoaks, pornografi, konten kekerasan, perundungan siber, hingga pergaulan digital yang tidak sehat memerlukan perhatian serius dari orang tua.

“Ibu-ibu tidak harus menjadi ahli teknologi, tetapi harus memiliki kemauan untuk belajar. Literasi digital adalah bagian dari dakwah. Jika kita tidak memahami dunia digital, maka kita akan kesulitan mendampingi anak-anak menghadapi berbagai tantangan di dalamnya,” tutur Kiki.

Ia menegaskan bahwa perempuan bukan hanya penerima manfaat pembangunan, tetapi juga pelaku utama perubahan sosial. Menurutnya, terdapat empat fokus perjuangan muslimah masa kini, yakni membangun keluarga yang berkarakter, menghidupkan organisasi dan komunitas, melindungi keluarga dari ancaman dunia digital, serta meningkatkan kapasitas perempuan melalui pendidikan dan pemberdayaan.

Kiki juga menilai organisasi perempuan seperti Wanita Islam memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan ibu dan keluarga. Karena itu, organisasi harus terus berkembang menjadi pusat pembelajaran, pemberdayaan, berbagi pengalaman, sekaligus motor penggerak kegiatan sosial yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Mengisi Kemerdekaan dengan Menyiapkan Generasi Berkualitas

Menutup penyampaiannya, Kiki mengajak seluruh peserta memaknai kemerdekaan sebagai kesempatan untuk membangun masa depan bangsa melalui pendidikan dan pembinaan keluarga.

Menurutnya, kemerdekaan akan benar-benar bermakna ketika setiap anak memperoleh pendidikan yang layak, keluarga mampu menanamkan nilai-nilai agama, generasi muda dapat memanfaatkan teknologi secara bijaksana tanpa diperbudak teknologi, serta perempuan mampu berkarya dan berkontribusi di tengah masyarakat tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam.

Ia menegaskan bahwa meskipun bentuk perjuangan perempuan berubah mengikuti perkembangan zaman, amanah untuk menjaga keluarga, mendidik generasi, dan membangun bangsa tetap menjadi tanggung jawab yang harus terus dijalankan.

Pengajian rutin dua bulanan PD Wanita Islam Kabupaten Bandung kemudian ditutup dengan doa bersama. Melalui kegiatan tersebut, organisasi berharap seluruh anggotanya semakin kuat dalam keimanan, semakin luas wawasan, semakin tangguh menjaga keluarga, serta semakin aktif menghadirkan manfaat bagi masyarakat, umat, dan bangsa Indonesia.(askur/nmn)***

Leave a Response