Metro Bandung

Krisis Air, Saatnya Banyak Menanam

Krisis Air, Saatnya Banyak Menanam

278views

KOTA BANDUNG, BANDUNGPOS- – Krisis Air, Saatnya Banyak Menanam itulah kira-kira yang disampaikan oleh Prof. Mitsuru Osaki, Advisor JICA yang berkunjung bersama kru ke Kantor DILANS Indonesia kemarin. Kami menjelaskan dia adalah seorang Indonesianis, ilmuwan yang lebih dari 3 dekade mencintai Indonesia karena keahliannya dalam bidang lahan gambut.

Kalimantan Tengah dan Riau diantara yang dikenal sering dilanda kebakaran hampir setiap tahun dan menyebabkan asap lintas batas tak luput dari sentuhan ilmiahnya.

Interaksi dengan Osaki Sensei sudah berlangsung sejak lama sekitar tahun 2010an karena diantara pendiri DILANS: Farhan Helmy dan Segah Patianom aktif dalam kolaborasi pengelolaan lahan gambut antara Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI, 2010-2014) dan Universitas Hokkaido Jepang. Beberapa inisiatif yang menghubungkan antara Indonesia dan Jepang terkait dalam skala regional mulai dari Asia Forum on Carbon Updates (AFCU). Kota Bandung menjadi tempatnya selama pelaksanaan di tahun 2011 dan 2012.

Setiap kedatangannya selalu memberi inspirasi, terutama soal peran tata guna lahan, perubahan dan kehutanan (LULUCF) yang menjadi perhatian dunia karena dampaknya pada krisis iklim.

Pengalaman dan pengetahuan ilmiahnya telah memberikan inspirasi bahwa tata kelola kota haruslah fokus pada tata kelola udara. Krisis udara dan dampaknya akan menyebabkan terganggunya siklus hidrologi. Dampaknya banyak, diantaranya banjir, kekeringan, peningkatan suhu perkotaan, termasuk pengaruhnya pada kelompok rentan seperti penyandang disabilitas, lansia dan kelompok rentan lainnya.

“Secara global hutan akan meregulasi air hujan”, ungkapnya. Karenanya penanaman adalah kuncinya termasuk di perkotaan.

Inspirasi ini memberikan masukan pada kerangka yang lebih solid dalam inisiatif multi-pihak, pengembangan kawasan inklusif, Inclusive District Platform (IDP) yang digulirkan sejak tahun 2022 di Bandung dan saat ini tersebar di Kota Semarang dan Yogjakarta.

Tidak hanya itu, kami berharap ada kolaborasi Jepang dan Indonesia melalui program JICA yang menyentuh berbagai aspek terkait kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial (GEDSI), krisis iklim dan kemiskinan terutama dalam teknologi alat bantu, dan peduli ekonomi. * *(RM/BNN)

Leave a Response