Oleh Ridhazia
Nganggur itu problem semua negara di dunia. Ibarat sebuah lingkaran setan yang sulit diketahui asal usulnya.
International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan tingkat pengangguran di Indonesia mencapai 5,2% pada 2024, berada di urutan ke-59 dunia.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlahnya dikisaran 7,8 juta dari total 147,71 angkatan kerja. Dan sekitar 12 persen pengangguran di Indonesia didominasi lulusan perguruan tinggi.
Logika Nganggur
Logika yang paling sederhana mengapa terjadi pengangguran karena pertumbuhan jumlah kesempatan kerja tidak bisa mengimbangi pertumbuhan jumlah angkatan kerja.
Tak ada pengecualian dengan latar tinggi rendahnya pendidikan. Apalagi berkesimpulan, karena banyak penganggur berpendidikan maka tidak perlu sekolah atau kuliah.
Studi khusus berhasil menyingkap “rahasia” dibalik seseorang menganggur berdasarkan interview dengan ribuan kelompok millenial.
Faktanya antara lain karena terjadi manipulasi nilai akademik selama kuliah. IPK yang menjadi standar kemampuan studi tidak mencerminkan isi otak yang sesungguhnya.
Pendek kata kebohongan di perguruan tinggi sudah menjadi kultur kampus yang pada gilirannya para alumni tidak memiliki kemampuan berkompetisi merebut kesempatan kerja.
Keganjilan
Riset itu juga menemukan keganjilan yang dilakukan para pelamar kerja. Antara lain kepolosan selama wawancara. Ketika ditanya, atas alasan apa melamar pekerjaan, ia menjawab “butuh duit, pak.!”
Semakin kusut lagi ia tidak mengetahui latar belakang pendidikan dengan peluang pekerjaan. Yang kesemua itu berpangkal dari kematangan pribadi dan kemampuan berkomunikasi.
Relasi buruk itu yang menyebabkan gagal berkompetisi terkait dengan kesungguhan. Tentu saja motivasi bekerja.
Bekerja dari rumah
Berbeda dengan pekerja ” tempo doeloe” bekerja itu menjadi keharusan berkantor. Terikat durasi waktu. Bahkan identitas kantor semisal seragam.
Belakangan tidak demikian. Bekerja dari rumah dengan Google Workspace. Sebuah alternatif yang memungkinkan seseorang lebih profesional karena fokus pada pekerjaan tanpa terikat jarak dan ruang.
Chat grup, aplikasi kolaborasi dokumen, dan rapat video memudahkan bekerja dari mana saja. Dan, peluang bekerja pada era internet ini sangat terbuka dan kompetitif. Asal ada kesungguhan. *
* Ridhazia, dosen senipr Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, Kota Bandung, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.




