
Oleh: Ridhazia
SAYA baru saja menemukan tulisan dari Kang Profesor Ganjar Kurnia, mantan Rektor Unpad Bandung di WAG grup diskusi MMR (Madrasah Malam Rabuan) UIN Bandung.
Sebagai aktivis 1998 sekaligus akademisi dari Tanah Sunda, Kang Ganjar kembali mengungkap peristiwa bersejarah reformasi di Indonesia pada 21 Mei 1998 yang ditandai lengser penguasa Orde Baru Presiden Soeharto.
Ia menuliskan refleksi dengan kalimat santun tapi menyentuh :
” Tanggal 21 Mei 1998, kira-kira pukul sembilan pagi, Indonesia bangun dengan kepala pening. Ia seperti habis begadang lima puluh tiga tahun. Matanya merah, dompetnya tipis, dapurnya ribut, kampus-kampusnya penuh teriakan, dan televisi menyiarkan adegan yang jarang terjadi di negeri tropis: seorang presiden yang sangat lama duduk akhirnya berdiri juga dan balik kanan majuuuuuut jalan.
Soeharto mundur!”
Ketika Soeharto menyatakan berhenti, republik seperti menarik napas panjang. Tetapi napas itu belum sepenuhnya lega. Sebab yang turun baru presidennya. Cara berpikir kekuasaan belum tentu ikut turun. Kursi bisa kosong, tetapi kebiasaan lama sering masih duduk di sana, sambil pura-pura tidak dikenal.
Kejatuhan penguasa Orde Baru pada zamannya terdengar seperti pintu besi raksasa yang dibuka dari dalam gua. Orang-orang terdiam, sebagian menangis, sebagian bersorak, sebagian belum percaya.
Sebab selama puluhan tahun, republik ini seperti diajari bahwa kekuasaan itu benda keramat. Tidak boleh disentuh, tidak boleh dikritik, tidak boleh ditanya terlalu keras.
Takut Dalam Dada
Begitulah Orde Baru bekerja. Tertib di permukaan, takut di dalam dada. Ada pers yang takut, partai yang jinak, kampus yang diawasi, buruh yang dibungkam, petani yang digusur, dan rakyat yang diajari bahwa demokrasi adalah “memilih yang sudah dipilihkan”
Menuju Jurang
Rakyat mulai sadar bahwa “stabilitas” ternyata bisa juga berarti tenang-tenang menuju jurang. Mahasiswa turun ke jalan. Membawa poster, keberanian, dan perut yang barangkali belum sempat sarapan.
Di jalan, mereka berhadapan dengan aparat, gas air mata, peluru, dan segala macam bentuk kekuasaan yang merasa dirinya lebih gagah daripada kebenaran.
Inilah Ironi
Dalam refleksinya, Kang Ganjar menulis narasi :
“Kita berhasil menjatuhkan orang kuat, tetapi belum sepenuhnya menjatuhkan budaya takut. Kita berhasil membuka kebebasan pers, tetapi belum selesai menghadapi kebisingan informasi. Kita berhasil membangun banyak partai, tetapi belum tentu membangun banyak negarawan. Kita berhasil membuat pemilu lebih bebas, tetapi biaya politik dibuat begitu mahal sampai demokrasi kadang-kadang tampak seperti hajatan rakyat yang kateringnya dikuasai oligarki.”
Era Reformasi
Reformasi memberi kita kebebasan berbicara. Tetapi kadang-kadang setelah berbicara, kita diminta berbicara dengan sopan, lembut, santun, solutif, tidak emosional, tidak tendensius, tidak mengganggu investasi, tidak menurunkan elektabilitas, dan sebaiknya tidak usah berbicara.
Reformasi memberi kita otonomi daerah. Tetapi di beberapa tempat, korupsi juga ikut otonom. Dulu pusat terlalu kuat, sekarang daerah juga belajar kuat-kuatan. Dulu upeti naik ke atas, sekarang bisa berputar-putar secara kreatif.
“Rupanya korupsi pun pandai menyesuaikan diri dengan kurikulum demokrasi” tulis Kang Ganjar. Dan, reformasi memberi kita kebebasan politik.
Tetapi politik dinasti tumbuh seperti tanaman hias di halaman kekuasaan. Dipupuk oleh modal, disiram oleh jaringan, diberi sinar matahari oleh partai, lalu diberi label: aspirasi rakyat.
Rakyat memang ajaib. Namanya sering dipinjam untuk kepentingan yang tidak selalu sempat meminta izin kepada rakyat.
Jangan Nostalgia
Karena itu, kata Kang Ganjar, 21 Mei 1998 sebaiknya tidak diperingati hanya dengan nostalgia. Nostalgia sering berbahaya. Ia membuat kita merasa sudah menang, padahal pertandingan belum selesai.
Reformasi bukan foto hitam putih mahasiswa di gedung DPR. Reformasi bukan sekadar rekaman pidato pengunduran diri.
Reformasi juga bukan hanya cerita heroik yang dibacakan tiap bulan Mei seperti doa sebelum rapat. Reformasi adalah pekerjaan yang melelahkan.
Tanggal 21 Mei 1998 adalah hari ketika republik membuktikan bahwa kekuasaan bisa berakhir. Tetapi sejarah setelahnya mengajarkan bahwa otoritarianisme tidak selalu mati bersama penguasanya.
Ia bisa hidup lagi dalam bentuk yang lebih halus: dalam pasal karet, buzzer bayaran, politik uang, pelemahan lembaga pengawas, kriminalisasi kritik, dan senyum pejabat yang terlalu tenang ketika rakyat gelisah.
Maka pertanyaan kita hari ini bukan lagi: “Mengapa Soeharto jatuh?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Mengapa sebagian cara lama masih betah tinggal?”
Barangkali reformasi kita baru berhasil mengganti papan nama, belum membongkar fondasi. Barangkali karena setelah pintu kebebasan terbuka, sebagian orang langsung menyewakan ruangnya untuk kepentingan pribadi.
Tapi memperingati 21 Mei tetap penting. Ia adalah pengingat bahwa rakyat tidak selamanya diam. Bahwa mahasiswa, buruh, ibu rumah tangga, pedagang kecil, seniman, wartawan, dan orang-orang biasa bisa menjadi tenaga sejarah ketika kekuasaan terlalu lama menutup telinga.
Diakhir tulisan, Kang Ganjar menulis bahwa republik ini pernah bangun pukul sembilan pagi pada 21 Mei 1998, tetapi setelah itu, jangan tidur lagi.*
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.





