
Oleh: Ridhazia
BETAPA kuat negara Republik Islam Iran. Padahal negeri para Mullah itu dibawah tekanan embargo ekonomi dan militer dunia. Ditambah perpolitikan dalam negeri yang terus bergejolak
Sejak Desember 2025, majalah Time, Euronews, dan Al-Monitor mmemberitakan prediksi kalau Iran akan mengalami keruntuhan ekonomi. Tapi nyatanya hingga kini masih bertahan.
Dua Alasan
Adalah Narges Bajoghli dkk (2024) dalam “How Sanctions Work: Iran and the Impact of Economic Warfare” yang mendeskripsikan bahwa sanksi terhadap Iran justru menguatkan negara tersebut.
Demikian juga kata Sejarawan Pierre Briant dalam “From Cyrus to Alexander” bahwa kerajaan Persia ini dibangun bukan atas penaklukan. Tetapi atas keberanian.
Frasa “beleaguered but not bowed” secara filosofi memosisikan Iran sebagai sebuah negara yang tidak mudah menyerah menghadapi tekanan, sanksi, dan ancaman eksternal.
Imperium Pertama
Iran dibangun berdasarkan DNA Persia sebagai imperium pertama di Bumi yakni Kekaisaran Akhemeniyah yang didirikan oleh Koresh Agung (Cyrus the Great) pada abad ke-6 SM.
Warisan genetik yang unik ini sangat menginspirasi kalau Iran bukan negara “keleng-kaleng” tapi pernah menjadi penguasa terbesar pertama di dunia yang mencakup lebih dari 40% populasi dunia.
Politik Syiah : Hibrida!
Politik Syiah, khususnya interpretasi yang dikembangkan oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini dengan konsep Teokrasi “hibrida” yang menggabungkan elemen demokrasi dan teokrasi.
Meskipun ada lembaga-lembaga yang dipilih secara langsung oleh rakyat seperti Presiden dan Parlemen, kekuasaan tertinggi tetap berada di tangan Pemimpin Tertinggi yang dipilih oleh Majelis Ahli (Assembly of Experts), sebuah badan yang terdiri dari ulama.
Teori Syiah juga menolak legitimasi penguasa non-religius — sebagaimana teori Velayat-e Faqih — bahwa kedaulatan tertinggi milik Allah, dan penerapannya di muka bumi diamanahkan kepada Pemimpin Tertinggi yang merupakan seorang ahli hukum Syiah.*
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukm di Bandung, Jawa Barat.





