Musik & BudayaSeni Budaya

Guru Patimpus dan Pekik Gelisah Afrion dalam Puisi “Bung, Akulah Medan”

2views

Oleh Muhammad Subhan

Takdir membawa saya mampir ke Taman Budaya Medan semalam. Bersama kawan-kawan penulis dari Sumatera Barat dan Jambi (Ramayani Riance, Dian Juskal, Budi Saputra, Yusnal Didi, dan Dedy Bachta), kami menyaksikan sebuah pertunjukan baca puisi bertajuk “Kampung Medan Legenda Guru Patimpus” karya sastrawan Afrion. Didukung oleh sejumlah pembaca puisi remaja binaannya, acara yang difasilitasi oleh dana pemajuan kebudayaan dari Kementerian Kebudayaan RI ini berhasil memukau penonton dan menuai tepuk tangan riuh. Lewat pertunjukan teatrikal yang muram namun bertenaga, Afrion tidak sedang memamerkan estetika visual belaka, sebaliknya memotret realita drama kota Medan yang kian kehilangan kekhawatiran akibat syahwat pembangunan.

DARAH saya selalu berdesir setiap kali melintasi Medan. Betapa tidak, di kota inilah saya dilahirkan, tepatnya di Tembung, 45 tahun silam. Dalam ingatan masa kecil saya, Tembung adalah sebuah kampung asri yang dikelilingi berbagai persawahan penduduk yang luas sekali. Sejauh mata memandang, hanya warna hijau batang dan daun padi yang bergoyang disentuh angin. Latar alam masa kecil yang bersahaja yang kemudian mengkristal menjadi ruh dalam novel saya, “Rumah di Tengah Sawah”, yang diterbitkan Balai Pustaka pada tahun 2022 lalu.

Namun, ketika kemarin saya kembali melewati Tembung, lanskap hijau itu telah menguap tanpa bekas. Jalan-jalannya kini telah didominasi oleh beton-beton kaku. Gedung-gedung tinggi besar tegak berdiri di sekeliling pemukiman penduduk yang kian padat dan sesak. Matahari siang yang terik menyengat seolah menegaskan bahwa Medan telah sepenuhnya menjelma menjadi kota metropolitan yang semarak, sekaligus bising dengan segala sengkarut dinamikanya.

Di tengah panglingnya saya menatap wajah Medan hari ini, takdir membawa saya mampir ke Taman Budaya Medan semalam. Bersama kawan-kawan penulis dari Sumatera Barat dan Jambi (Ramayani Riance, Dian Juskal, Budi Saputra, Yusnal Didi, dan Dedy Bachta), kami menyaksikan sebuah pertunjukan baca puisi bertajuk “Kampung Medan Legenda Guru Patimpus” karya sastrawan Afrion. Didukung oleh sejumlah pembaca puisi remaja binaannya, acara yang difasilitasi oleh dana pemajuan kebudayaan dari Kementerian Kebudayaan RI ini berhasil memukau penonton dan menuai tepuk tangan riuh. Lewat pertunjukan teatrikal yang muram namun bertenaga, Afrion tidak sedang memamerkan estetika visual belaka, sebaliknya memotret realita drama kota Medan yang kian kehilangan kekhawatiran akibat syahwat pembangunan.

Panggung pertunjukan malam itu diselimuti kain hitam. Tirai, dinding, hingga segala sudut ruangan sengaja dibuat gulata. Hitam meringkuk atmosfer panggung, sebuah simbolisasi visual yang sangat lugas mengenai masa depan kota yang kelam. Pertunjukan dibuka dengan adegan menyerupai ruang museum, di mana seorang pembawa cerita muncul melangkah perlahan menampilkan lukisan Monumen Guru Patimpus. Tokoh agung pendidik ini adalah sang pembuka jalan, pendiri asli Kampung Medan di pertemuan antara Sungai Deli dan Sungai Babura, yang kelak dijadikan tonggak Hari Jadi Kota Medan setiap tanggal 1 Juli.

Tragedi bermula ketika narasi sejarah yang megah itu dibenturkan dengan kenyataan ekologis hari ini. Lewat bait-bait awal puisi “Tragedi Kampung Medan”, Afrion langsung melayangkan kritik yang menusuk tajam: “Oi… datukku si Guru Patimpus/ daulat tuanku; abdi tubuh – abdi hidup di bumi/ saban hari di sungai Deli – pertikaian tak henti/ tak ada yang dapat dihalau – sampah racun limbah/ menjelmakan sesak petaka tanah mati”//

Sungai Deli yang dalam kepurbaan riwayatnya mengalirkan kejernihan dan denyut nadi perdagangan, kini dikutuk menjadi parit raksasa yang mengalirkan “raung kematian”. Afrion dengan sangat jeli mengubah kota ini dengan rusaknya memori kolektif peradaban. Transformasi Medan dari rawa-rawa menjadi hutan beton digambarkan sebagai bentuk penjajahan baru oleh modernitas yang tamak. Kampung-kampung Melayu Medan yang dahulu menjadi saksi kejayaan budaya, kini terpinggirkan, terancam punah diapit oleh deretan “gedung-gedung mencakar langit” yang dibangun di atas tanah ulayat rakyat yang dirampas.

