
Oleh Muhammad Subhan
Ada mitos yang telanjur mengakar bahwa prosa dan karya ilmiah adalah aktivitas soliter yang individualistis. Membaca cerpen atau novel dianggap membutuhkan waktu lama dan keheningan total. Akibatnya, ada semacam pengabaian komunal terhadap pentingnya mempertemukan para penulis prosa dan pemikir ilmiah ini dalam satu forum yang setara dengan kenduri para penyair.
PENYAIR sepertinya merupakan kasta tertinggi di ranah kepenulisan kreatif di negeri ini. Pun di dunia. Alasannya, tengoklah sejumlah agenda saban tahun. Selalu ada festival puisi, kenduri penyair, dan pertemuan penyair, baik berskala lokal, nasional, maupun internasional.
Namun, jarang sekali terdengar kabar tentang diadakannya Pertemuan Cerpenis Nasional, Kongres Novelis, atau Simposium Penulis Karya Ilmiah.
Mengapa panggung sastra kita begitu timpang? Mengapa seolah-olah hanya puisi yang berhak merayakan dirinya di atas singgasana pertemuan tatap muka?
Secara sosiologis dan praktis, puisi memang memiliki daya pikat panggung yang instan. Membaca puisi adalah sebuah pertunjukan performatif. Dalam durasi tiga hingga lima menit, seorang penyair bisa menyihir audiens lewat intonasi, gestur, dan kekuatan diksi. Ada katarsis yang langsung tumpah ruah di ruang publik. Hal inilah yang membuat festival puisi selalu seksi bagi promotor budaya, sponsor, maupun pemerintah daerah dan pusat.
Sebaliknya, ada mitos yang telanjur mengakar bahwa prosa dan karya ilmiah adalah aktivitas soliter yang individualistis. Membaca cerpen atau novel dianggap membutuhkan waktu lama dan keheningan total. Akibatnya, ada semacam pengabaian komunal terhadap pentingnya mempertemukan para penulis prosa dan pemikir ilmiah ini dalam satu forum yang setara dengan kenduri para penyair.
Tentu saja, para pengkritik akan berargumen bahwa ruang untuk prosa dan karya ilmiah sudah ada dalam bentuk peluncuran buku, bedah karya, atau seminar akademis di kampus-kampus. Namun, seujurnya format-format tersebut (masih) bersifat eksklusif, tersekat-sekat dalam lingkaran kecil, dan jarang sekali melompat ke ruang publik sebagai sebuah perayaan budaya yang inklusif. Seminar ilmiah kerap berakhir menjadi ruang birokrasi akademik yang kaku, sementara peluncuran novel sering kali terjebak dalam kepentingan promosi pasar yang transaksional. Di sinilah letak pembeda utama dengan pertemuan penyair yang murni merayakan estetika dan gagasan di ruang terbuka.
Padahal, dampak dari absennya pertemuan berkala yang integratif bagi cerpenis, novelis, dan penulis ilmiah sangatlah nyata. Tanpa ruang perjumpaan lintas disiplin ini, para penulis prosa bergerak sendiri-sendiri dalam labirin kreativitasnya. Mereka kehilangan ruang komparasi estetika, kritik lisan yang membangun, serta pemetaan arah kesusastraan naratif kita ke depan.
Sudah saatnya kita mendobrak sekat-sekat performatif tersebut. Pertemuan para penulis tidak boleh lagi dimonopoli oleh pembacaan puisi. Mengapa kita tidak mulai membiasakan panggung “Baca Cerpen” atau “Baca Penggalan Novel” dalam skala festival yang megah?
Membaca prosa di atas panggung bukanlah hal yang mustahil, bahkan bisa menjadi pengalaman estetis yang sangat teatrikal. Tentu saja, polanya disesuaikan. Seorang cerpenis tidak harus membaca seluruh isi cerpennya hingga pemirsa mengantuk. Mereka bisa membaca bagian paling dramatis, menggunakan teknik penceritaan lisan (storytelling), atau memadukannya dengan ilustrasi musik teatrikal. Begitu pula dengan novelis. Membaca satu atau dua halaman penggalan novel yang penuh ketegangan atau refleksi filosofis justru akan melahirkan rasa penasaran yang luar biasa bagi pembaca.
Mimbar seperti ini bukan sekadar ajang pamer eksistensi, melainkan sebuah strategi hulu untuk mendekatkan karya prosa kepada publiknya secara langsung. Di sinilah letak edukasi literasi yang sesungguhnya, yaitu mengubah teks yang mati di atas kertas menjadi suara yang hidup di telinga pendengar.
Lebih jauh lagi, kegelisahan ini harus melompat hingga ke pagar kepenulisan karya ilmiah. Selama ini, ada jurang pemisah yang teramat dalam antara dunia sastra (yang dianggap imajinatif) dan dunia ilmiah (yang dianggap kaku dan dingin). Penulis karya ilmiah kerap terjebak dalam menara gading akademis. Jurnal-jurnal mereka menumpuk di perpustakaan, dibaca hanya oleh sesama akademisi demi pemenuhan angka kredit.
Pertemuan yang melibatkan penulis karya ilmiah bersama para sastrawan akan menjadi jembatan hibrida yang revolusioner. Di dalam forum bersama tersebut, esais, peneliti, dan ilmuwan dapat mempresentasikan temuan atau pemikiran mereka dengan bahasa yang lebih membumi, bahkan puitis. Bukankah esai-esai terbaik dunia lahir dari ketajaman ilmiah yang ditulis dengan keindahan sastrawi?
Ketika cerpenis, novelis, dan ilmuwan duduk bersama dalam satu meja konvensi, yang terjadi adalah silang budaya dan pengetahuan. Penulis novel sejarah bisa belajar akurasi data dari sejarawan, cerpenis bisa membedah psikologi karakter lewat temuan sosiolog, dan ilmuwan dapat belajar bagaimana cara menarasikan data yang kering menjadi cerita yang memikat dan menggugah empati publik. Kolaborasi ini mutlak diperlukan agar produk intelektual kita tidak lagi gagap menghadapi realitas sosial yang kian kompleks.
Merayakan literasi tidak boleh parsial. Jika kita sepakat bahwa kemajuan sebuah bangsa diukur dari kedalaman literasinya, maka seluruh lini kepenulisan harus dirawat dengan energi yang sama besar. Kasta-kasta semu yang menempatkan penyair di puncak piramida dan melupakan genre lain harus segera didekonstruksi.
Kita merindukan sebuah festival masa depan, di mana dalam satu perhelatan besar, kita bisa menyaksikan seorang penyair mendeklamasikan bait bertenaga di panggung utama, sementara di aula sebelah seorang cerpenis sedang menghidupkan karakter cerpennya lewat narasi lisan, dan di ruang seminar seorang peneliti sedang membedah masa depan ekologi kita dengan bahasa esai yang memukau.
Pertemuan tatap muka bagi para penulis, apa pun genrenya, adalah bahan bakar bagi kesehatan intelektual sebuah bangsa. Dari dialog dan perjumpaan jugalah, gagasan-gagasan besar dunia ini bermula. Sudah saatnya prosa dan sains keluar dari keterasingannya dan merebut panggung yang sama terhormatnya dengan puisi. ** [Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.)
Editor : rianto muradi





