
Oleh: Ridhazia
MEDIA sosial sejatinya menjadi panggung bagi olah nalar atau logika. Tapi tidak begitu, setidaknya para buzzer.
Saat menulis tidak selalu menyampaikan gagasan secara benar. Lebih mengutamakan retorika yang kuat daripada argumen yang logis.
Tidak Penting Benar
Bagi buzzer, kekeliruan logika terkadang sengaja dipakai sebagai teknik manipulatif untuk mempengaruhi publik. Tidak penting benar. Salah pun tak apa-apa sejauh ekspektasi kepentingan tersebar luas.
Ad Hominem
Ad hominem adalah jenis kesalahan logika (fallacy) ketika seseorang menyerang karakter, motif, atau sifat pribadi lawan dan musuh.
Alih-alih berargumen, buzzer memilih klaim yang disampaikan bersifat memaksa. Melawan pun keniscayaan pilihan. Bahkan mendiskreditkan sebagai keharusan.
Tidak dibutuhkan argumen yang valid. Tidak penting dianggap lemah dan tidak bermutu. Apalagi pikiran logis dan relevan dengan kebenaran atau kesalahan suatu argumen.
Logika buzzer dalam strategi retorika seringkali digunakan dalam debat publik sebagai taktik untuk mengalihkan perhatian. Bahkan menghindari pembahasan isu inti.
Membuat serangan pribadi berupa ejekan, hinaan, atau serangan terhadap kepribadian, latar belakang, atau tindakan orang lain menjadi keharusan.
Perundungan
Itu sebab, perdebatan dengan buzzer menjadi tidak relevan. Alih alih menyelesaikan masalah justru berubah menjadi perundungan perundungan.
Media sosial bagi buzzer menjadi media yang menguasai dirinya karena bisa digunakan untuk merusak reputasi lawan politik secara pintas. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati Bandung, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.



