Dari Tumpukan Sampah hingga Solusi, Kisah Pengelola Pasar Caringin Menjawab Hujatan dengan Kerja Nyata

BANDUNG, Bandungpos.id – Nama Pasar Induk Caringin selama beberapa tahun terakhir seolah tak pernah jauh dari persoalan sampah. Setiap kali ada pejabat pusat maupun daerah berkunjung, gunungan sampah di pasar terbesar di Kota Bandung itu kerap menjadi objek sorotan, bahkan tidak jarang menjadi bahan teguran terbuka.
Mulai dari ultimatum Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi hingga ancaman pidana dari Menteri Lingkungan Hidup pernah menghampiri pengelola pasar.
Di mata publik, Pasar Caringin bahkan acap kali dicap sebagai salah satu penyumbang persoalan sampah terbesar di Kota Bandung. Belum lagi keluhan warga sekitar yang harus berjibaku dengan aroma tak sedap dan pemandangan tumpukan sampah yang dinilai mengganggu kenyamanan lingkungan.
Namun di balik derasnya kritik tersebut, ada cerita lain yang jarang terdengar. Kepala Bidang Pusat Pedagang Pasar Induk Caringin, Aep Syarif Hidayat, mengaku pihaknya tidak menutup mata terhadap berbagai kritik yang datang. Menurutnya, sorotan tajam dari berbagai kalangan justru menjadi cambuk untuk membuktikan bahwa persoalan sampah bisa diatasi dengan kerja nyata.
“Benar, sampah Pasar Caringin menjadi sorotan dari berbagai pihak hingga muncul kesan pengelola tidak becus mengelolanya. Tapi kami memilih menjawab dengan tindakan,” kata Aep.
Ia menjelaskan, jauh sebelum krisis kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti terjadi, pengelola pasar sebenarnya telah berupaya membangun sistem pengolahan sampah yang lebih terukur dengan memanfaatkan teknologi pengolahan.
Hanya saja, saat volume sampah terus meningkat dan TPA Sarimukti mengalami persoalan overload, kemampuan pengolahan yang tersedia saat itu tidak lagi mampu mengimbangi laju produksi sampah harian.
Akibatnya, gunungan sampah yang sempat menjadi pemandangan sehari-hari pun tak terhindarkan. Ironisnya, saat tumpukan sampah menjulang tinggi, kritik berdatangan lebih cepat dibanding bantuan penyelesaian.
Pengelola pasar menjadi sasaran empuk berbagai komentar pedas, mulai dari dianggap lalai hingga ancaman proses hukum.
“Kami diultimatum untuk segera menangani sampah, bahkan ada ancaman dipidanakan,” kenang Aep.
Namun siapa sangka, dalam waktu kurang dari sepekan, tumpukan sampah yang sebelumnya menjadi simbol kegagalan pengelolaan justru berhasil ditangani.
Hasil pengolahan sampah yang dilakukan kini bahkan mulai dimanfaatkan oleh berbagai kalangan, termasuk pelaku usaha dan peternak.
Menurut Aep, pengalaman tersebut membuktikan bahwa persoalan sampah tidak bisa semata-mata diselesaikan dengan saling menyalahkan.
Dibutuhkan sistem yang melibatkan masyarakat dan pengolahan dari sumbernya.
Karena itu, ia mendorong penerapan pengelolaan sampah berbasis wilayah hingga tingkat kelurahan agar beban penanganan tidak hanya bertumpu pada tempat pembuangan akhir.
“Kami sudah menjalin kerja sama dengan sejumlah peternak di wilayah Bandung Selatan untuk penyerapan hasil olahan sampah,” ujarnya.
Kisah Pasar Induk Caringin menjadi gambaran menarik tentang bagaimana sebuah persoalan lingkungan sering kali lebih mudah dijadikan bahan kritik daripada dipahami akar masalahnya.
Ketika sampah menumpuk, pengelola menjadi sasaran hujatan. Namun saat solusi mulai berjalan, tak banyak yang menoleh.
Padahal, sebagaimana yang terjadi di Caringin, gunungan sampah bukan hanya soal siapa yang harus disalahkan, tetapi juga tentang siapa yang bersedia bekerja menyelesaikannya. (adem/BNN)





