
Oleh: Ridhazia
KATA civil phobia semakin kencang disebut setelah acara Konsolidasi Nasional Konferensi Republik yang bertajuk “Jalan Menata Kembali Republik” di Kampus UI Salemba, Jakarta Pusat, pada 28 Juni 2026 dibatalkan secara mendadak pada pukul 01.00 WIB.
Civil Phobia
Sejak pembatalan acara di kampus UI itu wacana dugaan kalau suasana politik di Indonesia sedang memasuki fase yang disebut civil phobia.
Dalam kamus politik civil phobia secara harfiah menggambarkan kecurigaan atau ketakutan berlebih dari pemegang kekuasaan terhadap kritik dan aspirasi.
Dalam diskursus demokrasi modern, civil phobia identik dengan siklus saling curiga yang tiada akhir antara penguasa dengan rakyat.
Bahaya Kesendirian
Kekuasaan yang menakutkan rakyat hanya akan menciptakan penguasa dalam “kesendiriannya” dengan kepemimpinan yang terisolasi dan hanya dikelilingi oleh pemujanya.
Dan, secara paradoks bisa menciptakan kerentanan yang berkepanjangan karena mekanisme deteksi dini dari rakyat terhadap kesalahan sang penguasa ditutup rapat rapat.
Tanpa adanya koreksi, kebijakan yang cacat akan terus dijalankan hingga berujung pada kegagalan atau krisis yang tidak terduga.*
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.


