Musik & Budaya

Ngopi Sewarung Edisi Baduy  Jaman Dorna

Ngopi Sewarung Edisi Baduy Sebuah  Jaman Dorna

254views

Ngopi Sewarung Edisi Baduy Sebuah  Jaman Dorna

Konflik antara kelompok Suten berhadapan dengan kelompok jawara pimpinan Udin yang membela proyek Rangkas Block di wilayah Ci Jahe tak bisa terhindari.

Anak-anak muda Baduy dibawah komando Suten menggunakan dua strategi perang. Perang darat dan perang langit.

Perang darat dilakukan semampunya mereka mempraktekan ilmu bela diri dan membuat aneka jebakan di dalam hutan. Sedangkan perang langit dilakukan mengundang para leluhur, kekuatan gaib, dan kekuatan alam lewat ritual adat dan bacaan mantra -mantra yang diajarkan kokolot (dalam ringkasan novel ini tak bisa diceritakan secara detail konflik yang terjadi).

Suten berkelahi head ti head dengan Udin. Hampir saja ia terkena bacokan. Untung saja ada Musung datang menolong. Musung juga terluka di tangan kanan terkena sabetan golok. Begitu juga Herman yang kakinya terluka berlumuran darah.

Suten dan rombongan berlari menjauh dari lokasi perkelahian khawatir para pendekar datang lagi membawa bala bantuan. Mereka terus berlari menuju Kampung Cikertawana, Baduy Dalam.

Akhirnya mereka tiba di saung milik Jaro Nalim, Kampung Cikertawana. Sang Jaro menerima mereka dengan prihatin dan penuh kasih. Luka mereka diobati dan diberikan nasihat serta pemahaman agar menghindari konflik fisik dengan orang luar.

“Sudahlah dihindari saja konflik, mengalah saja. Biarkan saja mereka mau pada ngapain. Kita lihat saja. Mereka terlalu kuat, punya uang dan senjata. Nanti kekuatan alam yang melawan, mereka akan jatuh sendiri. Siapapun yang merusak alam pasti akan jatuh sendiri. Sekarang ini jamannya dorna (orang yang meramaikan dunia). Para Dorna jumlahnya makin banyak dan berkuasa. Mereka (dorna) ingin berkuasa, ingin menang dan ingin ada di barisan paling depan. Mereka terus mengumpulkan harta walau dengan cara merusak alam,” kata Sang Jaro. Bibirnya tak henti-henti mengunyah daun sirih.

“Sementara yang baik-baik dan yang benar jumlahnya sedikit dan sedang minggir dulu ke balik hutan dan gunung,” kata Jaro.

“Sekarang” katanya lagi, “banyak pemimpin yang datang dari bibit ngora (bibit muda) dan bibit jelek. Mereka memang cepat tumbuh tapi jiwa mereka rapuh. Mereka tumbuh karena banyak “pupuk,” dipaksa tumbuh oleh uang. Menjadi pejabat untuk nyari untung dan kekuasaan.”

“Mereka kurang peduli dan tak mau mengerti cara menjaga alam, tidak menghargai adat istiadat leluhur dan nilai-nilai budaya asli bangsa kita. Mereka rapuh. Biarkan saja nanti juga ada waktunya mereka jatuh, ” ujar Jaro lagi. Bibirnya sudah berwarna merah terkena cairan sepah ( daun sirih yang dicampur dengan kapur, buah pinang dan sedikit tembakau).

Suten mendengarkan semua nasihat Jaro dengan khusuk sambil menahan rasa sakit pada luka di kaki.

Malam makin hening. Suara jangkrik dan kodok bersenandung saling bersahutan dengan lolongan anjing yang terdengar jauh dari balik hutan dan gunung.

Get the feeling
Mr. Ten

.

Leave a Response