
Oleh Farhan Helmy ( Presiden Dilans Indonesia)
POST– aktivis mahasiswa, saya sering nongkrong di Yayasan Mandiri (YM), Jalan Cimandiri 26, Bandung, tempat dimana para aktivis Gerakan Mahasiswa ’78 berkumpul untuk memelihara spirit pergerakannya di era Orba.
Interaksi saya terbina dengan dengan para aktivisnya sejak mahasiswa, terutama berkaitan dengan isu pertanahan, agraria, dan lingkungan yang saya tekuni. Dari sekedar mentoring, diskusi,dan berlanjut diperkenalkan dengan kawasan binaannya di Cianjur Selatan maupun beberapa Pesantren di Jawa Tengah/Jawa Timur.
Yayasan Mandiri merupakan salah satu simpul jejaring pergerakan di masa Orba. Saya sering berjumpa dan diperkenalkan dengan banyak tokoh pergerakan di masa itu, diantaranya Gus Dur, Abdul Hakim Garuda Nusantara, Adnan Buyung Nasution, Erna Witoelar, dan banyak tokoh lainnya.
Jusman Syafii Djamal Iwan Basri Agus Purnomo (Pungki), Sugeng Setyadi (alm) diantara para aktivis menjadi tempat saya bertanya dan kawan dialog yang tidak pelit dalam berbagi ilmu dan pandangan diantara para aktivis YM.
Ada yang bilang Yayasan Mandiri itu organisasi “terselubung” untuk mensiasati represi rezim Orba saat itu. Saya tidak sepakat dengan pandangan ini. Bukan sekedar aktivisme, ada gagasan besar yang ingin digelindingkan, membela kaum marginal yang sebagian besar yang tinggal di pedesaan.
Sentuhan terhadap “teknologi tepat guna” (appropiate technology) merupakan fokus mereka yang konon di ITB sekalipun, sejak ’80an sekalipun dikesampingkan, karena lebih berorientasi pada teknologi tinggi.
Dua intelektual yang menurut saya moncer dan konsisten hingga kini itu Bang Jusman Syafii Djamal (JSD) dan Bang Rizal Ramli (RR). Keduanya memiliki jejak karir yang luar biasa dan memiliki peran besar dalam pengambilan keputusan dan pengembangan kebijakan publik di masanya.
Ketika RR pertama kali menginjakkan kakinya Indonesia setelah lulus dari Boston University, saya ditugaskan Bang JSD untuk “mengawal” RR dengan mobil Hardtop yang biasa menjadi kendaraan dinas Mandiri manakala mengantar tamu yang biasa diinapkan di rumah Bang Jusman yang munggil dan terpencil di Awiligar, Bandung.
Satu ketika ijazah RR tergeletak begitu saja di salah satu meja di Yayasan Mandiri. Jusman bilang saat itu, “Han, sombong kali kawan satu ini. Ijazahnya pun suruh kita lihat” 😁. Saya hanya menimpalinya, “Perlu pengakuan juga dari kita semua kawannya, termasuk juga termasuk sudah siap berjuang ke level yang lebih tinggi”. Itu pertama kali saya mengenalnya langsung.
Intensitas interaksi saya dengan Bang Jusman lebih tinggi dari RR. JSD sering mengajak bertemu almarhum, pulangnya selalu ditanya, “Bagaimana menurut kau?”. Ritual rutin khas dari JSD yang harus saya jawab tentang apa yang diperbincangkan.
Dua orang ini punya cara sendiri dalam mengekpresikan pikiran dan pengaruhnya. Rizal lebih lugas, kadang mungkin tidak nyaman bagi sebagian banyak kawannya. Jusman karena dengan pengalamannya sebagai “Care Taker” Dewan Mahasiswa ITB saat sebagian besarnya penggeraknya ditangkapi dan diadili, termasuk RR, bisa lebih bijak dalam mengambil tindakan.
Urusan pelik PT Dirgantara dan Garuda diantara yang saya dengar langsung sering diperbincangkan.
