
Oleh: Hasan Achari Harahap
MODERNITAS— sebuah kota sering kali bermula dari sebuah dermaga atau stasiun yang sibuk. Di Indonesia, wajah kota-kota modern kita sebenarnya adalah warisan dari perjumpaan banyak bangsa. Dulu, demi ambisi mengeksploitasi kekayaan alam, kolonial Belanda menciptakan sebuah ‘wadah’ besar yang mempertemukan pendatang Eropa, Tiongkok, dan India dengan para pekerja lokal yang merantau jauh dari kampung halaman. Kota pun tumbuh bukan hanya dari air mani dan batu, tapi dari keberagaman orang-orang yang bekerja di dalamnya.
Salah satu jejak nyata modernitas itu bisa kita lihat di Bukittinggi. Kota yang dulunya menyandang nama ‘Fort de Kock’ ini adalah salah satu pionir kota modern di Nusantara. Di saat banyak wilayah lain masih berjuang mencari bentuk, Bukittinggi sudah tampil ‘mapan’ dengan tata kota yang rapi, geliat ekonomi yang hidup, hingga dorongan pendidikan dan kehidupan sosial yang maju. Ia bukan sekedar benteng pertahanan, melainkan ruang tempat peradaban baru mulai bersemi sesuai standar zamannya.
Modernitas itu pun meluas hingga ke urusan hiburan. Di kota kecil seluas 25 km² ini, kolonial Belanda memperkenalkan bioskop sebagai gaya hidup baru. Namun, di balik kerlap-kerlip lampu proyektornya, bioskop kala itu bukan sekadar tempat melepas penat. Layar perak sering kali menjadi alat propaganda yang halus; sebuah jendela yang sengaja dibuka untuk menampilkan kemajuan, gaya hidup, hingga supremasi bangsa Eropa. Melalui cuplikan film-film berita dan dokumenter pendek, kolonial ingin membangun pesan bahwa modernitas adalah milik mereka, dan dunia Barat adalah kiblat kebesaran yang harus dikagumi.
Jejak keberadaan ‘alat modernitas’ ini terekam jelas dalam peta tahun 1945 dari arsip Universitas Leiden, yang menampilkan tiga bioskop berdiri megah di sana. Kehadiran mereka menjadi bukti otentik bahwa masyarakat Bukittinggi telah memiliki kemewahan budaya populer dunia sejak lama dan sekaligus menjadi saksi bagaimana sebuah teknologi digunakan untuk membentuk pola pikir masyarakatnya.”
Kini, jika kita menggerakkan sudut-sudut Bukittinggi, bangunan-bangunan pemutar mimpi itu masih berdiri, meski sebagian besar telah disewa, tak terawat, atau beralih fungsi. Dalam arsip sejarah, kita mengenal mereka sebagai Bioskop Eri di Jalan Perintis Kemerdekaan, Bioskop Gloria di jantung Pasar Atas, dan Bioskop Globe di Jalan Ahmad Karim. Kehadiran tiga bioskop di satu kota kecil pada masa itu menjadi Saksi bisu bahwa Fort de Kock telah lama menjadi magnet bagi para perantau dan pelancong. Jejak keramaian itu rupanya tak pernah benar-benar hilang; hingga hari ini, Bukittinggi tetap menjadi muara bagi siapa saja yang datang mencari penghidupan maupun sekadar menikmati udara pegunungannya.
Setelah puluhan tahun layar perak meredup, sebuah harapan baru mulai muncul. Kabar tentang rencana pembangunan gedung bioskop kembali berembus, membawa angin segar bagi warga. Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmantias, mengisyaratkan ketertarikan investor untuk membangun fasilitas bioskop modern dengan tiga studio di jantung kota.
Rencana ini bukan sekedar urusan investasi atau bisnis semata, melainkan sebuah undangan untuk bernostalgia. Ada asa yang membuncah tentang kembalinya ritual menonton: antre di loket tiket, memandangi poster film yang terpampang besar, hingga duduk di ruang gelap ditemani aroma khas popcorn sambil menatap layar yang bergerak. Kehadiran bioskop baru ini seolah ingin membangkitkan kembali jiwa Bukittinggi yang sempat tertidur, menyambung kembali tradisi hiburan yang pernah membuat kota ini begitu bersinar di masa lampau.






