
KOTA BANDUNG, Bandungpos.id – Dalam upaya memperkokoh eksistensi dan standar mutu pendidikan tinggi di lingkungan organisasi, Lembaga Pendidikan Tinggi Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (LPT PWNU) Jawa Barat tengah melakukan konsolidasi dan penataan strategis. Ketua LPT PWNU Jawa Barat, Prof. Dr. H. Didin Wahidin, M.Pd., memaparkan visi besar tersebut dalam sebuah diskusi mendalam di Gedung PWNU Jawa Barat, Kamis (7/5/2026).
Menurutnya, dinamika pengelolaan perguruan tinggi di lingkungan NU saat ini masih berada pada fase awal penataan. Dari sekitar 70 institusi yang terafiliasi, hanya sebagian kecil yang berada langsung di bawah naungan struktural wilayah, sementara mayoritas masih dikelola oleh yayasan-yayasan mandiri maupun cabang organisasi. Meskipun demikian, ikatan ideologis dan semangat kebersamaan menjadi landasan kuat untuk menyatukan standar mutu di bawah satu payung kebijakan yang terintegrasi.
Fokus utama dari gerakan pembenahan ini diarahkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia dan manajemen kelembagaan. Prof. Didin menegaskan bahwa paradigma pendidikan harus segera bergeser, tidak lagi berorientasi pada sekadar pemberian ijazah, melainkan harus berbasis pada kompetensi dan keahlian nyata. Oleh karena itu, kurikulum akan diarahkan untuk mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki jiwa kewirausahaan dan kemandirian yang tinggi.
Upaya peningkatan kualifikasi dosen menjadi prioritas yang tak terpisahkan. Pihaknya mendorong agar para pendidik memiliki kualifikasi jenjang magister hingga doktor, serta aktif mengejar jabatan fungsional akademik. Hal ini dianggap krusial karena jabatan akademik merupakan indikator objektif yang merefleksikan pengalaman, karya ilmiah, dan kapabilitas seorang intelektual dalam mengembangkan khazanah ilmu pengetahuan.
Sebagai anggota Majelis di Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan (LAMRID), ia juga mengidentifikasi tantangan utama dalam sistem penjaminan mutu. Ketersediaan asesor kompeten dari kalangan internal NU masih tergolong minim, mengingat syarat menjadi asesor mensyaratkan latar belakang dari institusi atau program studi yang sudah berpredikat unggul. Oleh sebab itu, percepatan pencapaian akreditasi unggul menjadi prasyarat mutlak untuk melahirkan ahli-ahli penjamin mutu dari kader sendiri.
Dalam menghadapi era digital dan persaingan terbuka, strategi promosi dan layanan pun harus bertransformasi secara masif. Pemanfaatan platform digital dan media sosial menjadi keniscayaan untuk memperkenalkan keunggulan serta prestasi kampus kepada publik luas. Prof. Didin menekankan bahwa kunci utama menarik minat masyarakat bukan lagi sekadar mengandalkan sentimen organisasi, melainkan bukti nyata kualitas layanan yang mampu melampaui standar nasional pendidikan tinggi.
Visi jangka panjang dari penataan ini adalah menciptakan ekosistem pendidikan tinggi yang sehat, modern, dan berdaya saing global. Dengan dukungan infrastruktur yang memadai serta digitalisasi sistem administrasi, diharapkan perguruan tinggi di lingkungan NU dapat segera meraih predikat unggul yang selama ini menjadi dambaan bersama.
Pada akhirnya, tujuan mulia dari seluruh upaya ini adalah melahirkan sarjana-sarjana yang memiliki integritas keilmuan, karakter kepribadian yang kuat, serta akhlak yang mulia. Lulusan yang dihasilkan diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara, serta menjadi representasi nyata dari kualitas pendidikan Islam yang moderat, inklusif, dan progresif. (Ask/Id)***





