
KAB. BANDUNG, Bandungpos.id –
Di tengah dinamika zaman yang senantiasa bertransformasi, peran seorang pendakwah tidak lagi cukup hanya sebatas penyampai pesan, melainkan harus senantiasa berposisi sebagai pembelajar sepanjang hayat. Kualitas dakwah sangat bergantung pada kedalaman wawasan dan intelektualitas yang dimiliki, menjadikan upaya penguatan keilmuan sebagai keniscayaan yang mutlak dilakukan.
Seorang dai tidak boleh berhenti pada kemampuan menyampaikan materi semata, melainkan harus disertai kesadaran bahwa kewajiban menuntut ilmu dan mengaji merupakan proses yang tak pernah berakhir. Seorang pendakwah wajib memposisikan diri sebagai pelajar sejati yang tidak boleh merasa puas dengan capaian keilmuan saat ini, mengingat samudra pengetahuan memiliki kedalaman dan keluasan yang tak terbatas. Hal tersebut disampaikan H. Enjang Rohimat, S.Ag., M.M., dalam wawancara dengan Bandungpos.id, Kamis (14/5/2026).
“Kesalahan fundamental yang sering terjadi adalah ketika seseorang merasa sudah ahli, lalu berhenti menggali ilmu. Padahal, dakwah yang berkualitas dan berdampak luas mutlak bersumber dari pemahaman keilmuan yang mendalam dan komprehensif,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya adaptasi pola pikir bagi para dai masa kini. “Ingatlah, orang yang berhenti belajar hanya akan menjadi pemilik masa lalu, tetapi orang yang terus belajar akan menjadi pemilik masa depan. Kita tidak mungkin menjawab problematika zaman modern dengan pola pikir yang kuno. Ilmu merupakan senjata utama; tanpa bekal pengetahuan yang mumpuni, kita ibarat tentara yang maju ke medan perang namun tidak membawa persenjataan,” tegasnya.
“Oleh karena itu, kembali kepada kitab-kitab induk adalah keniscayaan untuk memperkokoh argumentasi dan wawasan. Kita harus memastikan bahwa apa yang disampaikan tidak hanya sekadar retorika yang manis didengar, tetapi memiliki bobot, landasan yang kuat, serta menjadi solusi substantif yang mampu menjawab keresahan masyarakat secara bijaksana,” pungkasnya.
Untuk merealisasikan paradigma tersebut, Paguyuban Da’i Wahdatul Amaliyah (PANDAWA) secara resmi menginisiasi dan meluncurkan program rutin bulanan bertajuk “Silaturahmi dan Ngalogat”. Acara perdana yang mengangkat tema besar “Mutiara Terpendam Kitab-Kitab Klasik” ini berlangsung khidmat di Lembaga Ibadurrohman Kusumahani Al Badriyyah, Kampung Papakmangu, Desa Cibodas, Kecamatan Pasirjambu, pada Sabtu (9/5/2026).
Inisiatif ini hadir bukan sekadar sebagai forum silaturahmi biasa, melainkan upaya strategis untuk merevitalisasi serta menghidupkan kembali khazanah intelektual Islam yang tertuang dalam literatur-literatur klasik. Di tengah arus informasi yang serba cepat, kegiatan ini hadir sebagai jawaban atas kebutuhan penguatan fondasi epistemologis umat, agar warisan nilai luhur para ulama tidak punah tergerus zaman.
Salah satu keunggulan utama yang ditawarkan adalah penerapan metode Ngalogat, sebuah pendekatan pembelajaran yang menekankan pada pemahaman makna dan terjemahan secara langsung, komunikatif, dan aplikatif. Metode ini dipilih agar peserta dapat menangkap esensi dan substansi kitab dengan lebih efektif, sehingga ilmu yang diperoleh dapat diimplementasikan secara nyata dalam kehidupan. (Ask/Id)***





