OpiniPendidikan

Lomba Cerdas Cermat dan Pentingnya Empat Keterampilan Berbahasa

7views

Oleh Muhammad Subhan

Karena  kebenaran (veritas) adalah nilai luhur yng menjadi fondasi objektif untk mengungkap fakta dalam menegakkan keadilan (justisia). Agar mimpi anak-anak tidk dirampas oleh pengambil keputusan karna ini adalah KEBENARAN demi keadilan maka mestinya kedua tim/regu pointnya DISETARAKAN atau keduanya JUARA. KEBENARAN bukan soal minta maaf tapi KEADILAN.  Juri ngasih Alasan Penyebutan DPD ga ada, dan bilang Regu C nyebut DPR.. Dibantah lah regu c, kalau mereka nyebut DPD.. Juri 1 ngotot malah bilang artikulasinya. padahal disini Salah juri yang ga denger baik-baik.. Pengucapan nya pun Jelas.. Secara Artikulasi tuh pengucapan yang jelas. (Ryuu Zoldyck & Martino Hia)

SAYA turut menyimak polemik acara Cerdas Cermat MPR RI di Kota Pontianak yang berlangsung Sabtu, 9 Mei 2026, kemudian viral di media sosial.

Viral karena dugaan terjadinya kecurangan saat juri menyalahkan jawaban peserta Josepha Alexandra dari SMAN 1 Pontianak. Soal dibacakan MC Shindy Lutfiana.

Sementara peserta lain yang menjawab soal yang sama justru dibenarkan juri bernama Dyastasita WB. Padahal, uraian jawaban persis sama seperti yang dikatakan Josepha.

Usai juri membenarkan jawaban Regu B, Josepha menyampaikan protes dan menjelaskan bahwa ia mengatakan hal yang sama dengan regu tersebut.

Juri Dyastasita menyela bahwa jawaban Josepha dari Regu C tidak menyebutkan pertimbangan dari DPD.

“Ada, ada. Tadi saya mengatakan seperti ini, ‘Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh presiden’,” ujar Josepha. Jawaban itu juga diulang Regu B lalu dibenarkan juri.

“Jadi dewan juri tadi berpendapat enggak ada itu Dewan Perwakilan Daerah,” sela Dyastasita.

Saya berulang-ulang mendengarkan jawaban Josepha di video-video yang beredar di media sosial. Josepha sudah menjawab benar seperti yang kemudian dibenarkan juri pada Regu B. Josepha meminta juri mendengarkan pandangan lain dari penonton, lalu disela bahwa keputusan tetap ada di tangan dewan juri.

MC Shindy kemudian menengahi dan menenangkan suasana. Namun, ucapan MC terkesan berpihak kepada juri dengan menyebutkan bahwa juri sudah sangat kompeten dan teliti. Ada pula sebait kalimat yang saya rasa kurang tepat: “Mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja, nanti mungkin bisa dilihat tayangan ulangnya setelah acara selesai,” ujar Shindy.

Tentu, itu bukan soal perasaan, melainkan soal logika ketika jawaban yang benar justru disalahkan, sementara regu lain menjawab sama.

Belakangan, polemik Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat ini memunculkan dugaan adanya gangguan pada pengeras suara yang mengarah ke meja juri.

“Informasi yang saya terima, speaker yang mengarah ke juri mengalami gangguan sehingga jawaban peserta kurang terdengar jelas. Sementara di live YouTube dan ke audiens penonton, suara terdengar jelas,” ujar Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalbar, Syarif Faisal Indahmawan Alkadrie seperti dilansir Kompas.com, Senin (11/5/2026).

Pihak Disdikbud Kalbar juga telah memanggil Kepala SMAN 1 Pontianak beserta tim pendamping LCC untuk membahas persoalan tersebut.

Meski begitu, sekolah diminta tetap menempuh mekanisme resmi dengan mengajukan permohonan peninjauan ulang kepada penyelenggara lomba, yakni MPR RI.

Bagi saya, polemik ini bukan sekadar perkara menang atau kalah dalam perlombaan. Ada pelajaran penting yang dapat dipetik, terutama berkaitan dengan empat keterampilan berbahasa: menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.

