Pendidikan

Seni Merawat Mental Juara

20views

Oleh Muhammad Subhan

Mendapatkan  sesuatu kemenangan itu bisa dan biasa. Dengan usaha maksimal, akan tetapi..yang akan jadi tantangan adalah usaha apa yang akan kita lakukan untuk bisa “mempertahankan” nya. (Aan Zarni)

MENJADI juara itu bonus dari latihan terus-menerus. Bertungkus lumus. Proses yang baik, hasil akhirnya biasanya juga baik.

Namun, setelah juara apa lagi?

Jawabannya adalah: belajar lagi, berlatih lagi, dan lebih banyak membaca lagi.

Membaca sudah pasti buku dan sumber-sumber referensi lainnya. Tapi lebih dari itu, membaca keadaan, membaca perubahan, membaca kekurangan diri sendiri, serta membaca bagaimana orang lain bertumbuh lebih cepat dari kita.

Begitulah sering saya katakan kepada pelajar-pelajar binaan saya di saat mereka mencapai satu tahapan dari proses kompetisi yang mereka ikuti, terutama di bidang tulis-menulis.

Jika kompetisi itu tak berjenjang dan menang, mereka saya mohon jangan lekas berpuas diri. Sebab kemenangan yang diraih hari ini bukan jaminan akan terus menang di kesempatan berikutnya. Ada banyak peserta lain yang mungkin sedang diam-diam belajar lebih keras, memperbaiki kelemahan mereka, dan mempersiapkan diri dengan lebih serius.

Jika berjenjang hingga ke tingkat nasional, pun mereka saya minta untuk memeriksa kembali apa saja catatan-catatan penting di saat dewan juri menyampaikan pandangan mereka terhadap koreksi seluruh peserta lomba, terutama terkait naskah.

Catatan-catatan itu berguna sekali dan pada proses latihan kembali, bagian itulah yang perlu dikuatkan. Sebab sering kali kekalahan atau kekurangan justru tersembunyi pada hal-hal kecil yang diabaikan. Ada peserta yang bahasanya bagus, tapi lemah dalam membangun gagasan. Ada yang idenya kuat, tapi kurang disiplin dalam teknis penulisan. Ada pula yang sebenarnya berbakat, tapi kurang membaca sehingga perspektifnya sempit.

Menjadi juara bukan sekadar soal bakat. Juara adalah hasil dari kesabaran menjalani proses panjang.

Jika satu tahapan terlampaui, saya sampaikan kepada pihak sekolah bahwa proses latihan sebagai persiapan ke jenjang selanjutnya harus lebih kuat dan ketat. Jika perlu, sekolah melakukan proses karantina sehingga siswa fokus mempersiapkan materi lomba. Keterlibatan praktisi pendamping selain guru juga tak kalah penting.

Sistem pendukung yang paling utama adalah kepala sekolah dan orang tua, selain guru pembina. Kepala sekolah harus memastikan semua keperluan siswa calon peserta lomba yang bersiap agar jenjang berikutnya tercapai dengan baik, tidak hanya apa adanya. Perangkat-perangkat yang diperlukan harus tersedia, termasuk pembagian kerja, jadwal latihan, kebutuhan referensi, akses internet, hingga pengaturan teknis lainnya agar siswa benar-benar dapat fokus menjalani proses latihan.

Orang tua pun memiliki peran besar. Dukungan moral dari rumah sering kali menjadi tenaga tambahan bagi anak-anak untuk bertahan menjalani latihan yang melelahkan. Ada anak yang harus begadang menyelesaikan latihan mereka. Ada yang harus mengurangi waktu bermain. Ada pula yang mulai merasa tertekan karena takut gagal membawa nama baik sekolah.

Di titik seperti itu, orang tua perlu hadir bukan untuk menambah tekanan, tapi memberi ketenangan.

Guru pembina juga demikian. Mereka tidak sekedar pembantu administrasi lomba. Guru pembina adalah orang-orang yang ikut menjaga semangat siswa agar tidak ambruk di tengah jalan. Sebab proses menuju juara terkadang tidak selalu berjalan mulus. Ada rasa takut, cemas, jenuh, kecewa, bahkan konflik batin ketika hasil latihan tidak sesuai harapan.

Oleh karena itu pula, kehadiran pelatih profesional atau praktisi ahli sangat membantu. Mereka biasanya memiliki pengalaman lebih luas terhadap karakter lomba dan pola penilaian dewan juri. Melalui mereka, siswa menyadari bahwa kesiapan menghadapi situasi sulit serta kecepatan memancarkan kesalahan jauh lebih menentukan hasil akhir daripada sekedar kecerdasan semata.

Saya sering mengatakan kepada siswa-siswa binaan bahwa kemenangan sejati bukan ketika nama kita dipanggil sebagai juara di panggung. Kemenangan sejati adalah ketika kita mau memeriksa kekurangan diri sendiri dengan suara hati yang jujur.

Dan tentu saja, tidak mudah melakukannya.

Ada orang yang menang sekali lalu merasa dirinya paling hebat. Padahal di luar sana, banyak orang yang diam-diam sedang belajar lebih keras darinya. Ada pula yang kalah sekali lalu merasa dirinya tidak punya kemampuan apa-apa. Keduanya sama-sama keliru.

Menang harus membuat seseorang rendah hati. Kemenangan hanyalah satu titik kecil dari perjalanan panjang belajar. Sedangkan kekalahan tidak bisa membuat seseorang menjadi rendah diri. Gagal hari ini bukan berarti gagal selamanya.

Saya selalu meminta siswa-siswa binaan untuk belajar dari kompetitor. Jangan hanya melihat mereka sebagai lawan, tapi lihatlah apa yang menjadi kekuatan mereka. Pelajari cara mereka membangun ide, keberanian mereka menyampaikan gagasan, dan kedisiplinan mereka berlatih.

Begitu juga terhadap dewan juri. Kadang-kadang peserta terlalu sibuk membela diri ketika dikritik. Padahal, kritik dari juri justru bisa menjadi jalan untuk bertumbuh. Orang yang mau maju harus siap dikoreksi.

Di dunia apa pun, proses besar tidak pernah lahir dari cara instan. Tidak ada juara yang muncul tiba-tiba seperti simsalabim. Di belakang sebuah kemenangan, ada latihan yang panjang, kegagalan yang berulang, air mata, rasa lelah, dan kesabaran yang tidak sedikit.

Oleh karena itu, saya selalu senang melihat siswa yang tetap tekun berlatih meskipun belum pernah menang. Sebab sejatinya mereka sedang membangun mental yang kuat. Dan mental seperti itulah yang kelak membuat seseorang mampu bertahan lebih lama dalam menghadapi badai kehidupan.

Demikianlah. Panggung juara hanyalah halte persinggahan, bukan tujuan akhir dari sebuah perjalanan intelektual. Seorang juara sejati adalah ia yang tetap merasa ‘lapar’ akan ilmu meski medali telah melingkarinya. Ia sadar bahwa di atas langit masih ada langit.

Teruslah berproses tanpa perlu menunggu adanya kompetisi. Jadikan menulis dan membaca sebagai pondasi; napas harian, bukan sekadar instrumen untuk berburu trofi.

Dan sekali lagi, trofi hanyalah bonus. Lebih dari itu orang yang terus belajar akan selalu menemukan jalan untuk berkembang, bahkan setelah tepuk tangan berhenti. **Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, pendiri Sekolah Menulis elipsis

Editor : Rianto Muradi

Leave a Response