
Oleh: Ridhazia
PENENTUAN awal ramadan dan hari lebaran di Indonesia rupanya tak selalu membutuhkan keseragaman.
Alih-alih perbedaan itu meretakan dan pertentangan malah unik serunik. Yakni sangat unik, benar-benar istimewa, atau lain daripada yang lain sebagaimana saya nukil informasinya dari berbagai referensi .
Jamaah An-Nadzir
Jemaah An-Nadzir yang berbasis di Gowa, Sulawesi Selatan diidentifikasi sebagai kelompok Islam “non-mainstream” menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah bertepatan Rabu 18 Februari 2026.
Metode yang digunakan jemaah ini nyaris tidak lazim. Untuk menentukan awal puasa, bukan hanya memantau pergerakan matahari dan bulan. Juga fenomena alam hujan, petir, angin kencang dan pasang surut air laut.
Jamaah Aboge
Kelompok jamaah Aboge yang diidentifikasi sebagai Islam Kejawen yang tersebar di Banyumas, Cilacap, dan Probolinggo menentukan awal puasa dan hari raya.berpatokan pada siklus sewindu (8 tahun Jawa: Alif, Ha, Jim Awal, Za, Dal, Be, Wawu, Jim Akhir.
Dan, secara turun-temurun sudah menggunakan sistem hisab urfi yakni perhitungan matematis konvensional yang hanya dikenal secara khusus okeh tokoh agama tertentu.
Jemaah Tarekat Naqsyabandiyah
Demikian juga dengan keunikan Jemaah Tarekat Naqsyabandiyah di Sumatera Barat menetapkan awal puasa pada Selasa, 17 Februari 2026.
Jamaah ini menggunakan metode hisab dan rukyat sekaligus dilengkapi dalil kias (qiyas). Juga perhitungan kalender Hijriah Qomariyah yanh paling klasik dan telah digunakan nenek moyang secara turun-temurun.
Tarekat Syattariyah
Tarekat yang berkembang di Sumatera Barat dan berpusat di Ulakan, Kabupaten Padang Pariaman itu baru menetapkan awal Ramadan berdasarkan hisab dan rukyat yang tak kalah klasik dan unik.
Tradisi turun-temurun yang bernuansa sufistik dan mistis dilakukan oleh pimpinan tarekat dengan memantau fenomena alam dengan mata telanjang dari lokasi Makam Syekh Burhanuddin, Ulakan, Kabupaten Padangpariaman, Sumatera Barat.
Islam Wiwitan Baduy
Berdasarkan informasi adat Suku Baduy, awal puasa yang dimaksud dengan puasa ritual Kawalu juga berbeda.
Puasa ini dimulai secara serentak di Baduy Dalam (Cibeo, Cikartawana, Cikeusik) pada 20 Januari 2026 berdasarkan penanggalan adat tradisional Sunda Wiwitan.
Lazimnya suku Baduy, untuk menentukan awal puasa berpatokan pada peredaran bulan dan ritual turun-temurun setelah panen padi.*
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.





