Seni Budaya

Halo Bukittinggi, di Mana Ruang bagi Seniman Berkumpul

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.

37views

Oleh Muhammad Subhan

Saya sepakat dengan kegelisahan itu. Bukan semata karena saya juga bergerak di dunia literasi dan kesenian, melainkan karena saya pernah menyaksikan sendiri denyut Bukittinggi dari dekat. Pada 2006—2007, saya sempat bermukim di Bukittinggi sebagai kepala perwakilan sebuah koran harian terbitan Padang. Dalam rentang waktu itu, saya melihat Bukittinggi bukan hanya sebagai kota wisata yang cantik dan ramai, sebaliknya juga sebagai simpul perjumpaan yang kuat antarkota. Orang datang dari Agam, Payakumbuh, Padang Panjang, Tanah Datar, Pasaman, bahkan dari Padang, untuk berjualan, belajar, berdiskusi, atau sekadar menikmati suasana kota. Pun orang-orang dari luar Sumatra Barat. Bukittinggi hidup. Bukittinggi bergerak. Bukittinggi berdenyut.

MENARIK membaca tulisan Dr. Indra Utama, S.Kar., M.Hum. di laman Facebook-nya, Kamis, 9 Juli 2026, berjudul “Seniman Bukittinggi Perlukan Tempat Berkreativitas”. Tulisan itu menyorot satu soal mendasar yang selama ini kerap luput dari perhatian, yaitu tidak adanya tempat representatif bagi seniman Bukittinggi untuk berkumpul, berlatih, berdiskusi, menginkubasi karya, dan menampilkannya kepada publik.

Akibatnya, banyak pelaku seni terdampak langsung. Sanggar tari, penyanyi Minang, sastrawan, pemain teater, hingga perupa seperti kehilangan rumah tempat mereka menyalakan api kreativitas.

Saya sepakat dengan kegelisahan itu. Bukan semata karena saya juga bergerak di dunia literasi dan kesenian, melainkan karena saya pernah menyaksikan sendiri denyut Bukittinggi dari dekat. Pada 2006—2007, saya sempat bermukim di Bukittinggi sebagai kepala perwakilan sebuah koran harian terbitan Padang. Dalam rentang waktu itu, saya melihat Bukittinggi bukan hanya sebagai kota wisata yang cantik dan ramai, sebaliknya juga sebagai simpul perjumpaan yang kuat antarkota. Orang datang dari Agam, Payakumbuh, Padang Panjang, Tanah Datar, Pasaman, bahkan dari Padang, untuk berjualan, belajar, berdiskusi, atau sekadar menikmati suasana kota. Pun orang-orang dari luar Sumatra Barat. Bukittinggi hidup. Bukittinggi bergerak. Bukittinggi berdenyut.

Dari sanalah saya memandang, kota ini sesungguhnya layak didorong menjadi kota sastra, atau setidaknya kota yang menjadikan kebudayaan secara luas sebagai salah satu wajah utamanya. Bukittinggi punya modal untuk itu. Ia punya sejarah. Punya tradisi intelektual. Punya lalu lintas manusia yang padat. Punya ruang simbolik yang kuat. Dan yang tak kalah penting, punya banyak seniman yang selama ini tetap bertahan berkarya meski sering bekerja dalam keterbatasan.

Oleh karena itu, ketika Dr. Indra Utama menulis kegelisahannya bahwa aktivitas seni di Bukittinggi selama ini berjalan secara “nomaden”, saya merasa yang ia sebut bukanlah keluhan sesaat, sebaliknya sebuah potret nyata kota yang belum sepenuhnya menaruh kebudayaan sebagai kebutuhan dasar pembangunan. Kegiatan seni, sastra, teater, dan pameran rupa berpindah-pindah dari trotoar, halaman sekolah, aula, hingga kantor-kantor pemerintah. Artinya, ekosistem seni di Bukittinggi sesungguhnya hidup. Ia ada dan bergerak. Hanya saja, selama ini belum ditopang infrastruktur yang memadai.

Di satu sisi, ini menunjukkan daya tahan komunitas. Para seniman tetap bekerja walau tanpa fasilitas layak. Mereka tidak menunggu gedung megah untuk mencipta. Mereka tetap menari, menulis, melukis, menyanyi, dan bermain teater dengan ruang seadanya. Namun, di sisi lain, keadaan ini tak bisa terus-menerus dianggap wajar. Ketika kesenian dibiarkan hidup secara berpindah-pindah, tanpa rumah yang jelas, yang terjadi bukan romantika perjuangan—lebih jauh dari itu, adalah pengabaian yang pelan-pelan melemahkan ekosistem.

