
Oleh: Ridhazia
BUKAN Abu Janda kalau berdebat tidak panas. Malah diusir dari acara Talkshow TV setelah berdebat dengan profesor Ilmu Politik Ikrar Nusa Bhakti dan pakar Hukum Tata Negara Feri Amsari ihwal konflik Amerika Serikat-Israel kontra Iran.
Pria asal Cianjur itu diusir oleh host televisi swasta bukan karena subtansi yang diperdebatkan tentang Amerika, Israel dan Iran yang tengah berkonflik.
Tapi dia menggunakan diksi kasar yang tak pantas dikemukakan di ruang publik. Relasi emosional Abu Janda itu sebagai reaksi atas sikap sang profesor lawan debatnya seolah-olah tidak faham dengan apa yang dikatakannya.
Sentimen AS
Abu Janda dalam perdebatan itu membela Amerika Serikat (AS). Secara historis, tahun 1949 AS berperan besar dalam mendorong Belanda melalui Konferensi Meja Bundar dan resolusi PBB agar ke luar dari Indonesia.
Sentimen terhadap AS didasari kebencian buta, kata Abu Janda tanpa mencoba untuk mencoba adil atas peran AS selama ini.
Berbanding terbalik dengan pernyataan Ikrar Nusa Bhakti yang tegas menyatakan keterlibatan Amerika pada masa lalu itu tak lepas dari kepentingan geopolitik.
Khususnya kekhawatiran terhadap pengaruh komunisme. Dengan kata lain, mantan Duta Besar Tunisia itu dengan ringkas menyatakan menolak pendapat Abu Janda : “Jangan pikir Amerika Negara Baik!”
Siapa Abu Janda?
Dia aktif dI media sosial, terutama instagram, dengan kekhususan mengkritisi kasus kasus intoleransi dan radikalisme agama.
Alumni pendidikan Diploma Ilmu Komputer Informatic It School Singapura (April 1997) dan Sarjana Business & Finance University of Wolverhampton Inggris (1999) sangat intens menulis di media sosial.
Sebagai seorang aktivis yang kontroversial, Abu Janda sering terjerat kasus pidana yanh dilaporkan ke pihak berwajib.
Khususnya terkait pembubaran kegiatan peribadatan, penolakan pembangunan rumah ibadah dan perusakan tempat ibadah umat beragama minoritas yang terjadi di seluruh Indonesia.*
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunukasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.





