DaerahSeni Budaya

Dialektika Mikroskopis dan Makroskopis Alam Jambi dalam Tasbih Batanghari

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, pendiri Sekolah Menulis elipsis, menetap di pinggir kota Padang Panjang.)

31views

TIDAK banyak guru yang konsisten menulis sekaligus menerbitkan buku puisi. Dari sedikit nama itu, Ramayani Riance mengambil posisi yang patut dicatat dalam ranah kesusastraan Indonesia. Ia tidak hanya menulis, tetapi juga merawat ingatan kolektif melalui bahasa puitis. Dalam sejumlah pertemuan sastra di beberapa kota, dan di antaranya saya hadiri, sosok Ramayani muncul sebagai penyair yang produktif. Larik-larik puisinya menyimpan daya getar yang panjang. Buku Tasbih Batanghari (Penerbit Egypt van Anandalas, 2026) menjadi salah satu penanda penting dari kesetiaan itu; sebuah upaya menafsir ulang alam, budaya, dan religiositas Jambi ke dalam bentuk puisi.

Secara etimologis, “tasbih” berasal dari bahasa Arab yang berarti menyucikan Tuhan dari segala kekurangan. Dalam praktik spiritual, tasbih adalah zikir yang dilafalkan berulang-ulang sebagai pengakuan atas keagungan Ilahi. Namun, di tangan penyair, tasbih menjabarkan metafora yang lebih luas: ritme semesta, dorongan kehidupan, bahkan aliran sungai yang tak pernah putus. Dalam konteks ini, Sungai Batanghari tidak lagi sekedar bentang geografis, melainkan rangkaian tasbih raksasa yang menghubungkan manusia dengan dimensi transenden.

Sebagai sungai terpanjang di Sumatera, 800 kilometer, Batanghari adalah urat nadi peradaban Jambi. Ia mengalir bukan hanya membawa air, tetapi juga sejarah panjang, mulai dari Kerajaan Melayu hingga jejak Sriwijaya. Dalam kesadaran masyarakat, sungai ini hidup sebagai ruang budaya yang sakral; tempat adat, ekonomi, dan religiositas berkelindan. Di akhir puisi-puisi Ramayani menemukan pijakannya, bukan sekadar menggambarkan alam, tetapi juga menghayatinya sebagai pengalaman batin.

Salah satu puisi kunci dalam buku ini adalah “Tasbih Batanghari” (hlm. 5). Perhatikan umpan berikut:

di tepian batang hari di sepanjang
bentangan awan membentang-ayun di debur sepi
pelan-pelan desau angin membelah tenang riak
terlihat di perahu kecil ayah memancing patin

Umpan ini memaparkan bagaimana penyair bekerja secara mikroskopis: detail kecil seperti “awan”, “angin”, “riak air”, dan “sosok ayah” dihadirkan dengan intensitas emosional yang kuat. Dalam pendekatan fenomenologi sastra, pengalaman ini bukan sekadar deskripsi visual, sebaliknya kesadaran yang dihayati. Pembaca tidak hanya “melihat”, tetapi juga “merasakan” suasana yang lirih dan kontemplatif.

Secara struktural, puisi ini bergerak dari subuh menuju pagi. Namun, waktu di sini tidak linier, melainkan sirkular, seperti tasbih yang berputar tanpa awal dan akhir. Simbol “tasbih” dalam judul menjadi jangkar metafisik. Aliran Batanghari diparalelkan dengan zikir yang terus mengalun. Alam tidak lagi diam. Ia hidup, bahkan beribadah. Personifikasi seperti “angin membelah tenang riak” atau “anak matahari memetik rindu” mempertegas bahwa alam adalah subjek yang aktif dalam pengalaman spiritual manusia.

Dari perspektif ekokritik, puisi ini menghadirkan hubungan simbiosis antara manusia dan alam. Aktivitas sederhana seperti memancing patin atau berjalan di bawah rindang pohon karet tidak diposisikan sebagai eksploitasi, melainkan bagian dari harmoni ekologis. Larik “terjemahkan kemurungan dan kegembiraan pada hari” menunjukkan bahwa alam menjadi cermin batin manusia. Sungai bukan sekedar sumber kehidupan, melainkan juga ruang refleksi eksistensial.

Kontras yang menarik muncul dalam citraan “wewangian air mata darah” yang berhadapan dengan “jemari kaki suci ibu”. Di sini, penderitaan dan kesucian tidak dapat dipisahkan. Dalam tradisi masyarakat sungai, kerja keras yang getir justru menjadi jalan menuju kesucian. Estetika yang dibangun Ramayani tidak berangkat dari kemewahan, melainkan dari kesederhanaan yang bernilai sarat. Puncak puisi ini terletak pada bagian akhir:

batanghari begitu menjaga perdamaian
di sini dalam kesejahteraan
santun menjaga basmalah dan alhamdulillah

Diksi keagamaan “basmalah” dan “alhamdulillah” menegaskan pandangan panteistik-puitis bahwa alam adalah perwujudan zikir yang panjang. Batanghari menjadi entitas moral yang “menjaga kedamaian”. Dengan demikian, merusak sungai sama sama dengan merusak ruang ibadah. Di titik ini, puisi berfungsi sebagai kritik ekologis yang halus namun mendalam.