Jusman yang saat itu menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan baik sebagai Dirut PT Dirgantara, Menteri Perhubungan, maupun Komisaris Garuda. Keduanya secara serius memperbincangkannya dan berbuah dalam satu policy paper yang ditulis RR yang kemudian menjadi dasar yang menguatkan dalam mengambil keputusan.
Dirgantara adalah industri strategis yang menjadi korban pemangkasan IMF melalui program restrukturisasi pasca Reformasi. Barangkali RR yang kritis terhadap IMF dipilih Jusman sebagai partner dialog dalam membenahinya. Di era Gus Dur keduanya cukup intens dalam berkomunikasi. Komunikasinya terus berlanjut di era Jokowi.
FORTUGA, Forum Tujuh Tiga, Alumni mahasiswa ITB Angkatan-73, menurut saya adalah forum angkatan yang paling moncer. Di semua lini pengambilan keputusan penting selalu ada anggota alumni FORTUGA, setidaknya ada lima orang yang pernah menjabat sebagai Menteri selain RR dan Jusman SD, ada Hatta Radjasa, Soesilo Indroyono, Al Hilal Hamdi, dan banyak lagi yang menduduki posisi penting lainnya di BUMN maupun Kementrian dan Lembaga.
Walaupun seringkali tidak sejalan dalam mengambil kebijakan atau mengambil posisi politik yang sama, setidaknya forum ini bisa menjadi tempat untuk berkomunikasi diantara para aktivisnya. RR salah satu yang mewarnai, sangat telaten untuk membina para aktivisnya generasi setelahnya menjadi intelektual organik.
FORTUGA bersama dengan Forum Pemred, dan Matsushita Gobel, ikut serta dala forum dialog Green Investment and Innovation, and Productivity yang didukung oleh Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) dan JICA (2013-2014). Rizal tidak hadir, tetapi saya yakin apa yang. diperbincangkan itu selalu sampai melalui Ricky Rachmadi (alm) salah satu pegiat dari Forum Pemred, kawan yang seringkali menjadi penghubung diantara dua senior saya yang luar biasa. Dua majalah kompilasi gagasan dan kegiatan ini diterbitkan dalam dua edisi majalah: Green Pathways for the Future Indonesia (https://t.ly/2-iPI) dan 2014: Seeking Leadership (https://t.ly/um4sn)
Di masa lalu yang paling rajin berkomunikasi dan mendapatkan banyak limpahan buku dan informasi ketika almarhum menimba ilmu itu seingat saya Hary Wibowo. Darinya sering dapat ceritera kegelisahan dan ambisi Rizal saat itu soal ekonomi politik Indonesia.
Tapi lepas dari semua perbedaan itu, para aktivis ini setidaknya mengkoleksi banyak karya lukisan progresif yang khas dari Yayak Yatmaka. Setidaknya lewat lukisan ini bisa menjadi pengingat apa yang diperjuangkannya di masa lalu. Yayak seniman yang memiliki cara yang khas dalam mengekpresikan apa yang diamati dan dan di dengar kawan-kawannya ini.
Saya biasa diajak Bang Jusman manakala kawan-kawan aktivis itu sedang merayakan kegembiraan ulang tahun atau kemalangan. Tidak kali ini, karena kondisi saya dan mungkin juga Bang Jusman. Abang saya yang satu ini selalu mengingatkan dan mengajarkan soal empati kepada kawan, terutama para aktivis.
Kesendirian adalah jalan yang mungkin dilalui seorang aktivis karena seringkali gagasannya melampaui zamannya. Dan diapresiasi setelah tidak ada, mungkin RR adalah salah satunya.
Saya ingat betul, salah satu yang dibanggakannya adalah kebijakannya saat menjadi Menko Perekonomian di era Gus Dur. untuk membuka tol Jakarta – Bandung, dan akses ke Jalan Pasopati, sehingga menjadi akses koridor pertumbuhan di kawasan ini. Pertumbuhan yang bisa membuka kesempatan warga secara luas.Insya Allah, Bung Rizal Husnul khatimah. Aamiin YRA.
Bandung, 5 Januari 2024



