
Oleh Muhammad Subhan
Hasil Program for International Student Assessment (PISA) yang diselenggarakan Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) dalam beberapa siklus terakhir menunjukkan kemampuan literasi membaca siswa Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah besar. Laporan literasi nasional yang dirilis Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi juga mengonfirmasi pertahanan tersebut

SEORANG guru mengirim pesan kepada saya. Benar saja. Katanya, di zaman sekarang susah menyuruh siswa membaca buku. Kalau membaca pun karena dipaksa. Jika tidak ditegur dengan keras, mereka tak akan menyentuh buku. Lalu dia bertanya, apa yang harus dilakukan?
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi jawabannya tidak bisa hitam-putih: ya atau tidak.
Mungkinkah siswa hari ini kurang memanfaatkan buku?
Dalam banyak konteks, memang terlihat minat membaca buku cetak rendah. Hasil Program for International Student Assessment (PISA) yang diselenggarakan Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) dalam beberapa siklus terakhir menunjukkan kemampuan literasi membaca siswa Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah besar. Laporan literasi nasional yang dirilis Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi juga mengonfirmasi pertahanan tersebut.
Namun, kesimpulannya adalah siswa “tidak membaca sama sekali” jelas keliru. Mereka masih membaca, hanya medianya saja yang berbeda. Mereka membaca percakapan di gawai, teks media sosial, komik digital, berita singkat, video takarir, dan lainnya. Yang berubah bukanlah aktivitas membaca, melainkan cara dan kedalamannya.
Tantangan terbesar bukan sekedar rendahnya frekuensi membaca, tetapi rendahnya ketahanan membaca teks yang panjang, mendalam, dan reflektif seperti buku.
Generasi hari ini hidup dalam ketegangan ekonomi. Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube dirancang dengan algoritma yang membuat pengguna terus bertahan. Video pendek, notifikasi, dan sistem gulir tanpa akhir (gulir tak terbatas), semuanya bekerja mempertahankan perhatian.
Buku melawan sistem yang sangat berbeda. Ia menuntut fokus yang panjang, tidak memberi dopamin secara instan, dan tidak menghadirkan umpan balik cepat. Bagi remaja yang terbiasa dengan ritme cepat, teks panjang terasa berat. Ini bukan semata-mata masalah kemalasan, melainkan pergeseran pola konsumsi informasi.
Jika sekolah tidak menyadari perubahan lanskap ini, buku akan selalu kalah dalam ketegangan kompetisi. Masalahnya bukan pada teknologi, melainkan pada ketidaksiapan kita dalam mengelola dampaknya.
Lalu, benarkah siswa membaca hanya karena takut ditegur guru? Di sebagian sekolah, penjelasannya mungkin iya.
Budaya membaca masih bersifat instruktif: membaca karena ada tugas, karena ada nilai, atau karena takut dimarahi. Jika motivasinya bersifat eksternal seperti nilai, hukuman, dan teguran, kebiasaan itu jarang bertahan lama. Begitu pengawasan hilang, kebiasaan pun ikut sirna.
Di sinilah kita perlu membedakan antara program dan budaya.
Program bisa berupa 15 menit membaca sebelum pelajaran (meski kebiasaan bagus ini sudah tampak jarang dilakukan—pen.), tugas rangkuman, atau laporan resensi. Program itu penting, tetapi sering kali berhenti pada aspek administratif. Siswa justru menangkap satu pesan tersembunyi: membaca adalah kewajiban formal.
Budaya berbeda dengan program. Budaya berarti guru ikut membaca. Kepala sekolah berbicara tentang buku dalam rapat dan apel pagi. Di rumah, orang tua menyediakan waktu membaca. Lebih ampuh lagi jika kepala daerah dan para pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) mengampanyekan kebiasaan membaca secara konsisten. Memegang buku saja seorang kepala daerah lalu membagikannya ke media sosial, dampaknya akan luar biasa. Apalagi jika benar-benar membaca.
Teladan sosial menciptakan legitimasi kultural: membaca bukan sekedar aktivitas sekolah, melainkan identitas bersama.
Budaya juga berarti ada ruang diskusi, bukan sekadar laporan. Ada percakapan, bukan hanya penilaian. Dan yang paling penting, membaca dikaitkan dengan kehidupan nyata. Jika tidak, siswa membaca hanya saat bersantai. Begitu kontrolnya hilang, kebiasaan pun hilang. Begitu program selesai, aktivitas membaca pun selesai.
