
Oleh: Ridhazia
POLITISI itu kerap menghalalkan segala cara, manipulatif, dan mengabaikan etika demi kekuasaan.
Mengapa?
Semua itu berakar dari persaingan politik yang ketat yang menuntut kemenangan sebagai satu-satunya cara mempertahankan pengaruh politik.
Mentalitas menang atau kalah (zero-sum game) telah memaksa para politisi memilih pertarungan keras, kotor dan anarkis sebagai keharusan.
Jalan realistis itu menjadi satu-satunya pilihan untuk mengamankan posisi agar tidak tersingkir dan mempertahanan kekuasaan.
Apalagi di negara dengan sistem politik transaksional — merangkul banyak partai sekaligus membentuk koalisi besar — mengasumsikan kekuasaan itu sebagai komoditas yang bisa diperjualbelikan dan mendapatkan jatah kekuasaan dan anggaran.*
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.


