DisabilitasMetro Bandung

Holland untuk Dilans

Holland untuk Dilans

263views

MENJELANG– 80 tahun peringatan kemerdekaan Indonesia, DILANS Indonesia kedatangan sahabat dan tamu istimewa yang sudah berkomunikasi cukup intens sejak beberapa tahun terakhir: Damy Heezen dan Richard Ruijtenbeek. Komunikasi yang intens terutama dari apa yang digeluti terkait isu kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial (GEDSI), krisis iklim, dan kemiskinan. 

Kami saling belajar, bertukar pandangan dan gagasan karena mereka adalah profesional yang berpengalaman terutama dalam mendorong ide-ide menjanjikan dalam konteks ekonomi sirkular dan pengelolaan kawasan yang berkelanjutan. Jejak profesionalnya tercatat di berbagai kota di Belanda dan Uni Eropa. 

Dialog meluas dan menarik meski waktunya singkat. Hubungan sejarah kolonial masa lalu telah berevolusi tidak hanya isu-isu terkini soal lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), pemicu perubahan iklim, dan pengelolaan kawasan, juga soal sosial dan kebudayaan. 

Banyak jejak sejarah yang ditinggalkan pemerintah kolonial di Kota Bandung dan kota lainnya. Khusus kota Bandung, konon memiliki jejak desain Art Deco terbanyak yang banyak menginspirasi pemerintahan kolonial Belanda di era 1920an dan 1930an.

Tidak hanya itu, di Jawa Barat banyak catatan dan penelitian ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang sebagai bagian dari kolonialisasi. 

Jejak-jejak ini menjadi inspirasi kolaborasi kami lebih jauh. Holland (Belanda) memiliki sistem sosial yang kuat dalam menyelesaikan banyak persoalan inklusi sosial, termasuk jaminan sosial di dalamnya. Aksesibilitas dan diskon berbagai peninggalan bangunan peninggalan seperti museum dan artifak lainnya yang tidak terpikirkan kami bahas. 

Lebih dari 800 ribu penduduk Bandung itu lanjut usia, ditambah penyandang disabilitas mungkin sekitar satu juta orang. Sekitar 1/3 penduduk kota Bandung saat ini. 

Dalam semangat kemerdekaan inilah, kami ingin mengukir dan memaknai evolusi persahabatan ini dalam hubungan yang lebih kongkrit, bermakna dan berorientasi pada masa depan. Mengajak mereka menjadi bagian dari inisiatif pengembangan platform kawasan inklusif (IDP), termasuk teknologi alat bantu di dalamnya. **(Penulis President Dilant Indonesia}

Leave a Response