Kita patut menghargai ruang-ruang swadaya yang selama ini diupayakan komunitas. Forum Studi Ladang Rupa, misalnya, telah mengambil peran sebagai ruang alternatif. Namun, seperti juga disinggung Dr. Indra Utama, ruang swadaya tidak mungkin menanggung seluruh beban kebudayaan kota. Kapasitas fisik dan finansialnya terbatas. Ia bisa menjadi pemantik, bisa menjadi simpul kecil yang penting, tapi tidak bisa dibiarkan sendirian memikul kebutuhan sebuah kota wisata dan kota budaya seperti Bukittinggi.

Dan persoalannya bukan sekadar gedung. Yang dibutuhkan Bukittinggi sesungguhnya adalah ruang kolektif. Tempat orang bertemu secara wajar. Tempat seniman muda bisa belajar dari yang lebih senior. Tempat karya lahir, diuji, diperdebatkan, lalu dipertunjukkan. Tempat komunitas sastra bisa membaca puisi atau membedah buku. Tempat kelompok teater berlatih tanpa diburu-buru waktu. Tempat perupa memamerkan karya tanpa harus menunggu acara seremonial. Tempat musisi dan penyanyi tradisi menyiapkan pertunjukan dengan peralatan yang layak.

Pendeknya, ruang yang membuat kebudayaan bekerja setiap hari, bukan hanya hidup saat festival datang.

Di titik inilah saya merasa gagasan Bukittinggi sebagai kota sastra—atau kota kreatif berbasis literasi dan seni—menjadi relevan dibicarakan. Kota sastra tentu bukan label yang lahir dari spanduk, baliho, atau seremoni, tapi lahir dari ekosistem. Dari pertemuan antarmanusia. Dari kebiasaan membaca, menulis, berdiskusi, dan merayakan gagasan. Dari ruang-ruang yang memungkinkan percakapan berlangsung terus-menerus. Bukittinggi memiliki potensi itu.

Sebagai kota simpul antarkota di Sumatra Barat, Bukittinggi selalu menjadi tempat orang singgah dan bertemu. Energi perjumpaan itu, jika dikelola dengan visi kebudayaan yang jelas, dapat menjadi fondasi penting untuk membangun identitas kota yang lebih kuat.

Bukittinggi bukan kota tanpa memori kebudayaan. Ia punya sejarah panjang sebagai kota pendidikan, kota pergerakan, kota perjuangan, dan kota yang melahirkan banyak gagasan. Dalam lanskap Minangkabau, Bukittinggi punya posisi penting. Tentu sayang sekali jika identitasnya hanya dikerucutkan pada destinasi wisata, pusat belanja, atau kota persinggahan. Bukittinggi terlalu kaya untuk dipersempit menjadi sekadar latar berfoto. Bukittinggi punya kemungkinan lebih besar menjadi kota yang memadukan pariwisata, sejarah, dan kebudayaan secara utuh.

Tulisan Dr. Indra juga mengingatkan pada hilangnya Medan Nan Balinduang yang pernah ada, yaitu ruang komunal di kawasan Jam Gadang yang dulu menjadi tempat bertemunya gagasan, proses kreatif, dan pewarisan nilai budaya. Ketika ruang seperti itu hilang karena perubahan fungsi kawasan, mestinya pemerintah kota peka bahwa yang hilang bukan sekadar sebidang tempat, melainkan salah satu jantung kebudayaan kota. Dan ketika jantung itu diambil, dan denyut nadinya tak terasa lagi, semestinya ada upaya sungguh-sungguh menyiapkan pengganti yang sepadan.

Sayangnya, yang sering terjadi justru sebaliknya. Pembangunan kota lebih banyak bergerak pada hal-hal yang kasat mata, seperti pedestrian, taman, ruko, tempat parkir, dan fasilitas penunjang pariwisata. Semua itu tentu penting. Kota wisata memang perlu wajah yang tertata. Namun, kota tidak hidup hanya oleh semen, paving block, dan lampu-lampu dekoratif. Kota juga hidup oleh percakapan, oleh ingatan, oleh kesenian, oleh manusianya. Dan manusia-manusia kebudayaan itu perlu ruang.