Empat keterampilan berbahasa itu selama ini diajarkan di sekolah sebagai dasar seseorang memahami dan menyampaikan gagasan. Menyimak dan membaca disebut keterampilan reseptif karena berkaitan dengan kemampuan menerima informasi. Sementara berbicara dan menulis termasuk keterampilan produktif karena berkaitan dengan kemampuan menyampaikan gagasan.

Kasus Josepha seakan memperlihatkan bagaimana satu keterampilan yang terganggu dapat memengaruhi penilaian terhadap keterampilan lainnya.

Pertama, menyimak. Inilah inti persoalan yang ramai diperdebatkan publik. Jika benar terjadi gangguan pada speaker yang mengarah ke meja juri, maka kemampuan menyimak jawaban peserta menjadi terganggu. Akibatnya, informasi yang sebenarnya sudah benar menjadi tidak diterima secara utuh.

Dalam kehidupan sehari-hari, kegagalan menyimak sering melahirkan kesalahpahaman. Orang merasa sudah mendengar, padahal belum benar-benar memahami. Dalam dunia pendidikan, kekeliruan menyimak dapat berakibat fatal karena menyangkut penilaian, keadilan, dan kepercayaan.

Kedua, berbicara. Josepha telah menunjukkan kemampuan berbicara yang baik. Artikulasinya juga baik. Ia mampu menyampaikan jawaban secara jelas, tenang, bahkan berani mempertahankan argumentasinya ketika merasa dirugikan. Tidak semua pelajar memiliki keberanian seperti itu di depan publik.

Berbicara bukan sekadar mengeluarkan kata-kata, melainkan kemampuan menyampaikan gagasan secara runtut dan meyakinkan. Dalam video yang beredar, Josepha memperlihatkan hal tersebut.

Ketiga, membaca. Kemampuan membaca tidak selalu berarti membaca teks di atas kertas. Membaca juga berarti memahami situasi, membaca aturan, serta membaca konteks persoalan.

Publik yang menyaksikan video polemik itu kemudian “membaca” peristiwa dengan penalaran mereka masing-masing. Mereka membandingkan jawaban Josepha dengan jawaban Regu B, lalu menyimpulkan adanya ketidakkonsistenan penilaian.

Di era media sosial hari ini, masyarakat semakin kritis membaca sebuah peristiwa. Tayangan ulang dapat diputar berkali-kali. Publik dapat menilai sendiri mana yang dianggap tepat dan mana yang dianggap keliru.

Keempat, menulis. Polemik ini telah melahirkan begitu banyak tulisan: berita media massa, komentar netizen, unggahan media sosial, hingga esai opini seperti yang sedang saya tulis ini.

Menulis menjadi ruang untuk menyampaikan pandangan secara lebih jernih dan terukur. Dengan tulisan, sebuah peristiwa tidak berhenti sebagai keramaian sesaat di media sosial, tapi dapat menjadi bahan refleksi bersama.

Karena itu, penguasaan empat keterampilan berbahasa sesungguhnya sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, pendidikan, maupun dunia kerja. Menyimak membantu kita memahami orang lain dengan tepat. Berbicara membantu menyampaikan gagasan secara jelas. Membaca membuka wawasan dan mempertajam nalar. Menulis membantu menuangkan pikiran secara runtut dan efektif.

Jika keempat keterampilan itu dikuasai dengan baik, seseorang akan lebih mudah belajar, bekerja sama, serta membangun komunikasi yang sehat dengan orang lain.

Kasus di Pontianak ini mestinya menjadi pelajaran bagi semua pihak. Bagi penyelenggara lomba, penting memastikan perangkat teknis benar-benar berfungsi baik agar tidak merugikan peserta. Bagi juri, keterbukaan terhadap evaluasi juga penting demi menjaga kepercayaan publik. Jika keputusan juri salah, harus berjiwa besar meminta maaf.

Bagi dunia pendidikan, polemik ini kembali mengingatkan bahwa bahasa bukan sekadar mata pelajaran di sekolah. Bahasa adalah alat memahami, menjelaskan, dan menegakkan keadilan.

Semoga, Josepha Alexandra dan kawan-kawannya mendapatkan keadilan. Tabik buat keberanian dan kecerdasan Josepha. **Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis

Editor : Riantom Muradi

Leave a Response