
Oleh: Ridhazia
KEMATIAN sebagai “agen perubahan” bermakna bahwa kefanaan adalah pendorong utama evolusi dan pembaharuan.
Tanpa adanya siklus akhir bagi yang lama, tidak akan pernah ada ruang bagi kehidupan baru, inovasi, maupun evolusi untuk tumbuh dan berkembang.
Filosofi ini sangat populer dari pernyataan Steve Jobs di Stanford (1955-2011) mantan CEO, dan visioner utama di balik perusahaan teknologi dunia sekaligus pribadi jenius di balik produk-produk ikonik yang mengubah gaya hidup masyarakat modern.
Kesadaran Baru
Kematian bagi Jobs tak lebih sebagai kesadaran akan batas untuk berhenti membuang waktu, dan hidup lebih otentik, serta kemauan mengejar hal yang benar-benar bermakna.
Pandangan mendalam mengenai kematian juga dikupas secara luas dalam literatur filsafat kuno bahwa bahwa kematian bukan sebagai kehancuran mutlak, melainkan sebagai transisi yang memberi nilai dan urgensi pada keberadaan manusia.
Steve Jobs mengidentifikasi kematian dimaksud sebagai kematian metamorfosis seperti hancurnya kebiasaan lama, karier, atau pola pikir lama untuk terlahir kembali menjadi versi diri yang lebih baik.
Kematian metamorfosis menjadi titik balik yang radikal, bukan lagi akhir yang trgais. Tapi dorongan kuat yang mempercepat transformasi menuju versi diri yang lebih baik.*
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

