RESENSI BUKU

Menjadi Manusia di Era Algoritma: Membaca “Sosiologi dan Kehidupan Digital dalam Perspektif Komunikasi”

5views

Judul Buku: Sosiologi dan Kehidupan Digital dalam Perspektif Komunikasi
Penulis: Dr. Kiki Zakiah, M.Si
Penyunting: Askurifai Baksin
Penerbit: CV. Mediamore Karya Optima
Cetakan: Pertama, Juni 2026

DI ERA ketika manusia lebih sering menyentuh layar daripada berjabat tangan, satu pertanyaan penting layak diajukan: sejauhmana kita benar-benar memahami kehidupan digital yang kita jalani setiap hari? Kita bangun tidur membuka telepon genggam, bekerja dengan perangkat digital, mencari hiburan di media sosial, hingga membangun relasi melalui platform virtual. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya: apakah teknologi hanya alat, atau ia sudah menjadi ruang hidup baru manusia?

Pertanyaan reflektif tersebut menjadi pintu masuk utama di buku Sosiologi dan Kehidupan Digital dalam Perspektif Komunikasi karya Dr. Kiki Zakiah, M.Si. Buku ini hadir di saat yang tepat—ketika masyarakat semakin tenggelam dalam kehidupan digital tetapi belum sepenuhnya memahami implikasi sosial, budaya, politik, dan komunikatif yang ditimbulkannya. Alih-alih sekadar membahas teknologi dari sisi teknis, penulis mengajak pembaca memahami dunia digital sebagai realitas sosial yang membentuk cara manusia berpikir, berinteraksi, bahkan membangun identitas dirinya.

Kekuatan utama buku ini terletak pada keberaniannya memadukan perspektif sosiologi dan ilmu komunikasi dalam membaca fenomena digital. Pembaca diajak menyelami isu-isu penting yang selama ini terasa dekat tetapi sering kali luput dipertanyakan. Mengapa iklan yang muncul di media sosial terasa terlalu mengenal kebutuhan kita? Mengapa algoritma seolah mengetahui apa yang sedang kita pikirkan? Apakah data pribadi kita masih sepenuhnya milik kita sendiri? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini menjadi benang merah pembahasan buku.

Dalam bab-bab awal, Dr. Kiki Zakiah mengupas secara mendalam persoalan privasi digital, pengawasan, dan kekuasaan di masyarakat digital. Pembahasan ini terasa sangat relevan di tengah maraknya kebocoran data, personalisasi iklan, dan meningkatnya ketergantungan masyarakat terhadap platform digital. Penulis menunjukkan bahwa kehidupan digital tidak pernah benar-benar netral. Di balik kenyamanan layanan gratis, terdapat proses pengumpulan data yang masif dan mekanisme pengawasan yang sering kali tidak disadari pengguna. Kehidupan digital, dalam banyak hal, ternyata adalah ruang negosiasi antara kenyamanan, kebebasan, dan kontrol sosial.

Namun, buku ini tidak terjebak dalam narasi pesimistis tentang teknologi. Sebaliknya, penulis menghadirkan pembacaan yang lebih seimbang. Dunia digital dipahami sebagai ruang penuh peluang sekaligus tantangan. Misalnya dalam pembahasan mengenai pendidikan digital, buku ini mengulas bagaimana teknologi membuka akses pendidikan secara lebih luas, tetapi di saat bersamaan juga memunculkan ketimpangan digital, persoalan etika, hingga komersialisasi pendidikan berbasis platform. Perspektif semacam ini penting karena membantu pembaca melihat teknologi secara lebih kritis—tidak terlalu optimistis, tetapi juga tidak paranoid.

Bagian yang tak kalah menarik adalah pembahasan tentang budaya pop digital dan aktivisme media sosial. Di sini, pembaca diajak memahami bahwa meme, tren viral, influencer, hingga hashtag bukan sekadar hiburan atau fenomena sesaat. Semua itu merupakan bagian dari dinamika budaya digital yang turut membentuk identitas sosial masyarakat modern. Apa yang kita unggah, sukai, bagikan, atau komentari ternyata bukan aktivitas sederhana. Ia adalah praktik budaya yang mencerminkan relasi kuasa, pembentukan identitas, bahkan arena perjuangan makna dalam masyarakat digital.

Dari sisi penyajian, buku ini memiliki gaya penulisan yang cukup komunikatif untuk ukuran buku akademik. Dr. Kiki Zakiah tampaknya sadar bahwa pembaca era digital membutuhkan pendekatan yang lebih dialogis. Karena itu, banyak bagian diawali dengan pertanyaan-pertanyaan reflektif yang terasa dekat dengan pengalaman sehari-hari pembaca. Strategi ini membuat pembahasan teori tidak terasa kaku dan lebih mudah dicerna, terutama bagi mahasiswa atau pembaca umum yang baru mulai tertarik pada kajian komunikasi digital dan sosiologi media.

Tentu, seperti kebanyakan karya akademik, buku ini tetap membutuhkan konsentrasi dalam membaca, terutama pada bagian-bagian yang membahas teori dan konsep secara mendalam. Namun, justru di sanalah nilai pentingnya. Buku ini tidak menawarkan jawaban instan, melainkan mengajak pembaca berpikir kritis tentang bagaimana teknologi bekerja dalam kehidupan manusia.

Pada akhirnya, Sosiologi dan Kehidupan Digital dalam Perspektif Komunikasi bukan sekadar buku tentang internet, media sosial, atau teknologi digital. Ia adalah buku tentang manusia—tentang bagaimana identitas dibentuk, bagaimana kekuasaan bekerja, bagaimana budaya diproduksi, dan bagaimana relasi sosial berubah di tengah dominasi layar dan algoritma.

Bagi mahasiswa komunikasi, sosiologi, media, pendidikan, maupun kajian budaya, buku ini layak menjadi referensi penting. Sementara bagi masyarakat umum, buku ini dapat menjadi semacam “peta” untuk memahami dunia digital yang selama ini kita gunakan, tetapi belum tentu kita pahami sepenuhnya.

Karena mungkin, persoalan terbesar di era digital bukanlah terlalu banyak teknologi—melainkan terlalu sedikit manusia yang memahami bagaimana teknologi membentuk kehidupannya.***

Leave a Response