
Oleh: Ridhazia
FENOMENA tahunan beda awal ramadan ini hanyalah sebuah dinamika yang lahir dari keragaman metode ijtihad.
Selain perbedaan argumen ilmiah para ahli agama dan para astronomi yang berakar pada dua pendekatan, yakni rukyat dan hisab.
Rukyat pendekatan praktis-empiris dimana visibilitas hilal diamati secara langsung. Sedangkan hisab pendekatan matematis astronomis melalui prediksi saintis tanpa pengamatan langsung.
Inilah KHGT
Di tengah perbedaan, kini sudah ada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebuah kalender hijriah yang menetapkan “satu hari dan satu tanggal”.
Kalender ini berlaku serentak di seluruh muslim dunia, sebagaimana kalender masehi yang mengadopsi prinsip unifikasi tanpa membagi muka bumi ke dalam zona tanggal berbeda.
KHGT Muhammadiyah
Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) telah resmi digunakan d sebagai pedoman penanggalan Islam di lingkungan Muhammadiyah.
Penerapan KHGT diputuskan melalui Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Surakarta (2022) dan dipertegas melalui keputusan Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
KHGT yang diadopsi Muhammadiyah merujuk pada hasil International Hijri Union Calendar Congress yang diselenggarakan pada Mei 2016 di Istanbul, Turki.
Bagi Muhamadiyah KHGT sebagai keniscayaan mutlak untuk mewujudkan persatuan dunia Islam. Bukan sekedar
agenda astronomi.
Juga menjadi wujud nyata dari semangat Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Sebuah langkah maju untuk membayar utang peradaban yang terlalu lama tertunda.
KHGT adalah simbol bahwa Islam masih dan akan selalu relevan, visioner, dan universal.*
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.