Jika dibaca secara mikroskopis, Tasbih Batanghari adalah potret pengalaman individu tentang kerinduan, ketenangan, dan kontemplasi di tepian sungai. Namun, ketika dikemas secara makroskopis, puisi ini membuka jalan menuju pemahaman yang lebih besar tentang identitas Jambi. Didalamnya relevansi puisi lain dalam buku ini, seperti “Tanah Pilih Pusako Betuah” (hlm. 50), menjadi penting. Kutipan puisi tersebut berbunyi:

Inilah negeri Jambi
Tanah pilih, pusako betuah
Warisan leluhur nan permai

Berbeda dengan puisi “Tasbih Batanghari” yang intim dan reflektif, “Tanah Pilih Pusako Betuah” tampil sebagai narasi kolektif. Ia merayakan identitas budaya, struktur sosial, dan nilai-nilai adat masyarakat Jambi. Jika puisi pertama bergerak di wilayah batin individu, puisi kedua meluas ke ranah geopolitik budaya.

Dalam puisi ini, metafora “pohon gedang nan rindang” menjadi simbol kepemimpinan. Akar yang kuat melambangkan fondasi adat, batang sebagai penopang, dan daun sebagai pelindung masyarakat. Secara ekokritik, alam tidak lagi sekedar ruang kontemplasi, melainkan model bagi sistem sosial. Ini menunjukkan perubahan perspektif dari mikroskopis ke makroskopis.

Puisi kedua tersebut diikat oleh satu unsur utama: Sungai Batanghari. Dalam “Tasbih Batanghari”, sungai adalah “sajadah” tempat individu berzikir. Dalam “Tanah Pilih Pusako Betuah”, sungai menjadi “kelok nan elok” yang menyambut manusia dengan azan paling indah. Dengan kata lain, sungai berfungsi sebagai titik temu antara pengalaman pribadi dan identitas kolektif.

Keterkaitan ini juga tampak dalam integrasi antara adat dan agama dalam tradisi Melayu Jambi. Prinsip bahwa adat berjalan seiring dengan syarak—sebagaimana tercermin dalam seloko “syarak mengato, adat memakai”—menemukan resonansinya dalam diksi “basmalah” dan “alhamdulillah” pada mikroskopis. Religiusitas tidak berhenti pada ritual pribadi, tetapi meluas menjadi etika sosial dan ekologis.

Buku Tasbih Batanghari memuat sekitar 55 puisi yang merekam lanskap budaya dan spiritual Jambi. Puisi-puisi seperti “Kota Hilang di Wajah Bayang-Bayang Walacakra” (hlm. 1), “Kutunggu Kau di Gentala Arasy” (hlm. 3), “Kopi Tiam” (hlm. 6), “Muara Tebo Seentak Galah Serengkuh Gayung” (hl. 11), “Pada Candi Muara Jambi” (hlm. 12), “Batik Jambi” (hlm. 13), “Lamun Suatu Pagi di Tanggo Rajo” (hlm. 24), hingga “Rawa Bento” (hlm. 37) menunjukkan keluasan mencakup tema yang digarap Ramayani. Ia tidak hanya menulis tentang alam, tetapi juga sejarah, arsitektur budaya, hingga ingatan kolektif masyarakat.

Dalam konteks teori penerimaan sastra, puisi-puisi ini membuka ruang partisipasi pembaca. Penyair tidak menjelaskan semuanya secara detail; justru terdapat celah-celah yang harus diisi oleh imajinasi pembaca. Ketika membaca Tasbih Batanghari, pembaca seolah ikut merasakan dinginnya air sungai atau melihat bayangan pohon karet sebagai bagian dari ingatannya sendiri. Di sinilah getar batin puisi benar-benar lahir: dalam pertemuan antara teks dan kesadaran pembaca.

Secara keseluruhan, puisi-puisi di buku ini dapat dibaca sebagai “ibadah visual”. Puisi tidak lagi sekadar representasi, tetapi lebih jauh dari itu menghadirkan pengalaman spiritual yang dialami melalui bahasa. Ramayani berhasil menghadirkan keseimbangan antara citraan visual yang kuat dan kedalaman kontemplatif. Ia menunjukkan bahwa di tengah modernitas yang bising, masih ada ruang sakral tempat manusia dapat kembali mendengar “tasbih” alam.

Ramayani lahir di Jambi, 25 Agustus 1978. Ia dikenal sebagai penyair, Ketua WPI Jambi, serta aktif dalam berbagai organisasi sosial kemasyarakatan. Keterlibatannya dalam forum-forum sastra di tingkat nasional dan internasional, menunjukkan bahwa ia bukan hanya penulis lokal, melainkan juga bagian dari jaringan sastra global. Karya-karyanya antara lain Sebungkus Kenangan, Behavior & Pertunjukan Hujan, dan Di Bawah Cahaya Sigombak.

Dengan latar belakang tersebut, tidak mengherankan jika puisi-puisinya memiliki kedalaman pengalaman sekaligus keluasan perspektif. Ia menulis bukan hanya dari observasi, melainkan dari keterlibatan langsung dalam kehidupan sosial dan budaya.

Tasbih Batanghari lebih dari sekedar kumpulan puisi. Buku ini merupakan arsip budaya, refleksi spiritual, sekaligus kritik ekologis yang disampaikan dengan bahasa yang halus. Dialektika antara mikroskopis dan makroskopis dalam buku ini menampilkan bagaimana pengalaman individu dapat terhubung dengan identitas kolektif, dan bagaimana detail kecil dapat membuka pemahaman besar.

Ramayani mengingatkan kita bahwa sungai bukan hanya aliran udara, melampaui itu, ia juga aliran kearifan. Selama “tasbih” itu masih berputar, baik dalam larik-larik puisi maupun dalam kesadaran manusia, harapan untuk menjaga alam, adat, dan spiritualitas akan selalu menemukan jalannya. **(Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, pendiri Sekolah Menulis elipsis, menetap di pinggir kota Padang Panjang/rm/BNN.)

Leave a Response