Opini

Menyoal Diri yang Belum Selesai

Menyoal Diri yang belum Selasai

86views

Oleh: Hamdan Juhannis ( Rektor UIN Alauddin Makasar)

Saya ingin melanjutkan pembahasan tentang ciri-ciri orang yang belum selesai dengan dirinya. Seiring dengan banyaknya perdebatan tentang topik ini, saya ingin menguraikan bahwa esensi diri yang sudah selesai atau belum, bukan untuk memindahkan jati diri manusia menjadi Malaikat.

PEMBAHASAN   ini hanyalah menggambarkan pengukuran diri, apakah dalam hidup ini ada pergerakan menuju pribadi yang lebih baik dari kemarin. Apakah kita masih berkutat pada masalah-masalah kehidupan yang kalau masih menjangkiti kita secara permanen berarti itulah mungkin yang disebut sebagai orang yang belum selesai dengan dirinya.

Katanya, orang yang belum selesai dengan dirinya, konflik batinnya masih sering berkecamuk. Konflik selalu hadir karena takaran kehidupannya adalah pencapaian kesenangan, bukan ketenangan. Orang yang tidak selesai dengan dirinya sendiri, berburu kehidupan seperti mengayuh sepeda statistik, sibuk berlari tapi tidak pernah sampai. Laksana meminum air laut, semakin diminum semakin haus.

Pernah kena kadas, kurap, dan gatal jamur? Itu penyakit langganan saya waktu kecil. Termasuk kutu air di sela-sela jari kaki. Enak sekali saat digaruk, makin digaruk maskin asyik. Namun setelah berhenti jadinya pedas. Itulah gambaran tentang pencarian kesenangan yang tidak pernah sampai di garis finish.

Kata orang, diri juga tidak pernah selesai ketika memiliki kebiasaan suka membanding-bandingkan hidupnya dengan orang lain. Sisi hidupnya selalu dilihat pada diri orang lain. Apakah dirinya lebih sukses dari orang lain, lebih sering dihargai, lebih pintar, lebih bahagia dari yang lain. Termasuk selalu membandingkan bahwa kelengkapan ketakwaannya lebih tinggi dari orang lain, karena akesoris keberagamaannya lebih menonjol dari yang lain.

Sikap yang selalu memberitakan pasti bermasalah, karena prinsip di atas langit ada langit berlaku dalam kehidupan. Orang yang tidak selesai dengan dirinya cenderung tidak menerima kenyataan hidup seperti itu. Akhirnya yang terjadi adalah tidur yang tidak bisa nyenyak, atau makan yang tidak pernah berselera.

Orang yang belum selesai dengan dirinya sendiri menganggap keunggulan orang lain sebagai ancaman bagi dirinya sendiri. Pencapaian orang bukan sebagai jalan berkahnya untuk mendapatkan pertolongan bila suatu saat mengalami kesulitan.

Jadi diri yang belum selesai bukan lebih dari persoalan cara pandang terhadap dunia. Cara memandang yang tidak bersedia untuk “menerima”. Cara pandang yang tidak siap untuk “melepaskan.” Cara memandang yang tidak rela untuk “tiada”, atau cara memandang yang tidak nyaman untuk merasa “di bawah”. Padahal di situlah jati diri kemanusiaan teruji, dan bunyi-bunyian hidup terokestrasi. Menyetel cara pandang itulah yang membuat hidup ini menjadi lebih hidup. Mari menerapkannya, karena saya saja belum. **Penulis Rektor UIN Alauddin , Kota Makasar

Editor : Rianto Muradi

Leave a Response