Oleh Ridhazia
Manipulasi sering kali tidak terlihat secara langsung pada pesan di media sosial. Tetapi dampaknya bisa sangat besar bagi perubahan mental dan emosional.
Manipulator — melalui tulisan, audio dan video — kerap menggunakan taktik tersembunyi untuk mengontrol atau memanipulasi pikiran dan perasaan orang lain.
Alih-alih berubah positif, pesan-pesan itu justru menambah membingungkan. Bahkan menekan hingga merasa tidak berdaya. Terjebak dalam kesulitan yang kian panjang. Bahkan menimbulkan konflik diri tak berkesudahan.
Bersikaplah Kritis
Untuk terhindar manipulasi yang melampaui kapasitas kemampuan diri, bersikap kritis terhadap validitas data dan fakta melalui konfirmasi dan klarifikasi menjadi saran yang dianjurkan.
Hal itu untuk mendapatkan kendali sekaligus menjadi alternatif mentoleransi pesan-pesan yang kerap “menekan” untuk membuat keputusan secara instan.
Dengan mengendalikan pikiran berarti mengambil kembali kendali dan mencegah diri dari pesan-pesan yang mungkin merugikan.
Dan, itulah cara cerdas untuk meredam konflik tanpa menyetujui atau menyangkal pernyataan manipulatif yang tidak memiliki otoritas mutlak atas kebenaran yang dipaksakan sepihak.
Bersikap kritis justru menunjukan kebebasan berpikir sendiri dan tetap teguh memenuhi ekspektasi sendiri. Yang sekaligus berfungsi menjaga batasan, mempertahankan kendali jebakan emosional yang sering dimainkan oleh manipulator.*
* Ridhazoa, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.





