RESENSI BUKU

Dari Si Doel, Kita Belajar Arti Menjadi Orang Kampung

29views

Oleh: Kin Sanubary

SundaNews (18/9/2026). Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono membawa pembaca kembali kepada dunia yang pernah begitu akrab melalui serial televisi Si Doel Anak Sekolahan. Namun, buku ini tidak semata-mata mengajak bernostalgia. Lebih dari itu, Harry menggunakan dunia Doel dan keluarganya sebagai jalan untuk membaca kembali kehidupan masyarakat kampung, nilai-nilai kebersamaan, serta perubahan Jakarta yang berlangsung begitu cepat.

Bagi banyak orang, Si Doel Anak Sekolahan bukan sekadar tontonan. Serial yang telah hadir di layar kaca selama lebih dari tiga dekade itu pernah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Tokoh Doel, Babe, Nyak, Mandra, Atun, Karyo, hingga Pak Bendot terasa seperti orang-orang yang hidup di sekitar kita.

Mereka hadir dengan persoalan yang sederhana, tetapi sesungguhnya sangat dekat dengan kehidupan banyak keluarga: pendidikan, pekerjaan, ekonomi, cinta, kejujuran, harga diri, konflik keluarga, dan harapan tentang masa depan.

Kekuatan Si Doel justru berada pada kesederhanaan tersebut. Tidak ada kehidupan yang serba sempurna. Keluarga Doel harus berhadapan dengan keterbatasan ekonomi, persoalan pendidikan, perbedaan pandangan, serta berbagai masalah keseharian. Namun, di tengah kesulitan, selalu ada ruang untuk bercanda, saling membantu, menjaga perasaan, dan mempertahankan keutuhan keluarga.

Suasana kampung Betawi yang menjadi latar cerita membuat semua persoalan itu terasa semakin dekat. Bahasa, dialek, kebiasaan warga, interaksi antartetangga, hingga pertengkaran kecil di antara anggota keluarga membentuk dunia yang terasa hidup.
Dari situlah Filosofi Orang Kampung menemukan pijakannya.

Melalui buku ini, Harry Tjahjono tidak sekadar mengulang cerita Si Doel Anak Sekolahan. Ia mencoba membaca kembali kehidupan yang pernah ia hadirkan melalui karya-karyanya.

Kampung dalam pandangan Harry bukanlah gambaran tentang masyarakat yang tertinggal atau kalah oleh modernisasi. Kampung justru merupakan ruang tempat berbagai nilai kehidupan tumbuh: kebersamaan, gotong royong, kejujuran, kepedulian, kesederhanaan, serta hubungan antarmanusia yang masih terasa dekat.

Nilai-nilai tersebut sering kali hadir dalam bentuk yang sangat sederhana. Menyapa tetangga, membantu ketika ada kesulitan, berbagi makanan, menjaga hubungan baik, atau sekadar duduk dan berbincang bersama merupakan bagian dari kehidupan yang mungkin terlihat biasa, tetapi sesungguhnya memiliki makna sosial yang besar.

Sayangnya, perubahan kota membuat sebagian suasana tersebut perlahan terdesak.
Jakarta terus berkembang. Gedung-gedung tinggi bermunculan, jalan semakin lebar, teknologi semakin maju, dan kehidupan masyarakat bergerak semakin cepat. Di tengah perubahan itu, kampung-kampung kota menghadapi tantangan untuk mempertahankan identitas dan nilai yang telah diwariskan selama bertahun-tahun.

Interaksi antartetangga, bahasa sehari-hari, dialek lokal, kebiasaan masyarakat, serta berbagai tradisi kecil merupakan bagian dari kekayaan budaya yang tidak selalu masuk ke dalam catatan sejarah resmi.

Padahal, justru dari hal-hal sederhana itulah sebuah kampung memperoleh identitasnya.

Menariknya, persoalan yang dihadapi keluarga Doel masih terasa dekat dengan kehidupan masyarakat sekarang.
Biaya pendidikan yang semakin berat, harga kebutuhan pokok, persoalan pekerjaan, hingga mahalnya tempat tinggal merupakan masalah yang masih dihadapi banyak keluarga. Penghasilan yang terbatas harus dibagi untuk memenuhi berbagai kebutuhan sekaligus mempersiapkan masa depan anak-anak.
Di sinilah kisah Si Doel tetap menemukan relevansinya.

Zaman berubah, tetapi persoalan manusia tidak selalu berubah secara mendasar. Cara hidup mungkin berbeda, teknologi semakin canggih, dan kota semakin modern, tetapi kebutuhan untuk memiliki keluarga, mencari penghidupan, memperoleh pendidikan, dicintai, dihargai, dan memiliki harapan tetap menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Harry tidak memandang kesulitan tersebut semata-mata sebagai penderitaan. Ia juga memperlihatkan bagaimana manusia berusaha bertahan dan mencari jalan keluar.

Kebahagiaan pun tidak selalu diukur dari banyaknya harta. Dalam kehidupan masyarakat kampung, kebersamaan, kasih sayang, kejujuran, dan kesediaan untuk saling membantu dapat menjadi kekayaan yang tidak mudah digantikan oleh kemewahan material.

Dengan cara pandang semacam itu, kampung bukan sekadar latar tempat berlangsungnya cerita. Kampung menjadi sebuah cara untuk memahami kehidupan.