Tanpa ruang, kesenian akan dipaksa menjadi tempelan acara. Ia hanya hadir saat peringatan hari jadi, festival tahunan, atau seremoni penyambutan tamu. Setelah itu, ia kembali disimpan. Padahal, kesenian semestinya bukan ornamen. Ia adalah napas. Kesenian mesti hadir dalam keseharian kota. Ia mesti menjadi bagian dari denyut yang terus terdengar, bahkan ketika panggung besar sudah dibongkar dan lampu sorot dipadamkan.

Saya membayangkan Bukittinggi memiliki satu gedung kesenian atau ruang kreatif terpadu yang tidak berdiri sebagai bangunan mati. Di dalamnya ada ruang pertunjukan, ruang latihan, ruang pamer, perpustakaan atau pojok baca, ruang diskusi, dan sekretariat bersama komunitas. Tempat itu bisa menjadi rumah bagi banyak cabang seni sekaligus. Bukan hanya untuk seniman senior, tapi juga untuk anak-anak muda yang sedang mencari jalannya di dunia kreatif.

Pemerintah Kota Bukittinggi tidak harus memikirkan kemewahan terlebih dahulu. Yang utama adalah keberpihakan, keseriusan, dan keberlanjutan. Melalui visi keberpihakan itu, optimalisasi dan alih fungsi aset daerah yang saat ini mangkrak atau belum termanfaatkan sebenarnya bisa menjadi solusi awal yang sangat realistis, tanpa harus membebani anggaran daerah dengan proyek fisik baru yang mahal.

Lebih jauh, ruang semacam itu akan memberi dampak berlapis. Ia bukan hanya menghidupkan seniman, melainkan juga memperkuat pariwisata berbasis pengalaman budaya. Wisatawan tidak datang ke Bukittinggi hanya untuk melihat Jam Gadang dan membeli oleh-oleh, tapi juga untuk menyaksikan pertunjukan, menghadiri pembacaan puisi, melihat pameran rupa, mengikuti diskusi budaya, atau menikmati pertunjukan musik tradisi. Di situlah kebudayaan bekerja sebagai daya hidup kota, bukan sekadar pemanis promosi.

Saya percaya, investasi pada ruang seni bukan pemborosan anggaran, melainkan investasi peradaban. Ia mungkin tidak segera menghasilkan angka-angka yang mudah dipamerkan di laporan pembangunan. Namun, ia menumbuhkan sesuatu yang jauh lebih penting, yaitu keberlanjutan identitas kota, rasa memiliki warga terhadap kebudayaannya, dan peluang lahirnya generasi kreatif baru yang tumbuh dari akar lokalnya sendiri.

Bukittinggi, dengan segala potensinya, terlalu berharga jika membiarkan seniman berjalan sendiri-sendiri, berpindah dari satu tempat pinjaman ke tempat pinjaman lain. Kota ini memerlukan ruang-ruang kolektif yang membuat para seniman merasa dirangkul, bukan ditinggalkan. Ruang yang membuat mereka bisa berkumpul, saling menguatkan, dan melahirkan karya-karya baru yang akan terus memperkuat citra (branding) kota itu. Ruang yang menandai bahwa pemerintah kota tidak hanya bangga pada warisan budaya sebagai pajangan, melainkan juga serius merawat manusia-manusia yang menjaga warisan itu tetap hidup.

Saya mendukung kegelisahan Dr. Indra Utama. Bukittinggi memang memerlukan tempat berkreativitas bagi senimannya. Bukan nanti. Bukan ketika semuanya sudah sepi. Melainkan sekarang, ketika denyut itu masih ada, ketika para pelaku seni masih bertahan, dan ketika kota ini masih punya kesempatan untuk memilih: menjadi kota wisata yang ramai tapi dangkal, atau menjadi kota yang indah sekaligus berjiwa.

Bukittinggi sudah lama dikenal sebagai kota tujuan. Kini saatnya ia juga dikenal sebagai kota yang menyediakan rumah bagi gagasan, bagi kesenian, bagi sastra, dan bagi para senimannya. Sebuah kota tak cukup hanya elok dipandang, tapi juga harus hangat untuk ditinggali oleh kebudayaannya sendiri. ** Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.

Editor : Rianto Muradi

Leave a Response