
Oleh : Wati Susilawati
DIBERITAKAN, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Prof. Abdul Mu’ti pernah mengingatkan para guru untuk memghapus stigma matematika sebagai mata pelajaran yang sulit dan menakutkan. Sebab matematika adalah dasar berbagai ilmu.
Apa yang dikemukakan Mendikdasmen logis dan benar. Apalagi stigma negatif tentang pelajaran matematika sudah lama berkembang di negeri ini. Bahkan telah memicu perdebatan di kalangan ahli pendidikan matematika.
Hasil Kontruksi Sosial
Stigma matematika itu pelajaran yang sulit dan menakutkan bukanlah berasal dari satu sumber tunggal. Tetapi telah berkembang dari berbagai penyebab.
Berdasarkan penelitian, pelabelan negatif itu antara lain disebabkan sifat pelajaran matematika yang sangat abstrak. Banyak rumus yang harus dihapalkan kerap dianggap sebagai beban pelajaran yang terlalu serius dan membingungkan.
Berbanding terbalik dengan pelajaran ilmu-ilmu sosial yang sering kali berkaitan dengan fakta dan peristiwa konkret seperti dalam pelajaran sejarah, geografi, sosiologi, ekonomi, dan antropologi yang kesemuanya bersandar pada pengamatan empiris dan nyata sebagai fenomena sosial.
Dengan kata lain stigma bahwa “matematika itu susah” itu hasil konstruksi sosial yang telah lama tertanam dalam bawah sadar karena diwariskan sehingga menciptakan siklus transmisi stereotip negatif.
Masalah Pedagogis Terbarukan
Dari perspektif pedagogis, pelajaran matematika yang terbarukan kini sudah berangsur menjadi pelajaran yang tidak lagi menakutkan.
Pelajaran matematika telah bertransformasi dari sekadar hafalan rumus menjadi pelajaran yang relevan dan menarik. Berbeda dengan pedagogis yang lama yang sering kali fokus pada menghafal rumus yang menyebabkan siswa merasa terbebani dan cemas.
Pergeseran fokus pedagogis dari hafalan ke pemahaman konsep inipun kini telah didukung oleh profesionalitas guru matematika melalui pembelajaran kontekstual yakni menghubungkan matematika dengan kehidupan nyata dan situasi sehari-hari siswa sehingga mata pelajaran matematika menjadi lebih bermakna dan tidak abstrak lagi.
Demikian juga penilaian pelajaran matematika di sekolah tidak hanya berfokus pada hasil ujian tertulis, tetapi juga pada proses pemecahan masalah, penalaran, dan pemahaman konsep, yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara simultan.
Mengasyikkan
Dengan kata lain pelajaran matematika telah berubah dari semula distigma menakutkan kini berubah menjadi pelajaran yang mengasyikkan.
Bahkan sangat ampuh menjadi pelajaran yang membawa siswa memahami dunia yang jauh melampaui ruang kelas. Lebih menarik dan meluas jauh ke dalam kehidupan sehari hari yang tidak mengawang. Pembelajaran matematika lebih kontekstual, lebih dinamis dan menyenangkan.
Penggunaan metode simulasi seperti permainan edukatif dengan pemanfaatan teknologi digital telah menjembatani kesenjangan antara teori matematika dan penerapannya di dunia nyata memungkinkan siswa memvisualisasikan konsep abstrak menjadi jalan baru untuk inovasi.
Babak baru perubahan pelajaran matematika ini mengingatkan saya pada pendapat Jo Boaler dari Sekolah Pascasarjana Pendidikan Stanford.
Sang profesor yang aktif mempromosikan reformasi dalam pendidikan matematika meyakini bahwa pelajaran matematika bukan pelajaran yang sulit dan berpeluang bisa diikuti siapa saja.
Ia membantah pendapat ahli pendidikan yang menyatakan bahwa pembelajara matematika perlu memiliki “otak matematika” alami sebagai kekeliruan. Bahkan pendapat itu kuno, bahkan hanya mitos.
Justru ia menekankan bahwa setiap pelajar dapat mencapai tingkat tertinggi dalam matematika melalui pendekatan pengajaran yang tepat dan pola pikir berkembang (growth mindset).
* Dr H.Wati Susilawati, M.Pd adalah Dosen Fakultas Tarbiyah dan Kegiatan (FTK) dan Program Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung.