Gagasan dalam Filosofi Orang Kampung tidak dapat dilepaskan dari perjalanan panjang Harry Tjahjono di dunia kreatif.
Lahir di Madiun, 5 Februari 1954, Harry dikenal sebagai penulis, pengamat budaya, dan pekerja seni yang telah lama berkecimpung di dunia sastra, musik, film, dan televisi.

Sejumlah novelnya telah diangkat ke layar lebar, antara lain Selamat Tinggal Duka, Langitku Rumahku, Kinanti, dan Mawar Cinta Berduri Duka. Ia juga menulis berbagai skenario televisi, termasuk Si Doel Anak Sekolahan.

Bersama Arswendo Atmowiloto, Harry turut menggarap serial Keluarga Cemara dan menciptakan lagu Harta Berharga, yang kemudian begitu lekat dengan ingatan banyak keluarga Indonesia.

Di bidang musik, ia menulis lagu untuk sejumlah seniman, antara lain Emha Ainun Nadjib, Novia Kolopaking, Rano Karno, dan Yon Koeswoyo.

Sebagai jurnalis, Harry mengawali karier dari reporter hingga kemudian dipercaya menduduki posisi pemimpin redaksi. Pengalaman panjang tersebut mempertemukannya dengan banyak manusia dan berbagai cerita kehidupan.

Ia tampaknya selalu memiliki perhatian terhadap cerita-cerita sederhana yang kerap luput dari perhatian. Keluarga, persahabatan, kampung halaman, perjuangan hidup, serta nilai kemanusiaan menjadi bagian yang berulang dalam karya-karyanya.

Karena itu, Filosofi Orang Kampung terasa seperti kelanjutan dari perjalanan kreatif tersebut. Buku ini bukan sekadar nostalgia terhadap sebuah serial televisi, melainkan refleksi seseorang yang telah lama mengamati kehidupan manusia dari dekat.

Perjalanan kreatif Harry juga tidak berhenti ketika kehidupannya menghadapi perubahan besar.
Setelah mengalami stroke yang membatasi gerak tubuhnya, ia tetap menulis dari rumah. Keterbatasan fisik tidak membuat aktivitas kreatifnya berhenti. Melalui tulisan-tulisan reflektif, ia terus menyampaikan pandangan tentang kehidupan, kemanusiaan, dan harapan.

Sejumlah buku yang terbit setelah ia mengalami stroke antara lain Smaragama, Memoar Si Doel Anak Sekolahan, Sidik Jari Crossboy Madiun, Bhagawad Gawat, dan Piring Masa Depan.

Perhatiannya terhadap nilai kehidupan juga terlihat melalui gagasannya mengenai Monumen Gembok Kejujuran di Madiun, yang menjadi simbol ajakan untuk menempatkan kejujuran sebagai salah satu fondasi kehidupan bersama.

Dalam perkembangan terbarunya, Harry tetap berusaha produktif dengan menuntaskan buku-buku baru dan merencanakan pembaruan aransemen sejumlah karya musik lama. Kecintaannya terhadap budaya Betawi juga terus ia tuangkan melalui novel, puisi, novelet, serta lagu-lagu bertema Betawi.

Semangat berkarya tersebut memberi konteks tersendiri bagi Filosofi Orang Kampung. Buku ini lahir dari perjalanan panjang seorang kreator yang tidak hanya menulis tentang masyarakat, tetapi juga menyimpan perhatian terhadap nilai-nilai yang hidup.
Pada akhirnya, Filosofi Orang Kampung menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar nostalgia terhadap Si Doel Anak Sekolahan.

Buku ini mengajak pembaca melihat kembali kehidupan yang sering dianggap sederhana, bahkan biasa-biasa saja, tetapi sesungguhnya menyimpan banyak pelajaran.

Ada kegagalan, kehilangan, pertengkaran, dan kekecewaan. Tetapi ada pula tawa, kasih sayang, kebersamaan, kejujuran, serta harapan.
Semua itu menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Kampung, dalam buku Harry Tjahjono, bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah ruang tempat manusia belajar mengenal keluarga, membangun hubungan dengan tetangga, memahami arti kebersamaan, dan menemukan tempat untuk kembali.

Jakarta boleh terus bergerak menuju masa depan. Gedung-gedung boleh semakin tinggi, teknologi semakin canggih, dan kehidupan semakin cepat. Namun, perubahan tidak harus berarti kehilangan ingatan.

Sebab, di balik kemajuan sebuah kota selalu ada manusia yang pernah membangun kehidupan dari ruang-ruang sederhana.

Mungkin karena itulah kisah Doel masih terasa dekat hingga sekarang. Bukan semata karena kita pernah mengenalnya di layar kaca, melainkan karena ada bagian dari kehidupan kita sendiri yang terselip di dalamnya.

Dan Filosofi Orang Kampung mengajak kita membacanya kembali, bukan hanya sebagai kisah tentang sebuah kampung, tetapi sebagai pengingat bahwa dari rumah, keluarga, tetangga, dan lingkungan terdekatlah manusia pertama kali belajar memahami arti kehidupan.*

* Kin Sanubary, kolumnis, kolektor, pendiri dan pengelola Rumah Media Lawas, penerima Penghargaan PWI Jawa Barat 2023 bidang pelestari media massa nasonal, bermukim di Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Leave a Response