HiburanSeni Budaya

Ferry Curtis dan Gerakan Literasi di Indonesia: Musik sebagai Senjata Mencerdaskan Bangsa

58views

FERRY CURTIS—musisi balada asal Bandung yang juga aktivis literasi nasional—telah lebih dari dua dekade menggerakkan semangat membaca di Indonesia melalui lagu, konser, dan kampanye langsung ke sekolah, perpustakaan, hingga pelosok desa. Ia dikenal sebagai salah satu penggagas gerakan literasi lewat musik, dengan lagu “Mari Membaca” yang bahkan diadopsi Perpustakaan Nasional RI sebagai Lagu Literasi Nasional pada 2019.

Ferry Curtis, bernama lengkap R. Ferry A. Anggawijaya, adalah seniman yang mendedikasikan karyanya untuk “menyulam kata menjadi nada” dan membangkitkan kesadaran membaca di berbagai lapisan masyarakat. Sejak awal 2000-an, ia aktif mengkampanyekan pentingnya literasi, sering mengunjungi toko buku, berkolaborasi dengan komunitas, dan turun langsung ke lapangan untuk menginspirasi anak-anak dan remaja.

Lagu “Mari Membaca”: Anthem Literasi Nasional

Pada 2019, Ferry merilis album bertajuk Jangan Berhenti Membaca yang didukung penuh oleh Perpustakaan Nasional RI. Album ini berisi lima lagu bertema literasi, di antaranya:  Jangan Berhenti Membaca, Mari Membaca, Buku Sahabatku,  Cinta Untuk Semua GuruKe Pustaka
Lagu “Mari Membaca” kemudian diluncurkan secara resmi oleh Perpusnas RI sebagai Lagu Literasi Nasional, menjadi semacam “pemersatu” bagi para pegiat literasi di seluruh Indonesia. Liriknya sederhana namun mengena: “Yo ayo ke pustaka / Yo ayo mari membaca / Bangsa yang maju bangsa pembaca.”

Aksi Nyata di Lapangan: Dari Kota hingga Pelosok
Ferry tidak hanya mencipta lagu; ia juga turun langsung membawa pesan literasi ke berbagai daerah, bersama Yayasan Baca Indonesia (yang ia dirikan bersama musisi Katon Bagaskara dan dr. Wachyudi Muchin), ia menggalakkan kampanye membaca dari Makassar, Gorontalo, Bau-Bau, hingga Jawa Timur.  Ia pernah menjadi fasilitator mengajar dengan lagu bertema cinta bacaan di hadapan siswa sekolah non-formal di kampung Cisanggarung, Cikadut, Cimenyan (Bandung Utara), menargetkan anak-anak petani agar berani berimajinasi lebih tinggi.

Pada 2024, ia bersama penulis Dee Lestari dalam kegiatan literasi di Kalimantan Timur untuk memperkuat minat baca masyarakat setempat. Pada akhir 2025, ia tampil dalam “Konser Literasi Indonesia” di UPI Bandung, menegaskan bahwa “literasi itu seperti pohon, harus bertumbuh,” dan bahwa musik bisa menjadi medium efektif menanamkan nilai baca-tulis.

Filosofi Literasi Ferry Curtis Bagi Ferry, literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan fondasi membangun karakter, kesadaran kritis, dan mimpi yang lebih besar—terutama bagi anak-anak di daerah. Ia kerap menekankan: “Literasi adalah fondasi yang kuat untuk membangun generasi emas Indonesia.”  “Bangsa yang maju adalah bangsa pembaca.”[merdeka] Lagu harus bermuatan literasi yang memberi penyadaran, bahkan di tengah keterbatasan ekonomi atau akses.
Dampak dan Warisan Gerakan Melalui pendekatan unik menggabungkan musik balada yang emosional dengan pesan literasi yang tegas, Ferry Curtis berhasil Menciptakan “lagu pemersatu” bagi komunitas literasi di seluruh Indonesia.  Menginspirasi guru, siswa, dan pegiat Taman Bacaan Masyarakat (TBM) untuk menjadikan membaca sebagai kebiasaan, bukan sekadar kewajiban.  Menunjukkan bahwa seniman bisa mengambil peran strategis dalam situasi apa pun—termasuk pandemi—dengan tetap berkontribusi lewat karya yang mendidik.

Ferry Curtis membuktikan bahwa gerakan literasi tidak harus selalu formal; ia bisa dimulai dari sebuah lagu, senyum di kelas non-formal, atau konser kecil di auditorium kampus—yang semuanya bertujuan sama: menyalakan cahaya membaca di hati setiap orang, ia juga  sebagai Pencipta Lagu “Mars Perpustakaan” -Perpusnas 2026. **R Mur)

Leave a Response