Faktor lain yang jarang dibicarakan adalah relevansi buku. Banyak perpustakaan sekolah yang masih dipenuhi buku lama, tema berat, bahasa kaku, dan minim genre populer. Padahal, siswa hari ini menyukai visual—seperti komik atau novel grafis—serta tertarik pada tema identitas, teknologi, hubungan sosial, dan menginginkan tokoh yang dekat dengan dunia mereka. Ketika koleksi tidak diperbarui, pesan tak sadar yang sampai adalah: buku ini bukan milikmu.
Literasi bukan sekadar ketersediaan buku, melainkan ketersediaan buku yang relevan secara emosional dan kontekstual.
Ada juga faktor struktural: beban guru. Guru hari ini dibebani laporan berlapis, target kurikulum, evaluasi administratif, hingga kegiatan seremonial. Waktu untuk membaca buku baru, menyampaikan bacaan dengan siswa, atau merancang program literasi kreatif menjadi terbatas. Ekosistem literasi tidak mungkin tumbuh jika guru sendiri tidak memiliki ruang untuk menjadi pembaca aktif. Literasi membutuhkan waktu, dan waktu guru sering kali habis untuk hal-hal non-pedagogis.
Empat faktor—distraksi digital, buku tak relevan, budaya sekolah yang administratif, dan beban guru—penjualan terkait. Ini adalah krisis ekosistem, bukan semata krisis siswa. Jika kita hanya menyalahkan generasi muda, kita kehilangan kesempatan memperbaiki desain pembelajaran, pengelolaan perpustakaan, kepemimpinan sekolah, dan kebijakan beban kerja.
Alih-alih bertanya, “Mengapa siswa malas membaca?”, mungkin kita perlu bertanya: Apakah sekolah lebih menarik daripada gawai? Apakah buku yang tersedia sesuai dengan dunia mereka? Apakah guru masih punya waktu untuk menjadi pembaca? Apakah membaca memberi pengalaman menyenangkan?
Apa yang bisa dilakukan?
Jawabannya: jangan mulai dari buku; dimulai dari cerita. Ya, berceritalah. Ceritakan secara lisan. Rasa ingin tahu lebih kuat daripada perintah. Kisah itu bersumber dari buku. Bacakan cuplikan menarik, hentikan di bagian klimaks, dan biarkan rasa penasaran bekerja. Lambat laun, siswa akan penasaran pada buku yang diceritakan gurunya.
Kemudian, beri kebebasan memilih. Tidak semua anak harus membaca buku yang sama. Komik edukatif, novel remaja, biografi tokoh, hingga buku nonfiksi sesuai hobi adalah pilihan untuk menumbuhkan rasa yang dimiliki.
Selanjutnya, ubah perpustakaan dari gudang buku menjadi ruang hidup: nyaman, terbuka untuk berdiskusi, serta menghadirkan buku bedah dan kunjungan penulis. Perpustakaan jangan hanya menunggu datangi. Kreatiflah membuat program literasi. Perpustakaan jangan sampai sepi seperti kuburan.
Selain itu, libatkan praktisi di luar sekolah seperti penulis, jurnalis, pendongeng, dan kreator konten literasi. Anak perlu melihat bahwa membaca dan menulis memiliki dampak nyata dalam kehidupan.
Selanjutnya, jadikan guru sebagai teladan, bukan sekadar penyuruh. Anak mungkin menolak perintah, tetapi mereka mudah terinspirasi oleh contoh. Contoh yang baik akan menghasilkan harapan yang baik pula.
Dan yang tak kalah pentingnya, jangan menggunakan hukuman untuk menumbuhkan cinta membaca. Dimulai dari kebiasaan kecil, misalnya 10 menit membaca setiap hari, tanpa tes, tanpa rangkuman wajib, dan tanpa nilai. Konsistensi kecil lebih kuat daripada proyek besar yang instan.
Persoalan membaca bukan sekedar soal siswa dan buku. Ini adalah soal iklim. Iklim dibentuk oleh sekolah yang serius, guru yang memberi teladan, pemimpin yang konsisten, dan lingkungan yang membuat buku terasa hidup.
Membaca bukan aktivitas yang menghibur. Ia seharusnya menjadi aktivitas yang dirindukan. Jika rindu tiba, ke bilik buku muaranya. **Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, pendiri Sekolah Menulis elipsis/rm