Kritik Afrion mencapai puncaknya yang paling benderang ketika seorang aktor masuk ke panggung dengan tubuh bergetar hebat, terjerembab, layaknya manusia yang kerasukan roh alam gaib. Matanya yang nyalang menatap penonton memekikkan bait-bait sentral dari puisi “Bung, Akulah Medan!”.

“Bung, akulah Medan!/ sejak tanah liat coklat merah dan pasir hitam/ melintasi rawa sungai/ sampai ke muara Selat Malaka/ dari tanah tangga gang kecil hotmix aspal beton/ sampai rumah dinding tepas gedung gedung pencakar langit//

Bait ini secara kronologis menguliti sejarah metamorfosis Medan. Dari masa Guru Patimpus, masa kepemimpinan datuk-datuk Melayu, hingga ekspansi kolonial Gocah Pahlawan yang menduduki wilayah sekitarnya seperti Pulo Brayan, Sampali, hingga Percut. Namun, alih-alih merayakan kemajuan modernitas pasca-kemerdekaan, Afrion justru meratapi hilangnya humanisme dari pembangunan tersebut.

Lirik-lirik berikutnya terasa kian berdarah-darah dan frontal menghantam wajah kapitalisme kota: //Biar tanahmu dibuldozer lalu dipancangkan tiang tiang baja/ dan beton beton raksasa tumbuh mengakar/ menumpuk akar pohon menimbun rabung atap rumah/ bangunan bangunan sejarah melarungkan darah/ bau amis udara kapitalis/ Biar meluas kota menimbulkan huru hara/ raung suara pergolakan membela kampung terjajah/ para serdadu dengan tameng dan gas airmata/ memecahkani saudara bagai belatung…//

Di sinilah letak kekuatan puisi-puisi Afrion. Pembangunan fisik kota Medan dinilainya telah melahirkan tirani kekuasaan yang kejam. “Bau amis udara kapitalis” Merujuk pada penggusuran-penggusuran paksa yang sering melibatkan aparat, tameng, dan gas air mata demi memuluskan proyek-proyek pemilik modal. Pohon-pohon trembesi ditebang, menggantikan tiang baja. Rumah-rumah ibadah dan bangunan bersejarah yang menyimpan kenangan masa lalu sering dirubuhkan demi memperluas kawasan komersial. Dampak sosialnya sangat besar: anak-anak manusia tidak berdaya menghadapi tirani, sementara kunang-kunang mati kehilangan cahaya karena malam-malam kota telah dikooptasi oleh gemerlap lampu neon toko modern.

Melalui pementasan ini, Afrion seolah ingin membangunkan warga Medan dari amnesia sejarah. Kota ini didirikan oleh Guru Patimpus dengan basis kearifan lokal yang menghormati alam, sungai, dan keberagaman etnis. Namun hari ini, warisan luhur itu seolah dikhianati.

Pada bagian akhir pementasan, para aktor melangkah perlahan keluar panggung sambil menaburkan bunga ke arah patung Monumen Guru Patimpus yang lekat di dinding panggung, diiringi ratapan lirih penutup: //Dimanakah kamu/ di kemudian hari kamu wahai datuk/ tiada kulihat jejakmu/ sepanjang hamparanan lembah – tanah merekah…//

Pementasan baca puisi Afrion malam itu bukan sekadar tontonan seni yang menghibur kuping. Lebih dari itu, ia adalah sebuah maklumat yang meresahkan, sebuah protes pembangunan yang sangat lugas dan tegas.

Sebagai anak yang lahir di rahim tanah ini, dan tanah itu adalah Medan, saya ikut merasakan kepedihan yang sama yang ditiupkan Afrion ke atas panggung. Medan boleh saja tumbuh menjadi kota metropolitan yang mentereng, tapi jika kemajuan itu harus dibayar dengan hilangnya identitas budaya, tergusurnya kampung-kampung bersejarah, serta matinya ekologi sungai, maka kota ini sebenarnya sedang berjalan menuju sebuah ruang hampa yang kehilangan kasih sayang.

Hormat saya untuk sastrawan Afrion yang tetap setia menjadi corong hati nurani bagi kota yang kian bising dan kerap amnesia pada akar sejarahnya sendiri. Lewat pekik gelisahnya, kita diingatkan kembali bahwa kota yang hebat bukanlah kota yang pongah dengan gedung-gedung pencakar langitnya, namun kota yang mampu memuliakan warisan para leluhurnya. Maka, sebelum seluruh memori kolektif itu lumat digilas zaman, mari kita mendengar kembali suara Guru Patimpus melalui puisi-puisi Afrion untuk menjaga Medan tetap hangat sebagai rumah bagi kebudayaan. ***Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, pendiri Sekolah Menulis elipsis

Editor : RiantoMuradi

Leave a Response